Jumat, 23 April 2021

Tidur


TIDUR

KITA REHAT SEJENAK

 

Aku baru saja selesai belajar di aplikasi Classroom. Ada tiga kelas untuk hari ini yaitu bahasa Indonesia, IPS dan Agama. Kelas Agama tadi ada penambahan waktu, karena banyak yang bertanya mengenai hadis yang menjelaskan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.

Guru Agama tadi membahas amalan sunah yang dilakukan pada bulan Ramadan. Kesepuluh amalan sunah dalam bulan Ramadan itu adalah:

1.      1. Makan sahur (Bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan)

2.      2. Menyegerakan berbuka sebelum salat Magrib

3.      3. Membaca doa  sebelum dan sesudah berbuka

4.      4. Mandi besar dari junub, haid dan nifas sebelum terbit fajar agar menunaikan ibadah dalam keadaan 

         (Ini untuk orang dewasa)

5.     5.  Menahan  lisan dari perkataan tidak berguna.

6.     6.  Menahan diri dari hal yang tak sejalan dengan hikmah puasa

7.      7. Memperbanyak sedekah

8.      8. Memperbanyak i’tikaf di Masjid

9.      9. Menghatamkan Al Quran selama sebulan Ramadan.

10.  10. Istiqomah menjalankan amalan Ramadan dan dilanjutkan di bulan berikutnya.

 

Terus tadi si Rahman bertanya: “Apa betul tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, katanya ada hadisnya.  

 

“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah doa yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”  Guru agamaku membacakan hadisnya. Lalu menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tidur disini bukan berarti tidur dari setelah subuh sampai waktunya buka puasa tanpa aktifitas yang positip.

 

Yang dimaksud dengan tidur di sini adalah istirahat sejenak sebelum melanjutkan aktifitas lagi. Karena banyak kegiatan di malam hari seperti taraweh, tadarus, sahur dan menghapal ayat Al Quran yang dilakukan di malam hari. Maka jam tidur menjadi sedikit, ditambah dengan puasa jadi energi berkurang belum ada lagi asupan. Sehingga badan menjadi lemas dan cepat lelah.

 

Disitulah orang berpuasa tidur untuk istirahat agar badan kembali segar untuk beraktifitas lagi. Biasanya dilakukan setelah salat Duhur dan bangun kembali sebelum waktu Asar.

 

Itulah kesimpulan yang dapat aku simak dari guru agama tadi.

Setelah menutup laptop ku, rasanya penat dan pegal terasa di badanku. Kulirik jam dinding yang menempel di tembok kamar, baru menunjukkan pukul 11.45. Masih ada waktu untuk santai sebelum salat Duhur, pikirku.

 

Kurebahkan badan di tempat tidur sambil memainkan telepon pintarku membuka aplikasi Happy Color Fan yaitu aplikasi mewarnai gambar yang sering aku lakukan jika ada waktu luang. Belum juga satu gambar bunga yang kuwarnai selesai, sudah terdengar kumandang azan Duhur di telepon pintarku.  

 

Konsentrasiku terganggu dari mendengarkan azan, karena terdengar ada suara tangisan di luar. Aku beranjak dari rebahan dan berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata Adik yang menangis. Aku menuntun Adik masuk dan duduk di kursi makan. Aku menuntun Adik masuk dan duduk di kusri makan. Tak berselang lama Bunda menyusul masuk sambil membawa tas plastik, sepertinya belanjaan sayuran di warung dekat rumah.

 

“Adik kenapa Bun?” Tanyaku pada Bunda yang baru saja masuk.

“Jatuh tadi di jalan.” Jawab Bunda sambil menyimpan belanjaan.

“Kak ambilkan kotak P3K untuk mengobati lukanya.”Pinta Bunda padaku. Aku kembali ke ruang tengah mengambil kotak P3K.

“Adik ayo cuci dulu lukanya.” Ajak Bunda pada Adik yang masih terisak. Bunda menuntun Adik ke kamar mandi. Lalu mencuci lukanya hingga kotoran dan darah di kaki adik bersih.

“Jatuh dimana Bun?” Tanyaku lagi menghampiri dan menyodorkan kotak obat.

 

“Tadi lagi main dengan temannya.  Melihat Bunda lewat mau ke Warung,  dia menyusul ikut ke Warung. Dia minta dibelikan kelereng. Matanya terus melihat kelereng tidak melihat jalan. Lalu kakinya menginjak batu dan terpeleset jadi juntai deh.” Kata Bunda diselingi canda. Sambil tangannya dengan terampil  melap kaki Adik dengan tisu. Setelah kering baru di obati dengan betadine.

