Selasa, 22 Oktober 2019

PERJUANGAN SEMALAM





PERJUANGAN  SEMALAM

Mataku mulai lelah selalu menatap leptop yang sudah beberapa jam yang lalu ada dihadapanku. Pundak  pun mulai pegal karena merunduk. Secangkir kopi pahit telah lenyap berpindah tempat. Tinggal beberapa remahan goreng pisang yang dikerubuti semut hitam. Rasa kantuk sudah mulai menyerang. Ku coba ke kamar mandi untuk berwudu dan salat. Siapa tahu selesai salat kantuk pun tak terlalu menyergap.

Benar saja selesai salat, kantukku  tidak terlalu mendera. Ku coba mengetik lagi beberapa kata melanjutkan tulisan yang tadi sempat ditunda. Ku berpikir mencari kata-kata, sesekali membuka kamus mencari padanan kata yang dapat dicerna pembaca.

Kulihat penanda waktu di sudut kanan bawah leptop ternyata sudah menunjukkan pukul 22. 30. Kutarik napas dalam-dalam mengisi paru-paruku yang kosong. Ku hembuskan kembali perlahan, seakan terasa sayang jika udara dalam paru-paruku kembali kosong.

Ah aku mulai lega akhirnya tulisanku selesai juga. Kembali kulirik penanda waktu di sudut kanan bawah leptop. “Ehmmm baru pukul 23.00, aahh masih ada waktu masih bisa diunggah sebelum batas waktu habis.” pikirku dalam hati.

Kusiapkan tetering internet ke laptop, agak lama juga koneksinya masih berputar-putar mencari sinyal. Dengan sabar kutunggu sampai tersambung. Sambil menunggu internet tersambung ke laptop, kembali ku skrol ke atas tulisanku, membaca dengan teliti hasil tulisanku malam itu ternyata ada beberapa kata yang typo lalu kuperbaiki.

Ketika sedang membaca ulang hasil tulisanku ada peringatan low power. Kucari charger di tas laptop yang biasa tempatnya tak kutemukan. Ku cari di kamar barangkali dimainkan oleh cucuku, di kamar pun tak ada. Ku coba kembali mengubrak-abrik tas dan meja belajar tak ditemukan juga. Ku buka laci satu persatu dengan perlahan, aku tak ingin membangunkan keluargaku yang sudah terlelap, charger yang kucari masih belum ditemukan juga.

Aku pun mulai panik, kembali kulirik penanda waktu di sudut kanan bawah leptop sudah menunjukkan pukul 23. 48. dan klik laptop itu mulai jadi gelap tak dapat memantulkan kembali cahaya.

 “Ah ternyata untuk yang kedua kalinya tulisan yang dari tadi diperjuangkan agar posting sebelum habis waktu, akhirnya kembali gagal.” Pikirku sambil menutup laptop dan mengakhiri perjuangan malam itu.

Sudah terbanyang besok pun pasti kembali ngutang, karena perjalanan dinas ke luar kota yang sudah dijadwalkan. Aku pun harus berkemas mempersiapkan barang yang diperlukan besok. Pendampingan akreditasi pasti sampai sore dan sampai ke rumah pasti tengah malam.

Aku pun tersenyum getir, sambil mengangkat bahu sendiri. Hemm sampai kapan aku bisa bertahan dengan tekanan dan tuntutan. Antara ambisi dan kewajiban. Antara hobby dan pekerjaan. Berharap bisa terus berjalan tapi kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Aku tak ngoyo dengan ambisi. Aku hanya mencoba kemampuan sampai sejauh mana bisa bertahan.

Sekian.

HARI SANTRI NASIONAL







Sebelum Subuh Nita sudah bangun seperti biasanya. Apalagi sekarang dia mau mengikuti uapacara “Hari Santri” di Mesjid Raya Raudhatul Irfan Jalan Raya Sukabumi Cisaat, Cimahi, Cicantayan, Sukabumi, Jawa Barat. Setelah salat subuh dia langsung sarapan yang sudah disediakan ibunya.

“Ayo sudah siap belum?” Tanya ayah yang mau mengantar ke Sekolah dengan motornya.

