Senin, 07 Oktober 2019

Hati yang tertawan





HATI YANG TERTAWAN

Selepas ujian teman-teman Fitri pada sibuk mengumpulkan informasi mengenai Perguruan Tinggi. Baik melalui brosur maupun melalui blog di internet. Ada juga mahasiswa-mahasiswa yang promosi datang ke sekolah. Kegiatan Belajar Mengajar sudah tidak terlalu ketat.

“Neng maaf kalau ruang kepala sekolah dimana yah?” tiba-tiba ada suara berat terdengar dari belakang.

Fitri menghentikan langkahnya menoleh ke belakang lalu melihat sekeliling setelah yakin tidak ada orang lain lagi disitu baru menjawab.

“Ooohhh... eengh di sebelah sana Kak!” jempol kanannya menunjuk, sedangkan tangan kirinya penuh memeluk buku perpustakaan yang akan dikembalikannya.

“Mari saya antar, kebetulan saya juga mau ke Perpustakaan ruangannya bersebelahan dengan perpustakaan”. Fitri menawarkan diri.

Kemudian mereka berjalan beriringan menuju ruang kepala sekolah.

“Assalamualaikum....” Fitri mengucapkan salam

“Waalaikum salam” Bu Noni menjawab sambil membawa buku matematika hendak ke kelas.

“Bu, Kepala Sekolah ada? Ini ada tamu yang mau bertemu kepala sekolah” tanya Fitri pada Bu Noni. 

“Oh kepala sekolah lagi keluar dulu, tapi nanti balik lagi ke sini sebab ada jadwal menjadi imam dan memberi tausiah shalat dhuhur di Mesjid sekolah”. Bu Noni menjelaskan.

“Bagaimana? Mau pulang lagi atau mau ditunggu?” Bu Noni bertanya pada tamunya.

“Ditunggu saja Bu, kalau balik lagi saya lebih lama lagi nantinya” jawab tamunya.

“Baiklah kalau mau ditunggu silahkan duduk, Fit... kamu temenin tamunya ya ibu mau ke kelas dulu” Bu Noni memberi perintah.

“Kak daripada nunggu disini lebih baik nunggunya di perpus yu bisa sambil baca-baca.” Fitri memberi usul.

“Oh iya ayo” tamunya kembali berdiri setelah tadi duduk beberapa saat.

“Bu katanya nunggunya mau di Perpus aja bisa sambil baca-baca.” Kata Fitri sambil berjalan menuju perpus.

“Oh iya boleh-boleh” kata Bu Noni sambil mengikuti berjalan mau ke kelas.


***

“Assalamualaikum...”Fitri kembali mengucapkan salam setibanya di depan pintu Perpus yang terbuka. 

“Waalaikum salam” terdengar jawaban lembut dari dalam.

Ketika Fitri masuk tak terlihat ada siapa-siapa terdengar suara kaki berjalan mendekat dibalik rak-rak buku.

“Hai Fit, bagaimana sehat?” sapa Bu Hamdah yang keluar dari balik rak-rak buku yang memenuhi ruangan.
Bu Hamdah sudah kenal betul dengan Fitri. Fitri anak yang rajin. Hampir setiap istirahat Fitri pasti ada di Perpustaan.  Kalau tidak merangkum buku pelajaran ya membaca novel, majalah atau koran. Kadang-kadang kalau tidak ada tugas mendesak, Fitri juga suka membantu menuliskan buku yang dipinjam atau dikembalikan oleh teman-temannya yang datang ke Perpustakaan. Fitri menjadi murid pustaka.

“Eeehhh ini siapa?” Bu Hamdah bertanya penuh selidik.

“Ini Kak.... “ Fitri tak melanjutkan kata-katanya. 

“Fadlan,” kata Fadlan menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. 

“Oh saya Hamdah” sambut Bu Hamdah sambil menyambut tangan Fadlan yang mengajaknya bersalaman. 

“Ini Bu, Kak Fadlan ini mau ada perlu kepada kepala sekolah. Kata Bu Noni tadi kepala sekolah sedang keluar ada kepentingan dulu, tapi akan ke sini lagi karena ada jadwal jadi imam shalat dhuhur di Masjid sekolah. Jadi Kak Fadlan ini mau menunggu di sini sambil baca-baca.” Fitri menjelaskan.

“Bolehkan Bu?” Fitri minta persetujuan Bu Hamdah.

“Oooh boleh-boleh silahkan” Bu Hamdah mempersilahkan.

“Terima kasih” jawab Fadlan membungkukkan badannya.
Fitri menyimpan buku yang tadi dibawanya, lalu mengantar Fadlan ketempat duduknya.

“Silahkan Kak, kalau mau baca tinggal pilih aja buku yang diminati atau hanya melihat-lihat aja juga tak apa-apa, saya permisi mau membantu Bu Hamdah, nanti kalau bapak kepala sekolahnya sudah ada saya kasih tahu lagi” Fitri minta diri.

