Jumat, 07 Mei 2021

OPOR


OPOR

SAYA SUKA... SAYA SUKA....

 

 

“Assalamualaikum” Terdengar yang mengucap salam di luar.

 

Kami sedang membaca Al Quran, menyicil tadarus dengan harapan dapat khatam dalam sebulan Ramadan ini. Kalau Bunda sih mau yang kedua kali dalam bulan Ramadan ini khatam Al Quran nya.

 

“Bu seperti ada yang mengucap salam” Kataku pada Bunda yang masih mengaji.

 

“Coba lihat mungkin ada tamu.” Jawab Bunda.

 

“Assalamualaikum” Kembali terdengar yang mengucap salam.

 

“Benar Bun ada tamu” Jawabku sambil menyimpan Al Quran. Lantas membuka mukena dan melipatnya kembali, lalu disimpan di atas meja yang khusus disiapkan untuk menyimpan alat salat. Sambil memakai kerudung instan Aku bergegas mendekati pintu dan membukanya.

 

“Waalaikum salam. Eh ada Bu Maryam, silahkan masuk” Kataku menyambut Bu Maryam yang duduk di teras depan. Aku membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Bu Maryam duduk.

 

“Sebentar ya Bu, Saya panggilkan dulu Bunda.” Pamit ku pada Bu Maryam mau memanggil Bunda. Setelah Bu Maryam duduk.

 

“Iya, terima kasih Sayang.” Jawab Bu Maryam sambil menyimpan rantang susun di meja tamu.

 

Aku berjalan menuju musola rumah. Ternyata Bunda sudah selesai membaca Al Qurannya dan sedang melipat mukenanya.

 

“Bun ada Bu Maryam di depan.” Beritahuku pada Bunda.

 

“Ya tunggu sebentar” Jawab Bunda masih melipat mukenanya.

 

Tak lama Bunda ke depan dan Aku mengikuti dibelakangnya.

 

“Eh ada Bu Maryan, bagaimana sehat?” Tanya Bunda sambil bersalaman.

 

“Alhamdulillah sehat, Bu Aisyah sekeluarga juga sehat?” Bu Maryam balik bertanya.

 

“Alhamdulillah Kami juga sehat.” Jawab Bunda lagi.

 

“Langsung saja ya takut keburu sore. Oh iya ini saya mau ada keperluan, pertama saya mengucapkan terima kasih, masakannya yang kemarin sore yang diantar oleh Alisyia enak sekali, dagingnya empuk, walau saya dan bapak giginya sudah tinggal beberapa masih bisa menikmati dan tidak pedas jadi aman diperut saya dan Bapak.” Jelas Bu Maryam panjang lebar.  

 

“Oh Alhamdulillah kalau begitu, saya senang masakan saya bisa dinikmati oleh Bapak dan Ibu.” Jawab Bunda.

“Dan ini masakan Ibu, semoga dapat diterima dan rasanya juga tidak mengecewakan.” Lanjut Bu Maryam sambil menyerahkan rantang susun berwarna putih.

 

“Oh terima kasih jadi merepotkan” Jawab Bunda sambil menerima rantang dengan gambar buah apel.

 

“Kak ini pindahin tempatnya langsung cuci dengan bersih ya.” Bunda menyerahkan rantang padaku.

 

Aku pun menerima rantang yang diserahkan Bunda dan berjalan ke ruang makan.

 

“Wah ada opor” hampir saja Aku berteriak kegirangan melihat opor ayam dengan goreng bawang di atasnya. Wanginya semerbak langsung paralel pada perut yang terasa melilit.

 

“Astagfirullah, ingat, ingat waktu berbuka masih jauh, tahan, tahan itu godaan syetan,” Aku membujuk diri sendiri dalam hati.

 

Rantang pertama opor ayam aku pindahkan pada mangkuk besar. Rantang kedua ada bihun dengan wortel, jamur kuping, dan brokoli. Rantang ketiga tempe dengan kacang panjang . Dan yang terakhir kerupuk warna-warni yang Aku pindahkan pada toples bersih.