 

Adik tersipu malu dan menyembunyikan senyumnya, kala Bunda menyebut “juntai deh.” Adik duduk di kursi ruang makan, Ibu memberinya susu hangat untuk berbuka dan sebuah pisang ambon. Aku menemaninya sambil meniup-niup luka di kakinya.

 

“Baca doa dulu Dek !” Kataku mengingatkan kala Adik mau meminum susunya.

“Allahuma laka shumtu wabika amantu wa’ala rizqika Afthartu birohmatika yaa arhama rrohimin.” Walau masih ada sisa-sisa isakan Adik tetap membaca doa buka puasa dilanjutkan dengan doa mau makan.

 

Adik meminum susunya sampai tandas. Lalu membuka pisang dan memakannya secara perlahan. Bunda datang lagi dari dapur, ditangannya membawa nasi goreng dan air putih untuk Adik.

“Masih sakit?” Tanya Bunda pada Adik.

“Sekarang tidak terlalu sakit” Jawabnya setelah menelan kunyahan pisangnya.

“Kalau begitu bisa makan sendiri ya? Bunda sama Kakak mau salat duhur dulu.” Kata Bunda lagi. Adik mengangguk tanda mengiyakan.

 

“Anak pintar” puji Bunda sambil mengusap puncak kepala Adik.

“Yu Kak salat duhur dulu.”   Bunda mengajak ku salat duhur berjamaah.

Aku dan Bunda melaksanakan salat duhur bersama. Dilanjutkan dengan membaca Al Quran.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Tidur  


 

Kamis, 22 April 2021

ORAHRAGA

 


OLAHRAGA

TETAP BUGAR WALAUPUN BERPUASA

 

Setelah selesai tadarus dan hapalan ayat ba’da salat subuh tadi. Kami keluarga kecil Iskandar  sedang bersiap untuk berolahraga. Karena hari ini hari libur, Ayah mengajak Kami untuk berjalan kaki menyusuri rel  kereta api.

Aku dan Adik sangat senang sekali diajak olahraga pagi. Aku memakai kaos dan training warna pink motif putih sama dengan Bunda. Sedangkan Ayah memakai kaos dan training warna biru motif putih sama dengan Adik. Kami memang senang memakai baju caople. Apakah itu batik, kaos, atau gamis. Kadang seragam semuanya sama. Tapi ada juga caople nya yang laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. Atau Ayah dengan Bunda samanya, Aku dengan Adik caople annya.

“Bun ayo berangkat, Ayah sudah duluan tuh mengejar Adik yang tidak sabar.” Aku mengajak Bunda untuk cepat keluar. Tak lama Bunda keluar dan menyerahkan tas padaku.

“Nih tasnya bawa, Bunda mau mengunci pintu dulu.” Bunda menyerahkan tas gendong padaku. Aku pun memasukkan handuk kecil yang tadi dipegang. Lalu menggendong tas yang tadi diberikan Bunda sambil berjalan.

“Tunggu sebentar” Tak lama Bunda menyusul. Lalu memasukkan kunci pintu ke tas yang tadi Aku gendong.

 

Aku dan Bunda mulai berjalan menyusul Adik yang sudah sampai rel kereta menunggu Aku dan Bunda. Kami pun berjalan menyusuri rel kereta api berbanjar. Adik sambil menghitung bantalan rel kereta yang diinjaknya berpegangan pada Bunda. Sedangkan Aku kadang berjalan di relnya tanpa berpegangan menjaga keseimbangan. Berbeda dengan Kami, Ayah malah berlari jauh kedepan lalu balik lagi mendekati Kami. Kalau kami hanya satu balik tapi Ayah malah tiga kali.

“Yah kenapa sih lari bulak-balik?” Tanyaku pada Ayah ketika mendekat.

“Ah kalau cuma jalan doang tidak keringatan.” Katanya sambil mengelap keringat di dahinya.

Rel kereta api yang Kami lalui memang masih jarang jadwalnya. Biasanya lewat tadi pagi jam lima. Dan nanti lewat lagi jam lima sore. Jadi Kami tenang menyusuri rel kereta tanpa takut kereta lewat.

Udaranya masih segar karena daerah yang Kami lalui masih berupa sawah dan kebun palawija. Rumah warga pun masih terpencar, tidak sepanjang rel kereta ada perumahan.

Kira-kira perjalanan selama satu jam, Kami sampai di Stasiun Kereta. Suasananya agak ramai karena banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Kami hanya melewatinya saja, karena tujuan utama Kami adalah Pasar Parungkuda.