“Ya sebentar pakai sepatu dulu.” Jawab Nita sambil memakai sepatu. Setelah salam pada ibunya lalu memakai helm mendekati ayahnya yang sudah siap.

Setibanya di sekolah teman-temannya sudah naik bus yang disediakan sekolah.

“Nit, Nita!” Suara Laura memanggil. Nita hapal suaranya yang sedikit serak tapi dimana orangnya tidak kelihatan. Nita masih mencari-cari Laura yang tadi memanggilnya. Tak berapa lama jendela bus ada yang dibuka. Kepala Laura menyembul ke luar dan kembali memanggil.

“Hai Nit sini! Kursi mu sudah aku tandain.” Kata Laura di dalam bus.

Nita lalu naik bus lewat pintu depan dan duduk di pinggir Laura. Tak lama bus pun melaju menuju Masjid Raudhatul Irfan Cisaat. Sepanjang perjalanan bus yang mengantar mereka terus melantunkan salawat diikuti oleh anak-anak.

Sekitar pukul 7 bus yang ditumpangi Nita dan teman-teman baru sampai di tempat tujuan. Anak-anak perempuan yang rata-rata memakai gamis putih, sedangkan yang laki-laki memakai baju koko putih dan kain sarung.

Keadaan di Masjid sudah ramai oleh pengunjung bahkan ada yang dari subuh sudah di sana dan salat subuh berjamaah. Ada juga beberapa yang mengikuti kegiatan malam dan menginap di Masjid itu. Ada 5 pembicara yang memberikan sambutan pada acara ini.

Ada beberapa poin amanat yang Nita catat pada beberapa sambutan yang didengarnya.

a.       Hari Santri ditetapkan setiap tanggal 22 Oktober, ditetapkan berdasarkan UU nomor 22 Tahun 2015. Melalui UU ini menetapkan Pendidikan Pesantren dapat meningkatkan peran dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa dan negara melalui fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

b.      Santri harus kreatif, inovatif dan adaptif terhadap nilai baru yang baik sekaligus juga 
       teguh menjaga nilai-nilai tradisi lama yang baik juga.

c.   Para santri selalu memperjuangkan tegak dan lestarinya ajaran Islam di Indonesia ini. Karena itu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancaslia telah disepakati oleh para pendiri bangsa, seluruh warga Indonesia termasuk didalamnya adalah para santri wajib patuh dan menjaga serta mempertahankan konsensus kebangsaan.

d.     Kiai sebagai simbol kepemingpinan. Walaupun santri sudah mendapatkan titel berapa pun, atau menyelesaikan pendidikan dimana pun santri harus siap mendukung dibelakang para kiai.

e.    Meninggikan kalimat Allah yang paling luhur dan tegaknya agama Islam sebagai rahmatan lil alamin bukan hanya akidah dan syariah tapi ilmu dan peradaban, budaya dan kemajuan, serta kemanusiaan semuanya perlu diperjuangkan.

“Nit nanti kita gabung ya catatannya, soalnya tadi aku ada yang kurang jelas. Terus tadi si Aldo minta minum lagi jadi aku kurang konssentrasi.” Pinta Laura pada saat duduk kembali di bus mau pulang.

“Oke” Jawab Nita sambil mengacungkan jempolnya. Dan tak lama bus pun melaju membawa para santri kembali ke tempatnya.


ooooooooooooooooOOOoooooooooooooo

Senin, 21 Oktober 2019

MENGENALKAN AGAMA PADA BALITA





MENGENALKAN AGAMA PADA BALITA

Faza baru saja terbangun dari tidurnya. Anak berusia tiga tahun itu memanggil Papa ketika matanya masih belum terbuka sepenuhnya. Papanya datang menghampiri dan berbaring disampingnya.

“Alhamdulillahilladi ahyana badama amatana waillahinnusur.” Kata Papa perlahan dekat telinga Faza dan dibaca sebanyak tiga balik. Faza mengikuti doa yang dibaca Papanya  perlahan.