“Terima kasih ya dek Fit.. Oh iya kita belum kenalan“ kata Fadlan sambil mengulurkan tangannya.

“Fitri....sama-sama” jawab Fitri sambil menyambut uluran tangan Fadlan. Kemudian kembali ke meja Bu Hamdah.


***

“Kak.... bapak kepala sekolahnya sudah datang tapi langsung siap-siap mau ke Masjid, sebaiknya kakak ikut shalat berjamaah deh nanti selesai shalat dan berdoa kakak bisa langsung menemuinya di Masjid jadi tidak perlu menunggu lagi”. Fitri memberitahukan Fadlan. 

“Oh iya terima kasih” sambil berdiri bersiap-siap meninggalkan mejanya dan melangkah.
 Baru juga selangkah kembali membalikan badan dan bertanya
“Eh dek Fit, Masjidnya sebelah mana ya” tanyanya.

“Dari sini lurus saja ke bawah, nanti akan ketemu” Fitri menjelaskan. 
“Terima kasih.” Kata Fadlan sambil meninggalkan Fitri.
***
Fadlan adalah laki-laki pertama yang dikenalnya selain teman-teman sekolahnya. Fitri kurang pandai bergaul, kata-katanya pun sangat terbatas bila bertemu dengan orang lain. Fitri lebih banyak membaca dari pada berbicara. Kalau tidak ditanya Fitri kurang berani untuk berbicara, kalau ditanya baru Fitri mau menjawab. Selebihnya Fitri diam dan hanya menyimak saja bila teman-temannya sedang bergosip.

Setelah perkenalannya dengan Fadlan, Fitri lebih pandai merangkai kata-kata. Entah itu bentuk puisi atau bentuk cerita. Buku hariannya penuh dengan tulisan dan rangkaian kata-kata berbunga. Menggambarkan sosok Fadlan dari ujung rambut sampai ke kaki, padahal hanya bertemu sepintas. Dari model rambut sampai warna sepatu diurai lengkap dan mendetail tak terlewat.

Dan yang paling menakjubkan Fitri menggambarkan harapan dan angan-angan kalau Fadlan menjadi pacarnya. Laki-laki yang tampan, sopan, perhatian, jujur, tidak sombong dan romantis. Dan yang paling utama Fadlan mau menjadi pacarnya bahkan menjadi suaminya kelak. 

Itulah angan-angan yang memenuhi buku hariannya. Kadang Fitri tersenyum-senyum sendiri di depan bukunya. Dengan bebas Fitri mengekpresikan segala harapan dan impiannya dalam bentuk tulisan. Kerinduannya ditumpahkan dalam rayuan-rayuan gombal yang ditulis dalam bentuk surat yang tak pernah dikirimkan. Rasa cintanya dituang dalam puisi yang tak pernah dibacakan.

Cinta yang digambarkan Fitri pada Fadlan adalah cinta tulus. Cinta yang tak mengharapkan balasan. Cukup senang dan puas walaupun hanya tertuang dalam kata-kata. Rindu yang digambarkan rindu tak bertepi, yang ditumpahkan dalam tulisan-tulisan romantis penuh rasa, rindu pada pacar bayangan yang digambarkan dengan sempurna.

Dan kata-katanya romantisnya semakin produktif bila Fitri mendengar lagu “Arti Kehidupan” karya Doel Sumbang. Seakan-akan benar-benar Fadlan telah menjadi pacarnya yang semakin lama semakin rindu ingin bertemu. Pacar pujaan yang tak dapat digantikan dengan yang lain.

Tapi anehnya, disisi lain tulisannya juga ada curahan hati sisi aslinya yang ada kekhawatiran, kalau cinta yang tumbuh dalam hatinya bertepuk sebelah tangan. Ada rambu-rambu agar tidak kehilangan kendali bila suatu saat menemukan kenyataan yang tidak sesuai dengan angan dan impian. Mungkin membingungkan bagi yang tak mengalami. Tapi bagi Fitri itulah belajar arti kehidupan melambungkan angan setinggi keinginan tapi tetap sadar akan kenyataan yang dihadapi.

Terima kasih.

Minggu, 06 Oktober 2019

BERMAIN BOLA


BERMAIN BOLA




            Sepulang sekolah Faza Azzafran  diikuti oleh teman-temannya. Mereka bermain bersama di halaman rumah. Mereka naik jambu yang ada di samping rumah. Kebetulan pohon jeruk buahnya masih kecil-kecil. Jadi mereka tidak bisa mengambilnya. Padahal mereka mau ikut ke rumah Faza mau berburu buah jeruk.

Ardi berada di pohon jambu jamaika yang agak tinggi. Kelihatannya Ardi sudah terbiasa memanjat pohon, dia sangat terampil sekali memanjatnya. Ardi duduk santai didahan pohon jambu jamaika sambil memakan jambu kelutuk. Sedangkan Jalu berada di pohon nangka, dia bersandar di dahan pohon nangka yang teduh sambil memakan jambu kelutuk juga. Adapun Faza dan Arkan berada dipohon jambu batu yang tadi diambil buahnya oleh Ardi. Sambil berbincang sesuatu permainan diseling dengan makan jambu kelutuk.