 

Setelah selesai Aku mencuci rantangnya, lalu dilap dengan serbet bersih. Kemudian Aku menyusun kembali seperti asalnya. Ku bawa lagi ke depan menghampiri Bunda dan Bu Maryam yang masih mengobrol.

 

“Sudah selesai Kak?” Tanya Bunda padaku yang menghampirinya.  Aku mengangguk dan menyimpan rantang tadi di meja.

 

“Kak, Bu Maryam minta tolong agar Kakak mau mengantar makanan yang Bu Maryam masak pada tetangga. Kaya kemarin Bunda.” Pinta Bunda sambil memegang tanganku.

 

“Iya Nak, tolong ya. Kalau Ibu yang mengantar, Ibu suka pegal-pegal kalau berjalan terlalu jauh. Nyuruh bapak nggak mau katanya masa bapak-bapak mengantar makanan, malu katanya. Terus mau menyuruh Ibu-ibu tetangga kasian mereka harus menyiapkan untuk berbuka keluarganya. Jadi tolong ya Nak.” Bu Maryam memohon padaku sambil  menangkubkan kedua tangannya di depan dada.

 

“Kalau Bunda mengizinkan Kakak sih dengan senang hati mau membantu.” Jawabku santai.

 

“Boleh Kak, malah Ibu juga senang kalau Kakak mau membantu dan berbuat baik pada orang lain.” Jawab Bunda lagi.

 

“Kalau begitu sekarang Nak Alisyia ikut dengan Ibu ke rumah, ya. Bu permisi terima kasih, maaf telah merepotkan. Dan Nak Ais nya Ibu pinjam dulu.” Pamit Bu Maryam.

 

“Iya Bu, terima kasih kembali, jangan sungkan kalau perlu apa-apa datang saja ke sini. mudah-mudahan Kami bisa membantu.” Jawab Bunda.

 

Aku pun berangkat mengikuti Bu Maryam menuju rumahnya. Setelah salam pada Bunda.

  

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Opor

 


 

Kamis, 06 Mei 2021

Rendang


RENDANG

DARK BROWN CARAMELIZEO MEAT

 

Azan Asar berkumandang di Masjid Kampung memanggil umat Islam untuk menghadap pada Sang Penciptanya.

“Alhamdulillah sudah Asar lagi, yu kita salat dulu. Kakak langsung mandi saja, nanti mengantar makanan sama Adik. Tuh Adiknya suruh mandi juga.” Intruksi Bunda.

“Oke” Aku pun berlari menjauh dari dapur bersiap mau mandi dan salat.

“Dik mandi dulu kata Bunda, nanti anterin makanan sama Kakak.” Ajakku pada Adik.

“Ayo pintar yu!” Ajak Ayah juga.

 

Kami berkumpul di Musola rumah dan melaksanakan salat Asar berjamaah. Setelah salat, Aku bersiap merapikan kerudung dan pakaianku.

“Kak sudah selesai belum, Ini bawaannya sudah siap.” Kata Bunda dari ruang makan.

Aku mendekati meja makan sudah tercium baru harum masakan Bunda. Terlihat ada rendang, capcay, kentang goreng, dan semur jengkol ciri khas masakan Bunda.

“Ini ke rumah Bu Aminah, dan ini Adik ke rumah Bu Idah ya” Bunda memberi petunjuk.

Aku dan Adik berangkat membawa masakan untuk tetangga yang paling dekat dulu.

Aku membawa dalam nampan, sedangkan Adik membawanya di rantang susun. Karena Bunda hanya punya satu rantang susun.

 

Ya mungkin ini tradisi kampung Kami. Seminggu sebelum lebaran sudah mulai ada yang berbagi. Kadang seperti di jadwal, padahal tidak ada yang memberi jadwal. Tujuh hari mines hari Raya Idul Fitri di kampung silih bergantian berbagi masakan.

 

Kata Bunda kalau dulu suka bareng semuanya berbagi pada hari mines satu hari raya. Jadi banyak masakan yang tidak termakan, akhirnya mubadir berakhir jadi makanan binatang. Tidak langsung dibuang sih tapi manfaatnya berkurang dari niat awalberbagi.