“Eh anak Papa sudah bangun ternyata, Selamat pagi sayang. Assalamualaikum.” Kata Papa sambil mengecup kening Faza dengan sayang. Faza hanya tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya ke arah dinding kamar.

“Apakah anak Papa ngompol (buang air kecil di tempat tidur)?” Tanya Papa pada Faza menggoda.

“Tidak.” Jawab Faza mantap sambil menggelengkan kepala.

“Wah pintar dong, sudah besar anak Papa sekarang.” Papa memuji Faza yang masih terbaring di tempat tidurnya.

“Kalau begitu yu kita ke kamar mandi!” Ajak Papa pada Faza sambil mengulurkan tangan mengajak Faza.

“Tidak mau, dingin.” Faza merajuk tidak mau diajak ke Kamar mandi.

 “Kalau begitu kita naik kuda aja yu.” Ajak Papa masih merayu.

“Hayu mau maua aku mau naik kuda.”  Jawab Faza antusias sambil bangun dari tidurnya.

“Tok tak tok tak....” Papa menggendong Faza dipunggungnya sambil jalan meloncat-loncat meniru jalannya kuda.

Tiba di depan pintu kamar mandi Papa membaca doa.

“Allahuma inni audubika minal hubusi wal khobaisi” Papa membaca doa perlahan yang diikuti oleh Faza dengan putus-putus. Papa membimbing Faza buang air kecil dan wudu persiapan salat subuh.

Faza ikut salat subuh di ruangan tempat salat walaupun kebanyakannya jalan-jalan mengelilingi abinya, atau duduk di tempat sujud, bahkan sampai naik ke punggung Papa ketika Papa sedang sujud.

Oa oa oa terdengar suara bayi menangis. 

“Papa Dede Yoya nangis.” Kata Faza memberitahu Papa yang masih duduk berdoa di tempat salat. Papa hanya mengangguk sambil menatap Faza. Bibirnya masih komat-kamit membaca wirid. Walaupun belum dapat melapalkan huruf “r dan l” sehingga terdengar “y” tapi perkataannya sudah dapat dimengerti,

“Papa Dede Yoya nangis.” Kata Faza kembali sambil memukul-mukul tangan Papanya yang baru saja mengaminkan menutup doanya. Semakin lama semakin jelas suara tangisan bayi di kamar depan. Keduanya berjalan menuju kamar depan.

“Assalamualaikum, wah Putri Papa sudah bangun juga, mengapa memanggil-manggil basah bukan mau ganti?” Papa mengajak Yora berbicara sambil mencium keningnya. Yora yang ditinggal Mamanya ke kamar mandi. Merasa ada yang menemani Yora pun menghentikan tangisnya dan tersenyum lucu menggemaskan.

Papa mengganti popok bayi Yora. Menggendong dan membawanya ke kamar tengah menemani Faza yang sudah mengeluarkan mobil-mobilan mainannya. Sambil menunggu mama salat subuh, Papa menghangatkan air di dispenser.

Setelah menyeduh susu untuk Faza dan bayi Yora sudah digendong mamanya. Papa menemani Faza bermain.

Nit not nit not... Papa menirukan suara serine pemadam kebakaran sambil menjalankan mobil pemadam kebakaran mendekati mobil-mobilan yang dimainkan Faza.

“Wah mobil kebakaran perlu isi bensin sebelum bertugas.” Kata Papa bergabung dalam permainan Faza.

“Mobiy poyisi dan mobiy truk sampah ayo kita sayapan dulu.” Kata Faza menyambut permainan Papanya sambil memajukan mobil polisi dan mobil truk sampah oleh kedua tangannya.

“Mobil pemadam kebakaran ayo pimpin baca doanya. Bismillahirohmaanirohim. Allahumma Bariklana Fima Rojaktana Wakina Adaabannar.” Papa baca doa mau makan secara perlahan supaya dapat diikuti oleh Faza.

“Mobil polisi ayo duluan isi bensin buka mulutnya.” Perintah Papa sambil membawa cangkir susu ke mulut Faza. Faza membuka mulutnya dan meminum susu hangatnya. Begitu seterusnya Papa memanggil mobil-mobilan Faza bergantian sampai susu dicangkir habis.