“Hai kita main bola yu!” ajak Ardi yang sudah turun lagi dari pohon jambu jamaika.

“Ayo mana bolanya?” tanya Arkan yang masih santai duduk di pohon jambu kelutuk.

“Ada, sebentar aku ambil dulu.” Tambah Faza sambil turun dari pohon jambu kelutuk.

“Hai Jalu ayo turun kita main bola.” Ajak Faza berteriak melihat Jalu yang masih santai di pohon nangka. Faza membawa bola plastik ukuran sedang berwarna merah sambil diputar-putar dengan tangannya.

“Karena Cuma berempat nih kita main gol-golan aja ya, nomor satu yang mendang nomor dua jaga gawang, jika nomor dua nendang nomor tiga jaga gawang, selanjutnya nomor tiga nendang nomor empat jaga gawang, nomor empat nendang nomor satu jaga gawang.” Kata Ardi menjelaskan aturan mainnya.

“Sekarang kita hom pim pah.” Ajak Ardi sambil mengedepankan tangan kanannya. Semuanya berkumpul dan mengayunkan tangannya bersamaan sambil berkata hom pim pah.

“Aku nomor satu.”Kata Jalu sambil keluar lingkaran. Yang lain mengulangi lagi hom pim pahnya.

“Aku nomor dua.” Kata Faza keluar lingkaran. Ardi dan Arfan melakukan suit. Ardi mengeluarkan ibu jari sedangkan Arfan mengeluarkan telunjuknya.

“Aku nomor tiga.” Kata Ardi setelah melakukan suit. Lalu mereka mempersiapkan gawangnya dengan pot bunga yang ada didekat mereka di bawah pohon jambu klutuk.

“Aku pertama main, kamu Faza yang jaga gawang.” Kata Jalu sambil mengambil bola di dekat kaki Ardi.

“Eh nendangnya di sini jangan terlalu dekat.” Kata Ardi sambil memberi tanda lingkaran di tanah memakai ranting. Jalu sudah siap dengan bola di dekat kakinya. Sementara Faza bersiap mau menangkap bola yang akan di tendang Jalu.

Blum... Faza berhasil menangkap bola yang ditendang Jalu. Lalu berlari membawa bola ketempat yang diberi tanda lingkaran dan bersiap mau menendang bolanya. Sedangkan posisi Faza digantikan oleh Ardi.

“Gol....” Faza bersorak kegirangan ketika bola tendangannya tidak dapat ditangkap oleh Ardi. Ardi mengambil bolanya lalu berlari dan menyimpan bola ditempat yang tadi dilingkari. Arfan sudah bersiap didepan gawang.

“Gol....” Ardi berteriak dan mengangkat tangannya kegirangan.

Arfan mengambil bola yang bergulir lalu membawa dan meletakkan bolanya dilingkaran bersiap menendang bola. Jalu bersiap mau menjadi penjaga gawang. Dengan semangat Arfan menendang bola dengan kekuatan penuh, bola melesat sangat keras dan tinggi tak dapat dijangkau oleh Jalu.

Prang ...suara kaca pecah. Semua kaget,  Arfan yang tadi menendang dengan semangat mukanya pucat, Arfan masih mematung ditempatnya semula tak menyangka tendangannya akan jauh dan mengenai kaca jendela.

Bibi yang dari tadi di dapur sedang memasak keluar ketika mendengar keributan.

“Ada ini, tadi suara apa yang pecah?” tanyanya pada anak-anak.

“Oooohhhh....sudah-sudah pindah aja mainnya disana jangan mendekat kesini, biar bibi yang bersihkan semuanya.” Kata Bibi menyuruh anak-anak menjauh takut pecahan kaca yang berserakan terinjak oleh anak-anak.

Faza diikuti oleh teman-temannya pindah ke beranda depan.


Sekian
oooooooooooooooooOOOoooooooooooooooo

Jumat, 04 Oktober 2019

ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 3 (AKHIR)




ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 3
(AKHIR)

Setelah berpikir agak lama, Raja berdiri dari Singgasananya dan berkata:
“Baiklah selanjutnya pada saat ini akan saya putuskan siapa yang akan menggantikan saya menjadi Raja di Kerajaan ini. Setelah mendengar pendapat para punggawa yang hadir, maka akhirnya saya putuskan bahwa yang akan menggantikan saya menjadi Raja adalah Putri Purbasari.” Raja mengumumkan keputusannya.

Hadirin yang ada dalam pertemuan itu bersorak sorai merasa gembira dan setuju dengan keputusan Raja.