Maka Bunda berinisiatif untuk berbagi masakan di hari minus tujuh dari hari raya. Ide ini kemudian ditiru oleh tetangga lainnya, ada yang minus enam, minus lima, ninus empat, minus tiga dan minus dua. Sehingga pada minus satu dan hari raya tidak berbagi masakan lagi karena masing-masing sudah masak sendiri-sendiri.

Kalau pun ada biasanya berbagi buah atau kue kering, tapi ada juga penganan yang masih mentah seperti: ranginang, enye, opak atau dapros. Itulah tradisi berbagi di kampung kami.


#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Rendang


 

Rabu, 05 Mei 2021

Nastar

 


NASTAR

RASANYA YANG UNIK MEMBUATKU...


 

“Assalamualaikum, Bunda.... Bunda...” Adik masuk rumah setelah bermain bersama temannya dengan heboh memanggil Bunda. 

“Waalaikum salam, ya Nak, Bunda di ruang jahit.” Bunda merespon kehebohan Adik.

“Bunda Adik mau kue nastar” Adik langsung mengadu.

“Lah ...lah kan lagi saum, kenapa tiba-tiba minta kue nastar?” Tanya Bunda keheranan.

“Itu Mamanya Atang lagi buat kue nastar, baunya wangi kayanya enak deh, Adik jadi mau.” rengek Adik pada Bunda.

“Oooh begitu, tapi kan Adik lagi saum?” Tanya Bunda lagi sedikit menggoda.

“Maksud Adik,  kita buat kue nastar yu sekarang.” Ajak Adik pada Bunda.

“Oh Ayo, ajak Kakak gih bantu membuat kue nastar. Bunda membereskan dulu tempat jaitannya.” Suruh Bunda

“Oke” sahut Adik mengacungkan jempolnya. Lalu berlari ke Kamarku sambil berjingkrak kegirangan.

 

“Kakak, kakak, ...” Panggil Adik heboh.

“Heh ya ada apa” jawabku menghentikan tulisanku di buku diari.

“Kata Bunda bantu membuat kue nastar” balas Adik.

“Heh membuat kue nastar, asyiiik kita buat nastar” Teriakku kegirangan. Aku menutup buku yang sedang Aku tulis dan merapihkan mejaku kembali.

 

Kami bergerak jalan ke dapur mendekati Bunda yang sudah ada disana.

“Kak coba cek bahannya sudah lengkap belum?” Pinta Bunda sambil menunjukkan kearah meja.

“Oke” Kataku sambil mengacungkan jempol, mendekati meja makan. Disana sudah ada bahan-bahan untuk membuat kue yang sudah Bunda siapkan.

 

“Terigunya 300 gram, margarin dan batter masing-masing 100 gram, maizena 60 gram, susu bubuk 30 gram, gula halus 50 gram, 2 butir kuning telur, 1 kuning telur untuk olesan,  minyak sayur 1 sendok  makan, 1 sendok makan madu.” Bunda menyebutkan bahan-bahan untuk membuat nastar.

“Oke Bun, bahan-bahan sudah oke semuanya” balasku menyakinkan Bunda.

 

“Adik tolong ambilkan selai nanasnya di lemari pendingin.” Pinta Bunda pada Adik.

‘Oke” balas Adik sambil berjalan mengambil selai nanas, dan kembali sambil membawa toples selai nanas , lalu menyimpannya di meja.

 

“Ini tempatnya.” Bunda memberikan wadah untuk mengaduk bahan nastar. Aku mengambilnya dan menyimpannya di atas meja makan.

 

“Masukkan 2 butir kuning telur, batter, gula bubuk, dan margarian.” Pinta Bunda lagi.

“Sudah Bun” balasku.

 

“Biar Bunda saja yang ngocok, Kakak geser sedikit.”Pinta Bunda yang sudah siap dengan mixer. Kurang lebih satu menit Bunda mengocok kemudian mematikan mixernya. Mencabut kabel strum lalu membersihkannya. Dan menyimpan mesin mixer agak jauh dari meja makan.

 

“Kak masukkan tepung maizena dan susu bubuknya.” Pinta Bunda padaku sambil terus mengaduk adonan. Aku pun mengikuti instruksi Bunda.