Bunda berbelanja Ikan, daging, ayam, udang bahkan ikan asin. Mungkin untuk stok seminggu atau lebih. Ayah membawa belanjaan, sambil menuntun Adik. Bunda beralih pada sayuran, Aku ikut memilih sayuran yang bagus dan masih segar ada bayam, tauge, wortel, ketimun, brokoli, kembang kol, sawi, kacang merah, labu siam kecil, jagung manis dan tempe tahu.

Setelah dirasa cukup, Kami keluar dari Pasar. Ayah menjinjing tas plastik besar belanjaan di kedua belah tangannya kiri-kanan. Aku berjalan di depan disusul Bunda dan Adik. Ayah paling belakang sambil menjingjing belanjaan menuju angkutan umum yang akan membawa Kami pulang ke rumah.   

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Olahraga  


Rabu, 21 April 2021

Berbagi

 


BERBAGI

AKU HANYA INGIN MELIHAT SENYUMNYA

 

Hari ini Kami berangkat ke Sukabumi Kota, mengantar Ayah berobat ke dokter gigi. Diperjalanan Aku dan Adik tertidur. Aku terbangun ketika merasakan mobil berhenti.

“Bun, sudah sampai?” Tanyaku pada Bunda merasakan mobil berhenti.

“Iya sudah dari tadi, Kita salat Asar dulu sebelum mencari makanan untuk berbuka.” Jelas Bunda.

“Eh Kak itu sebelah Masjid ini ada Ondemart, Kakak beli hand sanitizer  sama tisu dulu ya ini sudah habis.” Perintah Bunda.

“Nanti salatnya gantian, mukenanya kan cuma satu” Sambung Bunda.  

“Baiklah” Jawabku sambil membuka sabuk pengaman. Lalu turun dari mobil, meregangkan badan yang pegal.  

“Ini uangnya” Bunda memberikan uang selembar lima puluh ribuan.

Hand sanitizer sama tisu doang kan?” Tanyaku meyakinkan. Bunda hanya mengangguk.

 

Aku masuk Ondemart yang ada di depanku. Sebelum masuk Aku mencuci tangan ditempat yang disediakan. Lalu merapihkan masker di wajahku. Aku mengambil tisu ditumpukan yang dipajang. Aku berkeliling mencari hand sanitizer. Ternyata ada di rak paling atas. Aku berjingjit mencoba meraih hand sanitizer tapi tidak sampai.  Aku mengambil ancang-ancang akan meloncat untuk mengambilnya. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, Aku membalikkan badan, ada tubuh besar menghalangi badanku, Aku mendongak mencari tahu siapa yang menghalangiku.

 

“Apa yang akan kau ambil anak cantik tapi masih pendek?” Tanyanya dengan tatapan ramah sambil tersenyum padaku. Aku kaget, mukaku sejajar dengan perutnya. Hampir saja terjatuh dan mengenai barang yang dipajang kalau saja tangan besar dan kokoh itu tak menahan pundakku dengan tepat.

“Ehem” Aku mendehem menetralkan suara dari kekagetanku.

“I  i itu Om Aku mau mengambil hand sanitizer.” Akhirnya suaraku keluar walau sedikit terbata.

“Oh ini” Katanya sambil mengambil hand sanitizer dijajaran paling atas. Aku menundukkan wajahku karena pandanganku terhalang oleh tubuh besar Si Om yang mengambil hand sanitizer. Walau aku memakai masker, wangi parfum dari bajunya masih tercium samar dengan bau obat khas Rumah Sakit lebih dominan.

 

“Ini” Si Om membungkukkan badannya mensejajarkan tingginya dengan ku. Aku mengulurkan tangan hendak mengambil hand sanitizer yang ada didepan wajahku. Ketika mau sampai hand sanitizer di jauhkan dari jangkauanku.

 

“Et sebutkan dulu namamu gadis cantik nan soleha.” Katanya sambil tersenyum ramah.

Aku membalas senyumnya, “Aku Alisyia Putri Iskandar dokter ganteng yang baik hati.” Kataku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada.

 

“Eh Putri cantik nan soleha pintar merayu juga ternyata.” Katanya sambil mendekatkan hand sanitaizer ke depan ku.

“Itu bukan rayuan tapi kenyataan yang tak terbantahkan Om dokter, maka bersyukurlah.” Kataku dengan senyum tertahan sambil mengambil hand sanitizer dari tangannya.

 

“Terima kasih” Lanjutku sambil berjalan meninggalkannya menuju kasir.