Putri Purbasari maju kedepan dan bersimpuh dihadapan Raja lalu berkata” Maafkan hamba Paduka bukan hamba membangkang terhadap keputusan Raja. Atau tidak menghormati terhadap semua yang telah Paduka pertimbangkan. Mohon ampun sekali lagi. Hamba mohon berilah kesempatan sekali lagi pada Kakanda Putri Purbalarang untuk memimpin Kerajaan ini. Hamba yakin Kakanda Putri Purbalarang akan lebih bijaksana dan mampu memimpin Kerajaan ini lebih baik lagi. Berilah Kakanda kesempatan sekali lagi.” pinta Putri Purbasari diluar dugaan semua hadirin.

Putri Purbalarang pun maju kedepan mendekati Putri Purbasari “Tidak Adinda Putri Purbasari Adinda layak untuk memimpin Kerajaan ini. Apa yang Adinda lakukan telah membuktikan bahwa Adinda layak dan mampu untuk memimpin kerajaan ini menggantikan Ayahanda.” Tegas Putri Purbalarang.

Ketika suasana gaduh menyaksikan pembicaraan kedua Putri Raja tersebut. Raja menjadi bimbang apa yang dikatakan kedua putrinya memang tepat. Lalu Raja mengajak Para Punggawa Kerajaan untuk bermusyawarah.

Suasana masih riuh rendah dengan pembicaraan sekitar Putri yang akan menggantikan Raja. Tiba-tiba Pengawal Penjaga Pintu masuk dan memberi laporan ada rombongan tamu dari Kerajaan Seberang. Dan meminta izin untuk masuk. Raja memberi isyarat pada Penjaga Pintu supaya tamunya diperkenankan untuk masuk.

 Hadirin yang tadi bergemuruh kembali hidmat, semua mata tertuju pada pintu masuk ingin tahu siapa tamu dan apa maksudnya. Setelah pintu dibuka Para Pengawal masuk diikuti oleh seorang pemuda tampan dan gagah dengan baju kerajaan yang mewah dan lengkap. Dibelakangnya diiringi  oleh dayang-dayang yang membawa baki bawaan. Diikuti oleh Para Pengawal dengan senjata lengkap. Setelah Para tamu duduk ditempat yang telah disediakan. Juru bicara Kerajaan maju ke depan dan berbicara.

“Saya atas nama Raja Prabu Tapak Agung mengucapkan selamat datang di Kerajaan Pasundan. Mohon maaf bila penerimaannya kurang memuaskan. Selanjutnya mohon dari pihak tamu memperkenalkan diri nama dan dari mana serta maksud kedatanganya mau apa? kepada perwakilan dipersilahkan.” Juru bicara mempersilahkan pihak tamu untuk berbicara.

“ Perkenalkan Kami atas nama Raja Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Pakuwan Pajajaran. Bermaksud meminang Putri Purbasari untuk menjadi Permaisuri dari Putra Mahkota Surawisesa. Beberapa waktu lalu Putra Mahkota tinggal di kerajaan ini mengujud seekor kera hitam yang tersesat ketika kebakaran hutan.  Putra Mahkota mewujud seperti itu ingin menemukan wanita yang tulus mencintainya. Dan menurut Putra Mahkota cinta itu ada di hati Putri Purbasari.” Juru bicara dari Kerajaan Pakuan Pajajaran  memperkenalkan diri dan mengemukakan maksudnya.

Hadirin seakan sulit bernapas menunggu pembicaraan juru bicara lantaran ingin tahu apa maksud kedatangannya. Setelah juru bicara selesai mengemukakan maksudnya, hadirin seakan berlomba mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan, dan merasakan lega dihatinya. Begitu pula dengan Putri Purbasari dan Putri Purbalarang.

Singkat cerita Putri Purbasari menerima pinangan Putra Mahkota Surawisesi dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Setelah diadakan Pesta pernikahan kedua Putri Raja dan mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Selesai acara Pesta Putri Purbalarang dinobatkan sebagai Ratu yang memimpin Kerajaan Pasundan didampingi suaminya menggantikan ayahandanya Raja Prabu Tapak Agung yang mulai uzur.

Sedangkan Putri Purbasari pindah ke Kerajaan Pakuan Pajajaran mendampingi suaminya Raja Pakuan Pajajaran yang diturunkan dari ayahandanya Sri Baduga Maharaja. Kedua Kerajaan itu pun bersahabat terjalin kerjasama baik ekonomi, pertahanan, kebijakan perbatasan dan juga pendidikan. Semua  penduduknya hidup rukun, bahagia, sejahtera, adil dan makmur.

Sekian
oooooooooooooooooooOOOoooooooooooooooo

Kamis, 03 Oktober 2019

ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 2



ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 



Waktu sebulan yang dijanjikan Paduka Raja sudah habis. Paduka Raja memanggil kedua putrinya untuk menghadap. Dan mengundang semua Punggawa Kerajaan untuk hadir dalam acara tersebut. Setelah keduanya putrinya berada dihadapan Raja maka Raja berkata:
“Wahai Putri-putriku bagaimana pengalamanmu selama sebulan ini. Sekarang laporkanlah padaku.” Titah Raja pada kedua putrinya didepan para punggawa kerajaan yang sengaja diundang untuk acara tersebut.