 

“Kak tepung terigunya di ayak dulu, tempatnya dialasi pakai kertas yang bersih” Suruh Bunda.

“Dik, ambil kertas HVS yang bersih 2 lembar di meja kerja Ayah.” pinta ku pada Adik sambil berjalan mengambil ayakan tepung.

 

“Ini” Adik memberikan 2 lembar kertas HVS padaku. Aku pun menerimanya lalu menyimpannya di atas nampan, tempat untuk mengayak tepung terigu yang Bunda minta. Aku pun mengayaknya dengan perlahan dan hati-hati.

 

“Kak,masukan tepungnya sedikit-sedikit pada adonan yang sedang Bunda uleni.” Perintah Bunda padaku. Aku pun mengikuti instruksi yang Bunda berikan. Memasukkan terigu yang sudah diayak sedikit demi sedikit hingga habis.

“Nah sekarang tinggal dibentuk, Adik kalau mau ikut membuat kuenya cuci lagi tangannya.” Perintah Bunda pada Adik. Adik pun menurut lalu mencuci tangannya di wastapel.

 

“Aku mau membentuk yang seperti bunga.” Spontan Aku mengemukakan ide.

“Kalau begitu ambil dulu cetakannya di lemari lalu cuci dengan bersih.” Pinta Bunda padaku.

 

Aku berjalan mendekati lemari mengambil cetakan lalu mencucinya hingga bersih. Kemudian mengelapnya supaya cepat kering.

 

“Kak olesi dulu cetakannya dengan margarin, kuasnya ada di tempat sendok.” Pinta Bunda lagi. Sesudah selesai mengelap cetakan. Aku mengambil kuas di tempat sendok, lalu mengolesi cetakan dengan margarin seperti yang Bunda pinta.

 

Bunda sudah selesai meratakan adonan menjadi lembaran kurang lebih setengah ins. Lalu memberikannya padaku.

 

“Nih Kak tinggal dicetak pakai cetakan yang ini, lalu masukkan pada cetakan yang ini. kemudian nanti Adik yang memasukkan selai nanasnya satu sendok kecil saja ya, simpan ditengah-tengah.” Bunda menjelaskan cara mencetak adonan nastar yang akan dibuat.

 

Kami membuat kue nastar dengan senang. Bunda yang mengeleng hingga adonan berbentuk lembaran, lalu Aku mencetaknya seperti bunga dan menyimpannya dalam cetakan kecil, sedangkan Adik memasukkan selai nanasnya, kemudian kembali pada Bunda untuk memanggangnya dalam oven. Setelah dipanggang kurang lebih sekitar 20 menit, kue dikeluarhan dari oven dan didinginkan diganti dengan kue yang baru. Setelah kue yang tadi dingin lalu diolesi kuning telur dan ditaburi parutan keju lalu dipanggang lagi kurang lebih 8 menit.

 

“Emmm Bun baunya sudah wangi” Kata Adik sudah mencium wangi kue nastar yang sedang dipanggang.

“Sebentar lagi belum matang betul” terang Bunda menanggapi perkataan Adik.

“Kalau Adik mau mencoba nanti kalau sudah selesai semua dan kuenya sudah dingin. dan makannya jangan di depan Kakak juga. Kasian nanti Kakak tergoda dan mau membatalkan saumnya.” Goda Bunda sambil melirik ke Arahku.

 

“Enggaklah, mana mungkin hanya dengan wangi nastar sampai membatalkan saumku, nggaklah sayang sekali. kalau hanya godaan nastar kecil.” Kataku menanggapi candaan Bunda sambil mengerakkan ibu jari di jari kelingking menegaskan kata kecil dengan gestur tubuh.

“Bercanda, Bunda yakin kok Kakak pasti kuat, tahan terhadap godaan.” Tambah Bunda sambil tersenyum.

 

Karena dilakukan sambil bercanda dan hati senang tanpa terasa sudah terdengar kumandang Azan salat Duhur dari Masjid.