“Hai dari mana kau tahu kalau Om dokter?” Tanyanya sambil mengikutiku ke depan kasir untuk mengantri.

“Kaca mata dan wangi parfumn di baju Om sudah tersamarkan oleh bau obat ciri khas Rumah Sakit.” Jelasku pada Si Om.

 

“Hai cerdik juga kau ternyata” Katanya sambil tertawa.

 

“Digabungkan saja sama ini, supaya cepat” Katanya pada tante penjaga kasir sambil mengambil tisu dan hand sanitizer dari tanganku dan menyimpannya di meja kasir.

“Ini uangnya Om!” Kataku sambil menyerahkan selembar lima puluh ribuan.

“Simpan saja biar pakai uang Om saja.” Katanya menolak uang dari tanganku.

“Tapi Aku tak butuh traktiran.” Kataku sambil nyengir.

“Om memang tidak sedang mentraktirmu anak kecil, Om cuma membayarkan dua macam belanjaanmu. Heh, Bukankah sesama muslim harus saling berbagi?” Katanya gemes mendengar ocehanku.

 

“Tapi Aku bukan orang miskin yang harus dibagi.” Bantahku lagi.

“Memangnya hanya orang miskin saja yang harus dibagi?” Tanyanya lagi.

“Nggak sih, berbagi bisa dalam banyak hal, bisa harta, tenaga, pikiran, kasih sayang, semangat, pengetahuan, informasi, intinya kita harus berbagi dalam hal kebaikan.” Kataku menutup rincian, karena Om dokter sudah mengambil tas belanjaan dan membawanya keluar.

“Nah itu tahu.” Katanya sambil membuka pintu Ondemart.

 

Aku berjalan keluar Ondemart mengikuti langkah si Om dokter yang panjang. Setengah berlari aku mensejajarkan langkahnya. Sesampainya di luar Om dokter mengeluarkan tisu dan hand sanitizer.

“Ini belanjaanmu” Katanya mengulurkan tangan memberikan tisu dan hand sanitizer.

“Terima kasih Om dokter yang ganteng dan baik hati.” Kataku sambil melangkah mau meninggalkannya.

 

“Hai kau tak mau tahu namaku, Putri cantik saleha ples cerewet?” Tanyanya padaku tak lupa senyum manisnya.

“Tahu tidak tahu tidak” Sambil menghitung dengan jari aku pura-pura mempertimbangkan.

“Ah kelamaan, Aku Jonathan orang-orang dilingkungan rumahku memanggilku Atang.” Katanya sambil menyerahkan kartu nama padaku. Aku mengambil dan membaca kartu nama yang dia serahkan.

"Atang ya. ha ha ha" Aku tak dapat menahan tawa. 

"Kenapa ada yang lucu?" Tanyanya melihatku tertawa.

"Bagaimana tidak tertawa namanya keren buatan luar negeri dengan postur tubuh istimewa, dengan pahatan wajah yang sangat sempurna, dokter pula. Eh panggilannya Atang, Sunda asli identik dengan badan kecil, hitam, sama dengan Atang tukang ranginang di kampungku. Sangat jauh dari espektasi." Jelasku masih dengan tawa.

"Benarkah ???" Tanyanya tak percaya. Dan sedikit bingung. 

“Tapi Aku lebih senang memanggil Om dokter yang ganteng, bolehkan?” Tanyaku sambil tersenyum dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada tanda memohon.

“Terserah kau sajalah, asal kau bahagia.” Katanya sedikit tertawa.

“Assalamualaikum, semoga bertemu kembali, Salam untuk Bu Mutia Aku yakin Om mengenalnya.” Kataku menutup penbicaraan, berjalan meninggalkannya sambil melambaikan tangan.  

“Waalaikum salam, In Sya Allah.” Jawabnya masih berdiri menatapku dan membalas lambaian tanganku.

#KMP4diarpus

#KMP2021

#Abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Berbagi 


 


Selasa, 20 April 2021

Tarawih



TARAWIH

AMBIL 20 ATAU 8 RAKAAT?

 

“Usholi Sunnatat Taraawih Rokataini Mustaqbilal Qiblati Makmuman Lillahi Taalaa.” Aku mengucapkan niat salat sunah tarawih. Tak lama Ayah mengucapkan Takbir sambil mengangkat kedua tangan sampai ke bahu, untuk memulai salat diikuti olehku dan Ibu serta Adik.