Putri Purbalarang dengan percaya diri melaporkan kegiatannya. “Baginda Raja sukurlah karena kerajaan dipimpin olehku dan semua Punggawa menuruti semua perintahku. Selama ini kerajaan dalam keadaan aman sentosa. Rakyat yang membayar upeti juga berjalan lancar tidak ada kendala sedikit pun.” Kata Putri Purbalarang dengan bangga dan sombong.
“Hem hem...baiklah, terima kasih Putri Purbalarang.” Jawab Raja.
“Nah sekarang bagaimana laporanmu Putri Purbasari?” Raja mengalihkan pandangannya pada Putri Purbasari.
“Maafkan hamba baginda laporan hamba tidak sama dengan laporan kakanda Putri Purbalang. Pertama setelah berkeliling hamba menemukan di Sebelah Selatan banyak rakyat yang gagal panen karena tanaman pertaniannya terserang hama tikus. Hamba memberikan saran pada rakyat untuk menanam padi secara bersamaan. Dan sebelum masa tanam dilakukan pemberantasan hama tikus secara bergotong royong. Setiap tahun harus ada selingan ditanami palawija. Jangan sampai sepanjang tahun terus-menerus ditanami padi saja. Mudah-mudahan usaha ini berhasil dan rakyat bisa melakukan panen raya lagi.” Lapor Putri sambil menghela napas sebelum melanjutkan laporannya.

Hadirin yang ada di forum itu seakan dikomando memberi tepuk tangan pertanda setuju dengan apa yang dilakukan Putri Purbasari.
“ Kedua di Sebelah Timur di Tengah Hutan yang dalam ada kebakaran hutan. Hal ini menyebabkan banyak hewan buas yang turun gunung dan merusak tanaman warga. Akhirnya warga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Akibatnya banyak warga yang tak dapat setor upeti pada Kas Raja. Menangani masalah ini hamba menyarankan, dan akhirnya ikut terjun langsung bergotong royong, menggiring kembali hewan buas yang berkeliaran didekat lahan warga, supaya masuk kembali ke dalam hutan. Dilanjutkan dengan membuat pagar yang tinggi dan kuat. Sepanjang perbatasan antara hutan dan lahan yang di tanami warga. Agar hewan-hewan itu tidak kembali lagi ke lahan warga. Sehingga warga bisa tenang memperbaiki dan menanam kembali lahannya yang sudah rusak.” 

Seperti dikomando hadirin kembali bertepuk tangan semakin meriah.
“Selanjutnya di Sebelah Barat, banyak warga dan pengunjung Pantai yang memakai plastik dan styrofoam sebagai kemasan makanan. Bekasnya mereka buang begitu saja tanpa ada pengelolaan yang serius dan profesional. Akibatnya sepanjang Pantai penuh dengan sampah. Dan yang paling parah banyak ikan yang mati, setelah dilakukan penelitian awal,  ternyata di dalam tubuh ikan banyak bahan plastik yang tidak dapat dicerna oleh ikan. Untuk hal ini hamba belum bisa mengambil tidakan yang signifikan, selain hanya menghimbau agar warga tidak membuang sampah sembarangan. Dan harus bijak dalam menggunakan barang yang berbahan dasar plastik. Masalah ini harus ditangani secara profesional dan dilakukan penelitian lebih lanjut supaya diketahui akar masalahnya. Sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat untuk menanganinya.” Putri Purbasari mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan laporannya.

Hadirin seakan ikut berpikir tidak bertepuk tangan seperti tadi. Suasana jadi gemuruh dengan obrolan kelompok kecil diantara hadirin. Putri Purbasari melanjutkan lagi pembicaraannya.
“Demikianlah Paduka yang dapat hamba sampaikan. Mohon maaf bila laporan hamba kurang berkenan dihati Paduka.” Putri Purbasari menutup laporannya.

Mendengar laporan Putri Purbasari yang lengkap disertai dengan fakta yang akurat, Putri Purbalarang tertunduk. Dia merasa malu, dia merasa sudah dapat memimpin kerajaan dengan benar, dengan hanya memberi intruksi dan menerima laporan dari para punggawa kepercayaannya.

Putri Purbasari dengan tepat dan akurat dapat menyelesaikan permasalahan rakyat. Dan sekaligus menyelesaikan masalah kerajaan. Tanpa menyudutkan seseorang atau kelompok. Tanpa mengedepankan kepentingan seseorang atau kelompok. Tapi semuanya terwakili dan untuk kepentingan bersama.

Setelah berpikir agak lama, Raja berdiri dari singgasananya dan berkata:
“Baiklah selanjutnya pada saat ini akan saya putuskan siapa yang akan menggantikan saya menjadi Raja di Kerajaan ini. Setelah mendengar pendapat para punggawa yang hadir, maka akhirnya saya putuskan bahwa yang akan menggantikan saya menjadi Raja adalah ....
Ingin tahu bagaimana akhir ceritanya ? Penasaran? silahkan ikuti cerita selanjutnya. 


ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 1



ADAPTASI CERITA LUTUNG KASARUNG 

Di Tatar Pasundan ada Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Tapak Agung. Raja yang termashur dengan Sifatnya yang bijaksana ini mempunyai dua putri yang cantik jelita bernama Putri Purbalarang dan adiknya Putri Purbasari.

Raja sudah merasa tidak mampu memimpin rakyatnya karena sudah terlalu tua dan sakit-sakitan. Raja bermaksud menurunkan tahtanya pada putri bungsunya Putri Purbasari. Sebelum diumumkan didepan para punggawa kerajaan Raja memanggil kedua putrinya untuk menghadap.

“Ada apa ayahanda memanggil kami berdua.” tanya Putri Purbalarang setelah berada dihadapan Raja.

“Ayah sudah tua dan sakit-sakitan, ayah akan menyerahkan tahta kerajaan pada kalian, Ayah ingin kedua putri ayah mempersiapkannya.” Perintah Raja pada putri-putrinya.

“Baiklah ayah aku Purbalarang sudah siap menerima tahta dari ayah.” kata Putri Purbalarang percaya diri tahta akan diberikan padanya.

Sementara Putri Purbasari hanya diam menunggu titah ayahnya. “Bagaimana denganmu Purbasari?” tanya Raja pada putri bungsunya.
“Aku terserarah ayah saja jika ayah percaya pada Putri Purbalarang aku setuju saja.” jawab putri Putri Purbasari.  

Sebenarnya Raja sudah punya penilaian pada kedua putrinya. Raja tidak mau menyerahkan tahta kerajaan pada putri sulungnya Putri Purbalarang karena tahu sifat Putri Purbalarang ceroboh, kurang teliti dan tidak bijak. Sementara kalau diberikan pada Putri Purbasari putri bungsunya, Raja takut Putri Purbalarang menjadi murka dan mencelakai putri bungsunya Putri Purbasari.

“Baiklah ayah akan berpikir dan berdoa meminta petunjuk pada Allah agar dapat memutuskan yang terbaik untuk semuanya selama sebulan. Selama itu semua urusan kerajaan ayah serahkan pada kalian berdua.” Raja memutuskan.

Setelah Raja menyerahkan segala urusan kerajaan pada mereka. Putri Purblarang  yang selalu duduk di Singgasana Kerajaan. Putri Purbalarang hanya menerima laporan dari orang-orang terdekatnya. Selain itu Putri Purbalarang hanya mengunjungi satu pesta ke pesta lainnya. Hampir tiap malam Putri Purbalarang pergi ke pesta bersama kekasihnya. Sedangkan kalau ada masalah di kerajaan Purbalarang hanya menyuruh petugas kerajaan untuk menyelesaikannya.

Berbeda dengan Putri Purbasari, hampir tidak pernah duduk di Singgasana Kerajaan. Setiap hari berkeliling melihat desa-desa di kerajaannya. Suatu hari ketika dia berjalan diperbatasan kerajaan Putri Purbasari yang ditemani oleh Pamannya Pengawal mampir di kedai kopi. Tak sengaja Putri Purbasari mendengar warga yang sedang minum kopi disitu berbincang.
“Kang maaf ya kayaknya untuk musim sekarang aku tak dapat bayar utang panenku gagal tahun ini.” Kata seorang tamu laki-laki setengah baya pada pemilik kedai.
“Memangnya mengapa?” tanya pemilik kedai kopi penasaran.
“Diserang hama tikus rusak semua tanaman padi kami.” jelas laki-laki tadi.
“Kang, saya nunggak dulu ya!” Kata laki-laki tadi sambil meninggalkan kedai kopi.
“Iya bereslah.” Jawab pemilik kopi sambil membereskan gelas bekas pelanggannya.

            Putri Purbasari didampingi Paman Pengawal merasa penasan lalu mereka mengikuti laki-laki setengah baya tadi. Sesampainya di kampung laki-laki tadi Putri Purbasari dan Paman Pengawal melihat langsung sawah para petani yang terkena hama. Paman Pengawal mengenalkan Putri Purbasari sebagai putri kerajaan. Lalu memerintahkan supaya kepala suku mengumpulkan warganya.
            Putri Purbasari dan Paman Pengawal memberi penyuluhan agar warga menanam padinya secara bersamaan. Agar pada saat panen tidak terlalu rusak diserang hama tikus. Dan sebelum menanam padi masyarakat bergotong-royong memburu tikus dulu secara serentak.

Putri Purbasari dan Paman Pengawal melanjutkan perjalanan. Tak terasa mereka berjalan hingga ke dusun dekat hutan. Ketika sedang berjalan mereka mendengar suara kera yang mendekat. Paman Pengawal mendekati asal suara, terlihat ada seekor kera yang duduk sendiri terlihat sedih dan letih seakan sudah mengadakan perjalanan jauh. Putri Purbasari yang melihat kera sedih dan kelelahan lalu memberikan makanan dan minuman pada kera. Setelah makan dan minum Sang Kera menuntun Paman Pengawal mengajak mengikuti langkahnya tak berapa lama langkahnya terhenti dan menunjuk ke dalam hutan terlihat asap mengepul dari kejauhan ternyata ada kebakaran hutan.