“Semuanya sudah isi bensin?” Tanya Papa sambil memegang mobil pemadam kebakaran. Mobil yang paling besar ukurannya diantara mobil mainan yang ada disitu.

“Sudah, aku sudah isi bensin.” Jawab Faza sambil memgang Bus kecil biru si Tayo. 

“Bolehkan aku bertanya.” Tanya Papa sambil menggerakkan mobil pemadam kebakan menirukan seperti sedang berbicara.

“Boyeh, boyeh.” Faza menjawab pertanyaan Papanya sambil menggerakkan mobil truk sampah.

“Coba truk sampah tolong bacakan surat Al Fatihah!” Perintah Papa masih memegang mobil pemadam kebakaran dan mengangkatnya agak tinggi dibanding mobil lainnya.

“Binmiyyahiyyohmaaniyyhim...” Faza membaca surat Al Fatihah sampai selesai. Sambil mengangkat mobil truk sampah meniru mobil pemadam kebakaran yang tadi dipegang Papanya.

Begitu seterusnya secara bergantian memanggil mobil-mobilan untuk membaca surat-surat pendek. Kadang-kadang mengingatkan jika Faza ada ayat yang terlewat atau lupa memulai bacaannya.

Alhamdulillah sudah beberapa surat pendek dan doa-doa harian bisa dilafalkan Faza. Walaupun pelafalannya belum pasih. Begitulah salah satu metode di keluarga kami mengenalkan agama pada anak-anak.

Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

oooooooooooOOOooooooooo



Minggu, 20 Oktober 2019

VIHARA DEWI KWAN IM


VIHARA NAM HAI KWAN SE IM PO SAT
Vihara Dewi Kwan Im

Di Sukabumi banyak objek wisata yang dapat dikunjugi. Baik wisata religi, budaya bahkan wisata alam yang menantang adrenaline. Kebudayaan yang beragam, pesona alam yang eksotik memanjakan pandangan dan menjadi spot foto yang memesona, kuliner yang menggugah selera memberikan ragam pilihan untuk mengoyangkan lidah, memjadi beberapa alternatif pilihan untuk mengisi liburan.


Salah satu objek wisata religi yang ada di Sukabumi adalah objek wisata Vihara Nam Hai Hwan Se Im Pu Sa yang lebih terkenal dengan Vihara Dewi Kwan Im. Objek wisata ini terletak di Daerah Loji tepatnya ada di Kampung Cibutun RT 43 RW 12 Blok Citaringgul Desa Kertajaya Loji Kecamatan Simpenan Kota Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat Indonesia.


Untuk sampai ke Vihara Dewi Kwan Im ini jarak yang ditempuh sekitar 80 kilometer dari Kota Sukabumi atau 25 kilmeter dari Pelabuhan Ratu. Supaya lebih leluasa dan dapat mengatur waktu sesuai keinginan sebaiknya membawa kendaraan sendiri akan lebih nyaman atau menyewa bersama rombongan.






Pemandangan pertama yang akan didapati di Kuil Dewi Kwan Im ini adalah naga berkepala tujuh di sisi kanan dan kiri ekornya yang memanjang ke atas mendampingi pejalan kaki menaiki ratusan anak tangga. Ukiran naga yang memiliki ciri khas warna emas dengan gaya ukiran Thailan yang unik bisa jadi spot foto yang menarik.






Jangan heran bila harus menapaki anak tangga sampai tarusan untuk mencapai puncak, karena memang Kuil ini dibuat di daerah perbukitan. Diperlukan kesabaran untuk mencapai puncak tetapi rasa cape akan segera hilang terobati dengan indahnya arsitektur kuil dan pemandangan lepas yang memesona.



Tidak perlu terburu-buru untuk mencapai ke puncak untuk memuaskan rasa penarasan. Jika memang lelah bisa beristirahat sambil membuka perbekalan. Atau hanya sekedar mengambil foto untuk mengabadikan kenangan perjalanan.