 

Ayah yang bertindak sebagai imam. Aku dan Ibu serta Adik sebagai makmum. Salat yang Aku lakukan dua rakaat-dua rakaat. Setelah empat rakaat diselingi dengan doa ayah yang memimpin. Aku dan Ibu hanya mengaminkan. Sedangkan adik sudah tersungkur lagi ketiduran di atas sajadah.

 

Selesai berdoa Ayah berdiri lagi melanjutkan salat tarawih dua rakaat dan dua rakaat lagi.  Setelah empat rakaat lagi diselingi oleh doa lagi, kembali Ayah yang berdoa. Doa yang ini lebih panjang dibanding doa yang sebelumnya.

 

Selesai berdoa Ayah menoleh ke belakang “Sekarang witir tiga rakaat”. Katanya lalu memulai mengucapkan niat. “Usalli Sunnatal Witir Tsalaasa Rokataini Mustakbillal Qiblati Adaan Imaaman Lillahi Taala.” Lalu mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan tangan sebagai tanda memulai lagi salat. Aku mengikuti ucapan Ayah dan gerakannya demikian juga Ibu yang berdiri sejajar denganku.

 

Setelah selesai salat witir tiga rakaat. Lalu Ayah berzikir dan kembali berdoa setelah salat witir. tidak terlalu panjang bila dibandingkan dari doa setelah salat tarawih.

 

Aku dan Ayah melanjutkan kegiatan dengan membaca Al Quran. Sedangkan Ibu langsung ke dapur untuk memasak mempersiapkan hidangan untuk sahur. Ibu biasanya lebih lama membaca Al Quran kalau selesai salat Duha dan salat Zuhur.

 

Selesai membaca Al Quran Aku ngemil makanan ringan didepan televisi bersama Ayah. Sedangkan Adik dibiarkan tertidur di atas sajadah.  

“Yah, Mengapa disebut salat tarawih sih?” Tanyaku pada Ayah membuka percakapan.

“Tarawih itu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Raha-Yaruuhu- Tarwiyatun” artinya waktu sesaat untuk istirahat. Ada juga yang mengartikan santai. Sedangkan tarawaih menurut istilah adalah salat malam yang dilaksanakan pada bulan Ramadan mulai setelah salat Isya hingga sebelum fajar.” Jelas Ayah.

 

“Terus mengapa ada yang dilakukan sendiri ada juga yang berjamaah?”Tanyaku lagi.

“Ya memang tidak mengapa, bisa dilakukan sendiri bisa juga dilakukan secara berjamaah. Rosulullah pernah melaksanakannya secara berjamaah juga pernah melaksanakan secara sendiri.” Jawab Ayah menjelaskan.

 

“Terus Yah mengapa ada yang melaksanakan sekitar jam tujuh ada juga yang jam dua pagi, bagaimana tuh Yah?” Tanyaku lagi.

“Yah karena memang waktunya setelah salat Isya. Berarti sekitar jam tujuh sampai jam empat pagi.” Jelas Ayah lagi.

 

“Kalau rakaatnya bagaimana Yah?” Tanyaku lagi ingin tahu.

“Kalau rakaatnya minimal dua rakaat maksimalnya dua puluh rakaat. Caranya juga bisa kalau yang 8 rakaat 4, 4, witir 3 jadi 11 atau 2, 2, 2, 2, witir 2, 1  jadi 11 atau 2, 2, 2, 2, witir 3 jadi 11 yang 20 rakaat juga sama tambah witir 3 rakaat jadi 23 rakaat.” kembali Ayah menjelaskan sambil mengupas buah apel.

 

“Terus kalau dalil yang memerintahkan salat tarawih dan witir ada nggak Yah?” Tanyaku lagi semakin penasaran, sambil mengambil apel yang sudah dipotong Ayah.

“Ya ada  lah banyak kok salah satunya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan juga Aisyah istri Rosulullah. Nih Kakak baca saja sendiri ini ada bukunya, yang ada pitanya.” Kata Ayah sambil menyerahkan buku hadis Bukhori yang tebal.

 

Aku membuka buku hadis dan membacanya.

Hadis  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda “Barangsiapa ibadah (Tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (H.R. Bukhori)

 

Aisyah Radiyallahuanha berkata “Dari setiap malam Rosulullah SAW pernah mengerjakan salat witir pada permulaan malam, tengah malam, akhir malam, dan berakhir pada waktu subuh,” (H.R. Bukhari Muslim).

 

“Kakak Ais bacanya tunda dulu, ayo sahur dulu. Yah, Adik tuh bangunkan lagi ajak sahur.” Kata Bunda mengajak sahur.