Putri Purbasari dan Paman Penjaga bermaksud mau melanjutkan lagi perjalanan, tapi Sang Kera seakan tidak mau ditinggalkan, tangannya lalu memegang tangan Putri Purbasari seakan ingin diajak pergi bersama. Melihat pemandangan seperti itu Paman Pengawal membiarkan Putri Purbasari membawa kera tadi dan mereka pun melanjutkan lagi perjalanan menuju Istana. Dan Putri Prubasari menyebutnya ‘lutung kasarung’ artinya kera yang tersesat. Selama dalam perjalanan Putri Purbasri mendapat laporan dari warga banyak hewan buas turun gunung yang merusak tanaman dan ternak mereka.

Putri Purbasari mendapat saran dari Lutung Kasarung agar warga membuat pagar yang tinggi dan kokoh untuk melindungi tanaman dan rumah mereka dari serangan binatang buas. Dan Putri memimpin langsung waktu pembuatanya.

Lutung Kasarung selalu mengikuti dimana pun Putri Purbasari berada. Seakan menjadi pelayan yang setia semua keperluan Putri selalu dia penuhi. Lutung Kasarung menjadi pengawal yang berani. Beberapa kali Putri mau mendapat kecelakaan Lutung Kasarung yang menolong. Beberapa kali Putri Purbasari mendapat masalah mengenai rakyatnya dengan bijaksana Lutung Kasarung memberikan pertimbangan dan solusi.

Waktu sebulan yang dijanjikan Paduka Raja sudah habis. Paduka Raja memanggil kedua putrinya untuk menghadap. Dan mengundang semua Punggawa Kerajaan untuk hadir dalam acara tersebut. Setelah keduanya putrinya berada dihadapan Raja bagaimanakah kisah selanjutnya ???
Apakah Putri Purbasari atau Putri Purbalarang yang duduk di Tahta Singgasana? dan bagaimana akhir ceritanya? ikuti kelanjutannya. 






Selasa, 01 Oktober 2019

MEMANCING HURUF






MEMANCING HURUF

            Sore itu hari sudah gelap walaupun baru pukul 4.30 WIB. Hujan turun dengan lebat maklum sudah mulai musim penghujan lagi. Faza Azzafran yang baru berusia 5 tahun dan baru sekolah TK tingkat A baru selesai mandi dan berpakaian. Awalnya Faza dan Papanya berniat main keluar sambil membeli susu kotak.
            
            Ternyata ketika Faza masih mandi turun hujan dengan lebat sekali. Faza tetap merengek minta keluar karena sudah dijanjikan oleh Papa. Untuk mengalihkan perhatian Faza supaya tidak mau keluar, Papa menyiapkan sebuah permainan. 
“Faza ayo kita main pancing-pancingan” ajak Papa pada Faza.
“Ayo” jawab Faza sambil yang masih terisak.
“Kalau mau main selesaikan dulu tangisnya.” perintah Papa.
“Iya sudah selesai kok.” jawab Faza berusaha menghentikan tangisnya.
“Nah sekarang kita buat dulu pancingannya. Kita kumpulkan bahan-bahannya.” kata Papa.
“Bahannya apa Pah?” tanya Faza ingin tahu.
“Bahan yang harus disediakan adalah magnet, benang, pencil, kertas dan penjepit kertas. Sekarang Faza cari pencil, kertas, dan penjepit kertas di meja belajar. Dan Papa mau mencari benang dan magnet di mesin jahit mama.” Papa membagi tugas.

          Faza pergi mencari bahan-bahan yang diperlukan. Tak lama sudah kembali lagi sambil membawa bahan yang diperlukan. Papa pun kembali sambil membawa magnet dan benang.
“Nah sekarang cara membuatnya pertama ambil magnet yang sudah disediakan. Lalu rekatkan benang di sekelilingnya. Sedangkan di ujung yang lain ikatkan pada sebuah pencil.” Papa menjelaskan cara membuat pancingan.
“Selanjutnya buat gambar ikan pada kertas. Lalu gunting setelah digunting, tuliskan huruf pada setiap gambar ikan. Buatlah sejumlah huruf abjad dan bisa juga angka. Selanjutnya tempelkan penjepit kertas pada setiap gambar ikan yang ada hurufnya itu.” Papa menjelaskan sambil menggunting ikan-ikan yang akan diberi huruf.
“Sebarkan ikan-ikan yang sudah diberi penjepit kertas tadi dilantai atau dikardus bekas.” jelas Papa sambil memberi contoh cara memancing ikan dalam kardus.