 

“Alhamdulillah sudah Duhur lagi. Ayo tunda dulu, sambil menunggu kue yang sedang dioven matang, kita rapihkan dulu yang ini. Kita lanjutkan nanti setelah salat Duhur.” Perintah Bunda.

 

Aku dan Adik bergegas menuju wastapel untuk mencuci tangan.  Kemudian berwudu di kamar mandi secara bergantian.  Tak lama Kami sudah siap melaksanakan salat Duhur bersama Bunda yang menjadi Imam.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Nastar


Selasa, 04 Mei 2021

i'tikaf



I'TIKAF

MENJEMPUT LAILATUL QADAR DI 10 MALAM TERAKHIR

 

 “Assalamualaikum” Ayah baru saja datang dan mengucapkan salam.

“Waalaikum salam” Jawabku dan Bunda berbarengan.

“Ayah  mandi dulu dan langsung salat duha ya.” Pamitnya padaku, Bunda mengikutinya dan biasanya menyiapkan pakaian ganti untuk ayah dan diletakkannya di atas tempat tidur.  Lalu kembali melanjutkan membaca Al Quran brsamaku.

 

Tak lama Ayah masuk kedalam  dengan rambut basah setelah dikeramas.  Aku memelankan suara bacaan Al Quranku, ketika ayah mau salat duha. Setelah dzikir dan berdoa ayah mengakhiri salatnya.

 

“Yah, kata Mama Ayah beri’tikaf di Masjid, apa sih i’tikaf itu?” Tanyaku penasaran.

 

“I’tikap yaitu berdiam dirinya seorang muslim di Masjid yang boleh didatangi oleh orang lain. Diiringi dengan saum dan menjauhi jimak dalam sehari semalam atau lebih. Dengan tujuan beribadah kepada Allah.

 

‘Terus apa saja yang dilakukan di masjid pada saat i’tikaf ? “ Tanyaku lagi pada Ayah.

 

“Ya mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai amalan, seperti membaca Al Quran, salat sunnah dan salat wajib juga, bersalawat, dzikir” tutur Ayah dengan lemah lembut menjawab pertanyaanku.

 

“Terus syarat dan rukunnya beri’tikaf itu apa?” Tanyaku lagi semakin penasaran.

“Syarat dan rukunnya, pertama Islam, kedua berakal sehat, bertempat diMasjid, suci dari hadast besar dan kecil, ada izin dari suami jika perempuan yang sudah menikah.” Ayah dengan telaten menjelaskan padaku.

 

“Apakah i’tikap dapat dilakukan di rumah?” Tanyaku lagi semakin penasaran.

“Bisa juga dilakukan di rumah terutama bagi perempuan.” Jelas Ayah lagi.

“Selanjunya apa saja yang membatalkan itikaf?” Kembali Aku bertanya.

 

“Pertama Murtad, kedua sengaja keluar dari Masjid, hilang akal, datangnya haid atau nifas. berjimak, melakukan dosabesar.” Tutur Ayah lagi dengan sabar.

 

“Kapan i’tikap dapat dilakukan?” Susulku bertanya lagi.

“Ya lebih apdol di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, itu waktu yang tepat untuk beritikaf.  

 

“Terima kasih Ayah, semua materinya sudah Aku catat disini.” Kataku sambil mengacungkan buku harianku, mengakhiri pertanyaan ku pada Ayah.

 

“Hemm” Ayah hanya mendehem sambil mengusap puncak kepalaku sambil berlalu meninggalkan musala kecil di dalam rumah kami.


#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

# I’tikaf 
 

Minggu, 02 Mei 2021


MI INSTAN

SATU BENTUK SEJUTA RASA

 

Aroma mi instan menyeruak memenuhi ruangan dan menyusup masuk ke kamar tidurku. Aku yang tertidur setelah kelelahan bermain, terbangun gara-gara menghirup wangi mi yang menggoda. Ah ini pasti Adik yang sedang berbuka pikirku, menggoda iman saja.

 

Aku bermaksud melanjutkan tidurku, tapi setelah beberapa lama tak bisa tidur lagi. Aku melihat jam dinding yang menempel ternyata telah jam 12.  Ah, pantas Adik sudah berbuka sudah Duhur rupanya, pikirku lagi.