          
              







            Pemandangan menakjubkan bisa disaksikan disini. Laut lepas sejauh mata memandang. Matahari tenggelam ke dasar samudra bila anda beruntung. Awan cerah seakan dapat digapai dengan mudah sungguh pesona alam yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

            Semua pesona yang menakjubkan ini akan anda dapatkan dengan gratis. Ajaklah keluaraga, sanak saudara, kerabat atau teman anda berkunjung ke sini. Apalagi anda yang hobi mencari objek foto pasti banyak objek yang akan anda dapatkan dan dengan bangganya anda pajang di media sosial.












Sabtu, 19 Oktober 2019

PERISTIWA DI BOJONG KOKOSAN 6


PERISTIWA BOJONG KOKOSAN 6





Sore itu hari Minggu tanggal 9 Desember 1945 Kendaraan pengawal konvoi sekutu datang dari arah Bogor menuju Sukabumi. Tentara Inggris dan NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) yang dilengkapi dengan puluhan tenk baja, panser wagon, dan truk berisi puluhaan ribu tentara Gurkha, mortir dan senapan mesin.

Tentara sekutu berhasil masuk ke garis pertahanan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Ketika mendekati Tebing Bojong Kokosan tepatnya di Jalan Siliwangi nomor 75 Kecamatan Parungkuda Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mendahului melakukan serangan terhadap tentara sekutu. Pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Eddie Sukardi melakukan penghadangan mulai dari daerah Cigombong, Cicurug, Bojong Kokosan, Pamuruyan, Cibadak, Sakopi, Ciseureuh, Degung, Cimahpar, Pasekon, Sukaraja, Gekbrong dan Ciranjang Cianjur.

Serangan-serangan yang dilakukan Pasukan Tentara Keamanan Rakyat selama ini dianggap gangguan-gangguan kecil yang tidak menimbulkan korban berarti. Namun pada serangan 9 Desember 1945 sungguh sangat menggemparkan dunia. Walaupun dengan peralatan sederhana dan kekuatan yang tidak seimbang. Pertempuran ini banyak menimbulkan korban. Pasukan sekutu menelan korban 50 orang tewas, 100 luka berat dan 30 orang menyerah. Sedangkan dari pihak TKR menelan korban 73 jiwa. Dan menewaskan dan melukai ratusan rakyat sipil dan menghancurkan ratusan rumah warga.  Setelah Angkatan Udara Inggris membombardir Desa Kompa, Desa Parungkuda dan Desa Cibadak. Pertempuran bahkan dianggap pertempuran terbesar selama Perang Dunia II.

Penghadangan yang dilakukan hampir 81 KM sepanjang jalan protocol Bogor Sukabumi Cianjur. Dibagi menjadi beberapa titik dalam jarak 15 KM. Di titik Bojong Kokosan inilah yang paling menggemparkan dunia. Pasukan TKR dibantu dengan pasukan Laskar Rakyat Sukabumi, Barisan Banteng dan Hizbullah yang asalnya dianggap hanya gangguan kecil saja.  Mulai diakui dunia dan mereka mulai menghormati keinginan bangsa Indonesia yang ingin mendeka. Keikutsertaan Inggris dan sekutu dalam pertempuran Indonesia dan Belanda mulai dikecam dunia.

Posisi yang strategis dan menguasaan lokasi tempat tempur, menguntungkan pasukan TKR dalam peperangan itu. Jalan yang berkelok membentuk huruf  “S”. Posisi diatas sehingga memudahkan untuk mengawasi musuh. Tempat yang rimbun ditumbuhi pepohonan memudahkan untuk bersembunyi. Dan Talang air buatan Belanda yang melintas di atas jalan memudahkan pasukan TKR untuk berlari dari tebing satu ke tebing disebrangnya bila keadaan terpepet.

Penghadangan yang diawali dengan membuat lubang yang menganga di jalan. Warga menggotong lisung (Tempat memisahkan padi dari gabahnya) sengaja di simpan di jalan, Batu besar digulingkan berramai-ramai. dan lain sebagainya, untuk menghalangi agar mobil tidak dapat lewat. Ketika tentara sekutu menyingkirkan barang-barang yang menghalangi jalan itulah dilakukan penyerangan oleh Pasukan TKR. Sehingga menewaskan 50 orang tewas, 100 orang luka-luka dan 30 orang menyerahkan diri. sementara dari pasukan TKR tak ada satu pun korban.