 

Ayah langsung berangkat untuk menggendong Adik mengajaknya sahur. Aku menutup lagi buku yang tadi dibaca lalu menyusul Bunda yang sudah berjalan keruang makan. 


#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Tarawih  

 

Senin, 19 April 2021

Sajadah

 


SAJADAH

TERUKIR SEJUTA SALAT MALAM BERSAMAMU

 

Sajadah sudah digelar, mukena sudah dipakai dan Ayah sebagai imam pun sudah berdiri di depan. Dengan ucapan “Allahu Akbar” Ayah mengimami salat diikuti Aku dan Bunda serta Adik di belakang sebagai makmum.

 

Beralaskan sajadah beludru berwarna merah yang empuk, bergambar Kabah ditengahnya tepat ditempat sujud.  Aku salat Magrib berjamaah di kamar khusus untuk salat. Ya dimasa pandemi covid 19 ini Aku lebih banyak berjamaah di Musala kecil yang ada di rumah dibandingkan di Masjid yang ada di tengah kampung.

 

Selesai mengucapkan salam, dilanjutkan dengan salat sunah ba’da Magrib dua rakaat. Setelah itu baru ayah berzikir dan berdoa yang diaminkan oleh Aku, Bunda dan Adik.

 

Sambil makan Aku bertanya pada Ayah. Yah Kami memang sering berdiskusi. Aku teringat tugas tadi pagi ketika belajar dalam jaringan dengan guru agama. Kami diberi tugas untuk mencari tahu sejarah dan filosopi sajadah.

 

“Yah, bagaimana sejarah dan Filosofi dari sajadah?” tanyaku pada Ayah.

“Kata sajadah berasal dari bahasa Arab ‘sajada’ yang  bermakna masjid dan sujud. Biasanya berukuran panjang satu meter, hanya cukup untuk satu orang dewasa yang salat. Ada juga yang menyebut karpet doa. Awalnya sajadah diproduksi di daerah Asia Tengah dan Asia Barat. Fungsinya untuk menutupi tanah atau lantai yang kosong saat salat. Karena umat Islam ketika salat membungkuk seluruh badan ke tanah. Dan Islam juga sangat menyukai kebersihan. Maka pada waktu salat agar tidak kotor dipakailah  alas sajadah. Ujungnya selalu di arahkan ke Mekah atau Ka’bah sebagai kiblat bagi seluruh umat Muslim di dunia.” Jelas Ayah.

 

“Terus mengapa hampir semua sajadah selalu ada lengkungan?” Tanyaku lagi mengingat tadi ketika salat sajadahnya ada lengkungan.

 

“Ya itu ciri khasnya sajadah, lengkungan itu mengibaratkan mihrab yang menandakan kita harus menghadap sesuai dengan arahnya. Ciri mihrab ini berbeda-beda sesuai yang memproduksi sajadah itu sendiri.” Kata ayah menambahkan lagi.

 

“Terus apa filosofi dari setiap gambar yang ada pada sajadah?” Aku bertanya lagi.

“Ya itu tergantung dari yang memprodusi. Tapi yang Ayah tahu simbol-simbol yang ada pada sajadah diantaranya: lampu masjid pada sajadah mengingatkan pada lampu yang ada di masjid, sisir sebagai pengingat yang mau salat untuk bersisir, kendi air mengingatkan yang mau salat untuk berwudu, tangan mengingatkan bahwa tangan ketika sujud harus berada disitu.

 

“Terima Kasih Yah, Kakak duluan mau langsung ditulis takut keburu lupa kalau dinanti-nanti.” Kataku sambil membawa piring kotor ke tempat cucian, lalu mencuci piringnya bersamaan dengan mencuci tangan.

Kembali ke meja makan, mengambil gelasku dan meminum airnya.

“Alhamdulillahi Atamana Wastaqana Wajaalana Muslimin Aamiin.” Kataku menutup doa. Kemudian berjalan ke kamar untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru agama.

 

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Sajadah 


Minggu, 18 April 2021

Gorengan

 


GORENGAN

TIADA KESAN TANPA KEHADIRANMU


Aku dan Ahmad baru saja pulang mengaji dan berjalan bersama teman-teman. Udara sudah terlihat mendung, Aku mengajak Adik Ahmad agar cepat berlari karena hujan sudah mulai turun. Langkah kecil Ahmad tak dapat menandingi hujan yang turun dengan cepat. Aku mengajak Adik berteduh di rumah yang terdekat. Sedangkan teman-teman sudah memakai jas hujan dan berlari kencang tanpa menungguku. Tak lama ada anak yang berlari juga mendekatinya, tampaknya dia ingin berteduh juga. Kalau tidak salah ini rumah Pak Dahlan, beliau pedagang pakaian di Pasar Cicurug. Kalau bulan Ramadan biasanya pulangnya setelah Magrib. Jadi rumahnya terlihat kosong. Pikirku dalam hati.