 

Perlahan Aku bangun dan meregangkan otot-otot sambil mengumpulkan kesadaran. Mengambil handuk bermaksud ke Kamar mandi yang ada di dekat dapur. Saat melewati ruang makan ternyata benar,  Adik sedang makan mi instan yang Ibu buatkan. Terlihat selintas mi dengan sawi dan juga telur, ahhh  benar-benar menggoda.

 

Aku teringat cerita Paman yang anak kuliahan dan harus kos karena jauh dari sanak saudara. Makan mi hampir tiap hari, kalau tidak karena waktu yang kepepet juga karena kondisi keuangan yang kepepet.

 

Bunda sudah mengingatkan jangan tiap hari juga. Tapi apa boleh buat katanya, demi mengejar target tugas yang banyak dengan waktu mepet, dari pada harus mengulang karena tidak mengumpulakan tugas. Yaaa mi instan menjadi alternatif kala waktu dan keadaan keuangan yang mepet. Nanti Aku juga mungkin seperti itu ya? lamunanku.

 

Oh iya, kalau Aku senang dengan semua jenis mi instan. Tapi yang paling Aku senangi adalah mi kuang rasa kari dan mi goreng. Bagaimana dengan kalian ?


Sudah ah jangan lama-lama bahas mi instan nanti tergoda oleh syetan, inikan masih pagi. Masih lama pula untuk waktu berbuka. Ha ha ha ...


Cepat-cepat Aku mengguyur kepala dan tubuhku dengan air dingin, agar lamunanku tak berkepanjangan. Ahhhh seger.

 

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#MiInstan


 

Agar-agar

 



AGAR-AGAR

LIMA MENIT AJA UDAH HABIS

 

Hari ini Minggu 2 April 2021 kembali Aku dan keluarga menyusuri jalan kereta api. Sejak jam enam pagi tadi Kami sudah keluar menikmati udara yang segar. Kembali Kami akan menyusuri jalan kereta api jalur biasa yang selalu Kami lalui. Seragam yang Kami pakai hari ini berwarna navy warna kesenangan ayah pavorit sejak muda katanya. 

Dengan variasi sederhana cukup dua garis kecil di tangan juga di trainingnya. Tak lupa ada nama di bekalang dipunggung Ayah ada tulisan “Ayah” di punggung baju Bunda ada tulisan “Bunda” di punggung bajuku ada tulisan “Kakak” dan di punggung baju Adik ada tulisan “Adik”. Bagaimana keren nggak sih keluarga kami???? hi hi hi hi

Udara pagi semakin hangat, selain mentari yang sudah mengintip dibalik gunung, juga badan Kami sudah mulai berkeringat. Kalau tadi saat baru keluar, Adik memainkan mulutnya dengan mengeluarkan udara “Hah” terlihat seperti asap, sekarang sudah tak terlihat lagi.

 

Keseimbangan badanku mulai terlatih, terlihat sekarang Aku bisa berjalan di rel kereta api tanpa berpegangan dan jaraknya sudah agak jauh. Hemm perkembangan yang cukup memuaskan.

“Bun menu berbuka nanti apa?” tiba-tiba Adik bertanya pada Bunda.

“Heh masih pagi, baru juga jam 7 sudah bertanya menu berbuka.” Jawab Bunda menanggapi pertanyaan Adik.

“Biasa Bun bawaan perut kalau sudah haus atau lapar, imajinasikan berkembang biak. He he he he “ timpalku meledek Adik.

“Kayanya seger ya kalau makan agar-agar?” imbuh Adik lagi. Imajinasinya semakin liar tak berpengaruh dengan sindiranku.

“Benerkan Bun !” timpalku lagi. Bunda hanya tersenyum menanggapi ocehanku.

“Bun nanti Adik mau yang beruang sama kelinci ya agar-agarnya?” tambah Adik imajinasinya semakin jauh.

“Iya boleh, nanti Adik dibantu sama Kakak saja yang membuat agar-agarnya. Supaya sesuai dengan selera Kalian.” Kata Bunda.