Ketika Faza mendapatkan ikan kertas tadi yang dipancing dengan jala yang dibuat dari magnet dan benang tadi Papa selalubertanya.
“Wah Faza dapat ikan apa nih, besar banget? Tanya Papa pada Faza.
“Ikan A.” Jawab Faza. Lalu menyimpan ikannya pada kotak yang lebih kecil.
“Wah dapat lagi” kata Faza kegirangan karena pancingnya nyangkut lagi.
“Wah dapat ikan apa ini?” Tanya Papa lagi.
“Ini ikan U” jawab Faza sekenanya.
“Wah kurang tepat, ini ikan B.” kata Papa mengoreksi. Karena jawabanya kurang tepat jadi ikannya dipisah.
         
         Begitu seterusnya sampai Faza tahu ikan yang dia pancing membawa misi huruf. Dan semuanya dapat dipancing.

Untuk peningkatan langkah selanjutnya tidak hanya menyebutkan huruf yang tertulis pada ikan, tapi dengan menyebutkan ikan atau benda lain yang berawal dari huruf yang dapat dipancing.

Sekian.
oooooooooooooooOOOooooooooooooooo


Membuat Huruf dari Pasir







MEMBUAT HURUF DARI PASIR

            Faza baru saja sampai ke rumah sepulang sekolah di TK. Setelah salam dan cium tangan mamanya. Dengan ciri khas keributannya Faza menceritakan pengalamannya di sekolah tadi.
“Mama, Mama tadi aku membuat huruf ‘F’ dari guntingan-guntingan kertas loh Mah!” cerita Faza pada Mamanya yang sedang menggendong Dede bayi.
“Wah seru dong, terus sekarang hurufnya dimana?” timpal Mama antusias menanggapi cerita Faza.
“Kalau tadi masih dijemur di Sekolah belum kering.” jawab Faza.
“Oh, kalau begitu Kakak kan cape sudah belajar. Nah sekarang Kakak ganti baju dulu simpan seragamnya ditempat biasa. Mama mau menidurkan dulu Dede bayi, setelah itu mama ambilkan makan untuk Faza.” pinta mama pada Faza.  
“Oke” Jawab Faza singkat sambil berlari ke kamar mau ganti baju.

Tak lama sudah kembali lagi sambil membawa kertas kosong dan bertanya pada mamanya.
“Ma, boleh nggak kalau Faza mau membuat lagi huruf seperti yang di Sekolah tadi?”
“Emang bisa?” tanya Mama meragukan.
“Bisalah.” Jawab Faza yakin.
“Apa saja bahannya?” tanya Mama mencoba ingatan Faza.
“Kertas, guntingan kertas kecil-kecil warna warni, lem, dan kuas kecil sudah deh.” Jawab Faza mengingat semua bahan yang diperlukan untuk membuat huruf.
“Tapi kan tidak ada kertas warna-warninya, bagaimana?” tanya mama. “Ohhh ganti bahan saja, jangan dengan kertas warna-warni tapi dengan pasir juga bisa.” Mama memberi solusi.
“Nah sekarang Kakak makan dulu sendiri makannya sudah bisa kan?, nanti mama menyiapkan hurufnya.”  usul mama.
“Sambil menunggu Faza makan, mama membuat nama Faza di kertas putih masing-masing satu huruf jadi semuanya ada empat hurup ya.” Jelas mama.
           
           Selesai makan, lalu Faza menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Yang paling pertama Faza mengayak pasir yang ada diluar sisa menembok jalan.
“Mah, tolong ambilkan saringan yang itu, Faza boleh pinjamkan untuk mengayak pasir?” pintanya pada mama.
“Boleh nih, dan ini koran untuk alas pasir yang sudah disaring.” kata mama memberikan saringan dan kran bekas.

Dengan riang Faza pergi keluar membawa alat yang diperlukan. Lalu menjemur pasir yang sudah disaring ditempat yang terkena sinar matahari. Sambil menunggu pasir kering, Faza menyiapkan bahan lem dan kertas yang sudah ada hurufnya. Semua bahan dibawanya ke depan dan dikumpulkan di teras rumah.
            
         Faza mengambil satu kertas  lalu memberikan lem pada huruf yang dituliskan mama dengan memakai kuas. Setelah itu dengan teliti ditaburi pasir yang tadi sudah dijemur. Setelah selesai baru dijemur di tempat yang panas. Begitu seterusnya sampai semua huruf selesai ditaburi pasir.
“Papa, Papa aku tadi membuat huruf dari pasir.” Faza memberitahukan Papanya yang baru saja pulang.
“Oh ya pintar dong.” kata Papa memuji. Sambil memberikan tangannya untuk salam dan mencium kening Faza.
“Papa namanya mau ditempel di pintu kamar Faza boleh nggak?” tanya Faza meminta izin.
“Boleh-boleh nanti ya Papa mau wudu dan salat Asar dulu. Faza sudah salat belum?” tanya Papa pada Faza.
“Belum.” jawab Faza sambil bergelayutan ditangan Papanya.
“Yu salat dulu.” ajak Papanya sambil menggendong Faza dan dibawanya ke kamar mandi.


Sekian.
oooooooooooooooooooooooOOOooooooooooooooooooooooo

”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...