“Ah nyesel tadi disuruh membawa jas hujan sama Bunda, tidak nurut.” Gumamku lirih.

“Eh kamu mau kemana, sepertinya kamu bukan orang sini?” Tanyaku pada anak yang ikut berteduh.

“Eh Aku Dani dari kampung sebelah. Aku sedang jualan gorengan.” Kata Dani sambil memperlihatkan isi keranjang plastik yang dibawanya.

“Memang kamu tidak ngaji?” Tanyaku ingin tahu.

“Aku ngajinya sesudah Isya, kalau siang Aku membantu Nenek berjualan gorengan.” Jawabnya pelan. Kepalanya menunduk terlihat raut wajah sedih.

“Memang orang tua kamu kemana?” Tanyaku lagi.


Dani tak langsung menjawab, agak lama hanya menatap kakinya yang kurus dan dekil dengan sendal jepit biru yang sudah mulai pudar warnanya.


“Orang tuaku sudah lama meninggal karena kecelakaan, aku di rumah hanya berdua sama Nenek. Kalau tidak dibantu kasihan Nenek kecapean.” Katanya lirih matanya berkaca-kaca.


“Hari ini sudah dapat berapa?” Aku bertanya kembali mengalihkan kesedihan Dani.

Dani tersenyum kecil tak lama tangannya masuk ke saku celananya lalu keluar lagi kini ditelapak tangan kananya ada uang dua ribuan selembar. Sedangkan tangan kirinya hanya mengeluarkan sakunya yang kosong.


“Bunda !” Tiba-tiba Adik berteriak. Aku tersentak lalu melihat ke arah jalan, terlihat Bunda berjalan memakai patung tampaknya tidak mendengar terikan Adik.

“Bunda, Bunda.” Aku kembali memanggil Bunda. Bunda sudah melewati kami tampaknya air hujan menyamarkan suara kami.

“Bunda! Bunda !” Dani membantu berteriak memanggil Bunda dengan suara lebih keras.

Bunda berhenti lalu menengok mencari kearah suara kami. Aku melambaikan tangan agar Bunda melihat dan mendekat. Benar saja Bunda melihat lambaianku. Lalu berjalan mendekati kami.



Bunda mengeluarkan dua jas hujan dalam body bag yang dibawanya. Ketika mau diberikan padaku, Bunda melirik ke arah Dani dan bertanya.

“Ini siapa?” Tanya Bunda sambil melirik Dani.

“Saya Dani Bu, sedang berjualan gorengan.” Jawabnya sambil memperlihatkan dagangannya.

“Oh, kalau begitu begini saja. Adik pakai jas hujan yang Adik yang kecil. Ini yang Kakak dipakai oleh Dani, Kakak sama Bunda pakai payung berdua.”Bunda mengatur pemakaian jas hujan.

“Nggak usah Bu, biar saya nunggu reda saja di sini.” Tolak Dani merasa sungkan.

“Eh bukan begitu, ibu mau beli gorengannya tapi tidak membawa uangnya jadi kamu ikut dulu ke rumah Ibu ya.” jelas Bunda meyakinkan Dani.

Tanpa berpikir panjang Dani menerima jas hujan dari tangan Bunda. Lalu memakainya dan Kami pun berjalan beriringan pulang ke rumah.



Sesampainya di rumah Aku membersihkan diri. Adik mengajak Dani ke kamarnya, memberikan baju dan celana untuk Dani berganti pakaiannya yang basah. Adik dan Dani bermain di depan televisi. Aku ke dapur membantu Bunda menyiapkan untuk berbuka.

“Bun ! kasihan si Dani masih kecil sudah ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan. Sekarang dia tinggal hanya berdua bersama neneknya. Dia berjualan gorengan membantu neneknya. Hari ini dia baru dapat dua ribu pas Kakak tanya tadi.” Aku bercerita tentang Dani pada Bunda.



“Menurut Kakak Kita harus bagaimana?” Tanya Bunda bernada menguji.

“Emmm bagaimana kalau begini, Bunda beli semua dagangan Dani, lalu gorengannya disumbangkan ke Musola untuk berbuka yang salat berjamaah di Musala.” Kata Kakak memberikan pendapatnya.

“Oke Bunda setuju. Nah sekarang coba tanyakan dagangannya ada berapa lagi. Kemudian hitung jadi berapa?” perintah Bunda.