“Bun, Adik mau...” Adik tak melanjutkan pembicaraannya.

“Sudah, jangan dulu membicarakan makanan, nanti malah makin lapar. Ayo tuh Ayah sudah jauh Kita susul yu!” Bunda memotong pembicaar Adik dan mengalihkan perhatiannya ke Ayah yang sudah ada agak jauh di depan Kami.

Dan Kami pun berlari mencoba mengejar Ayah. Jadi bener-bener mau agar-agar aaaahhhhhh.

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Agar-Agar


Sabtu, 01 Mei 2021

Lailatul Qadar

 


#RWCODOP2021 #DAY19

LAILATUL QADAR

DI 10 MALAM TERAKHIR

 

Bun, Ayah kemana kok tak kelihatan?” Tanyaku pada Bunda yang sedang menyapu. Karena biasanya jam seperti ini Ayah sedang bersih-bersih halaman.

“Ayah sedang I’tikaf di Masjid tidak pulang.” Jawab Bunda.

“Memangnya Ayah tak ke kantor?” Tanyaku lagi sambil menulis cerita.

“Tidak, sebelumnya Ayah sudah minta izin pada Bunda mau mengambil cuti kerja. Katanya mau memaksimalkan waktu sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan ini dengan pokus beribadah.” Bunda menjelaskan.

 

“Memangnya apa sih Bun keistimewaan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan sampai Ayah mengambil cuti kerja?” Tanyaku penasaran.

 

“Heh, Kakak tahukan istilah Lailatul Qadar? Coba jelaskan apa itu Lailatul Qadar?” Tanya Bunda padaku bernada menguji.

“Malam Lailatul Qadar adalah malam turunnya ayat- ayat pertama Al Quran kepada Nabi Nabi Muhammad SAW.” jawabku mantap.

 

“Bagus!”kata Bunda sambil mengacungkan jempolnya.

“Terus keutamaan Lailatul Qadar apa? Sudah belajar belum di Sekolah?” Tanya Bunda lagi.

“Aku geleng-geleng kepala.” Sambil menatap Bunda penasan.

 

“Baiklah, akan Bunda jelaskan. Kakak dengar baik-baik ya!” pinta Bunda lagi. Lalu menyandarkan sapu yang dipegangnya dan duduk di tempat tidurku. Aku semakin penasaran yang asalnya duduk di kursi belajar menghadap meja, memutar kursi menjadi menghadap pada Bunda.


“Seperti yang diceritakan para Ulama dalam ceramah-ceramah yang selalu Bunda dengarkan. Keutamaan malam Lailatul Qadar adalah:

1.      Malam turunnya Al Quran ( S. Al Qadar ayat 1) Artinya “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Quran) pada malam qadar.”

2.      Malam lebih baik dari seribu bulan. (S. Al Qadar ayat 3-4) Artinya “Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”

3.      Membawa kedamaian (S. Al Qadar ayat 5) Artinya “Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”


“Nah, kalau amalan yang dilakukan umat Islam pada saat malam Lailatul Qadar diantaranya:

1.      Salat wajib dan salat sunah

2.      Memperbanyak Dzikir

3.      Membaca Al Quran

4.      I’tikaf  di Masjid

5.      Bersalawat

6.      Memperbanyak berdoa

7.      Memperbanyak sedekah

8.      Bersuci lahir dan batin.


“Nah Ayah mengambil cuti kerja mau memaksimalkan amalan-amalan itu di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ini.” Jelas Bunda panjang lebar. Aku hanya melongo mendengarkan penjelasan Bunda.

 

“Sudah dulu ya, Bunda mau melanjutkan pekerjaan.” Kata Bunda meninggalkanku sambil membawa sapunya mau melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

 

Aku hanya mengangguk, membiarkan Bunda meninggalkan kamarku. Dan tak terasa karena mengejar asa, berburu mengejar waktu, dua puluh hari Ramadan telah berlalu. Tersisa sepuluh hari ke depan akankah masih tetap sama. Semuanya berlalu tanpa makna?

Apakah kita yakin Ramadan tahun depan kita masih akan bersua??? wallahualam.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#LailatulQadar

 


”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...