“Dan.. Dani dagangannya mana?” Tanyaku pada Dani yang asik nonton televisi.

“Ini disimpan disini” tunjuk Dani mendekati keranjang dagangannya.

“Yo kita hitung ada berapa? sebentar Aku ambil dulu wadahnya.” Aku kembali ke dapur mengambil wadah untuk gorengan dagangan Dani.

“Bun ada 28 buah jadi semuanya Rp 28 000.” Kataku pada Bunda sambil membawa wadah tempat gorengan ke dekat Bunda.

“Simpan di piring lima buah untuk berbuka di sini. Sisanya tutup dan tempatkan di body bag.

Lalu ambil satu body bag lagi untuk bubur sumsum dan sayuran buat Dani.” Perintah Bunda lagi.

“Oke” Tanpa banyak tanya aku langsung melaksanakan perintah Bunda. Sementara Bunda masuk kamar sepertinya mau mengambil uang untuk membayar dagangan Dani.



Tak lama ada suara motor berhenti. Ibu langsung ke depan menyambut Ayah yang baru pulang. Setelah mencium punggung tangan Ayah dan mengambil tas kerjanya.

“Yah jangan dulu dibuka jas hujannya, tolong antarkan dulu Dani ke rumahnya kasian sudah sore neneknya pasti khawatir.” Pinta Bunda pada Ayah. Kening Ayah sedikit berkerut menandakan tak mengerti siapa Dani.

“Ceritanya nanti, sudah terlalu sore nanti keburu Magrib.” Tambah Bunda menjawab ketidakmengertian Ayah.

“Mana anaknya?” Tanya Ayah.

“Sebentar dipanggil dulu.” Bunda kembali ke dalam mendekati Dani yang masih asik nonton televisi.

“Dani ini uang gorengannya 30 ribu tidak usah dikembalian dan ini buat buka bersama nenek nanti. Sekarang Dani pakai lagi jas hujan yang tadi, pulang diantar sama Ayah, kasihan neneknya akan khawatir bila pulang terlalu sore.” Jelas Bunda pada Dani.

Tanpa banyak tanya Dani langsung memakai jas hujan yang tadi digantung dipaku. Mengambil body bag yang diberikan Bunda.

“Ahmad Aku pulang dulu.” Dani Pamit pada Ahmad sambil beradu tangan di atas tos.

“Besok dagang ke sini lagi ya.” Pinta Ahmad

“Oke” jawabnya sambil berjalan membawa body bag dan keranjang dagangannya yang sudah kosong.

“Bu, terima kasih, maaf sudah merepotkan.” Pamitnya pada Bunda. Lalu mencium punggung tangan Bunda.

“Tidak merepotkan, jangan sungkan besok dagang lagi ya.” Jawab Bunda memberi semangat.

“In Sya Allah mudah-mudahan Nenek bisa membuat lagi dagangannya.

“Aamiin” Serempak Aku dan Bunda mengaminkan.

“Kak Aku pulang dulu terima kasih.” Pamit Dani sambil mengangguk ke arahku.

“Oke hati-hati, salam buat neneknya.” Balasku sambil melambaikan tangan.

Kami berjalan keluar mengantarkan Dani. Di luar Ayah masih mengenakan jas hujan dan helm. Motornya pun sudah parkir menghadap keluar.

“Yah ini Dani rumahnya katanya dari rumah Kakek lewat sedikit. Dan ini nanti sepulangnya dari rumah Dani mampir ke Musala, ini untuk yang berbuka di Musala.” jelas Bunda pada Ayah sambil memberikan body bagnya.

“Oke” jawab Ayah santai sambil mengambil body bag yang diberikan Bunda dan menyimpannya didepan.

“Ayo naik” Perintah Ayah pada Dani. Tak menunggu perintah lagi dengan cepat Dani naik motor dibelakang Ayah.

“Sudah siap” Tanya Ayah pada Dani.

“Oke Om” Jawab Dani

“Bismillahi Majriha Wamusahaa Innarrobbi Lagofururrohim” gumam Dani lirih nyaris tak terdengar.

“Hati-hati” Pesanku dan Bunda.

“Bismillahirrahmaanirrohim, Bismillahi Majriha Wamusahaa Innarrobbi Lagofururrohim, Assalamualaikum.” Salam Ayah lantas menjalankan motornya.

“Waalaikum salam” Jawabku dan Bunda sambil masuk lagi ke dalam rumah. Kembali mempersiapkan untuk berbuka. 


#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Gorengan


”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...