Serangan balasan dari udara yang dilakukan tentara Inggris, meluluh-lantahkan Pasukan TKR daerah Cibadak, Parungkuda dan Kompa. Pertempuran yang kedua dalam keadaan tidak seimbang selama dua jam itu menelan korban jiwa yang tak sedikit baik dari tentara, maupun masyarakat sipil. Kalau saja Allah tidak mengirimkan bantuan berupa hujan dan kabut mungkin akan lebih banyak lagi korban dari pasukan TKR. Talang air dan tanah Bojong Kokosan bersimbah darah merah dari para pejuang yang mengorbankan segalanya demi kemerdekaan.

Pertempuran di Bojong Kokosan ini memicu pertempuran-pertempuran lainnya seperti Pertempuran 10 November di Surabaya dan pertempuran Bandung Lautan Api 21 November 1945.

Itulah sekilas peristiwa pertempuran di Bojong Kokosan, mudah-mudahan menambah wawasan dan menjadikan lebih menghargai jasa para pahlawan yang gugur di medan perang. Dan generasi berikutnya menjadi pengisi kemerdekaan, dengan menjadi sumber daya manusia yang handal. Sehingga bisa mewujudkan rakyat Indonesia yang adil dan makmur di Persada Nusantara yang kaya raya ini.

Terima kasih

ooooooooooooOOOoooooooooo

Jumat, 18 Oktober 2019

PERISTIWA DI BOJONG KOKOSAN 5




DI SURAU 

“Din, Udin....” Abah Husni memanggil Udin. Udin bukannya muncul dan mendekat. Udin ketakutan setengah mati, badannya semakin bungkuk ke dalam sehingga tidak kelihatan dari jauh. Baju depannya basah kena air selokan sedangkan bagian punggungnya basah oleh keringat karena takut. Udin pura-pura tidak mendengar, tangannya terus saja mengambil sampah yang ada di selokan.

“Angkat tangan!” Tiba-tiba kepala tentara itu sudah ada didekatnya sambil mengarahkan laras panjangnya.

“Sa...Saya Tuan...” Udin dengan terbata menjawab kepala tentara itu.

“Geledah orang ini.” Perintah kepala tentara pada anak buahnya. Salah satu anak buahnya menggeledah Udin.

“Tak ada apa-apa Pak!” Kata tentara yang memeriksa badan Udin yang basah. Setelah tak menemukan  barang-barang yang mencurigakan. Dan melihat tumpukan sampah yang berjejer di pinggir selokan. Tak ada lagi alasan kepala tentara itu mencurigai mereka.

“Ayo jalan.” Perintah kepala tentara pada anak buahnya. Mereka berjalan melanjutkan tugasnya. 

            
Bruuuuukkkkk


Suara air menghambur karena tertimpa badan Udin yang melorot ke bawah. Kakinya lemas melonjor dan duduk bersandar pada sisi selokan. Sambil mengambil napas panjang mengisi paru-parunya yang terasa kosong.  Beberapa menit berada didepan moncong senapan. Terasa sulit menghirup udara segar.

Badannya masih terasa lunglai, napasnya pun masih berat ketika Abah Husni mengajaknya untuk cepat pulang.

“Din Ayo cepat naik nanti ada yang patroli lagi.” Ajak Abah pada Udin yang masih duduk selonjor di dalam selokan. Mendengar kakaknya mengingatkan takut ada patroli lagi, Udin segera beranjak dia tidak mau kehilangan napasnya, bila terus-menerus berada di bawah moncong senjata. Udin berjalan di belakang kakaknya yang setengah berlari memburu waktu.

Abah dan Udin tidak langsung ke rumah, tapi ke MCK pancuran yang ada di Legok belakang rumahnya.

“Din, Abah langsung ke Surau ya, tolong bawa ini ke Rumah.” Pintanya pada Udin sambil memberikan celana dan baju basah yang sudah di cuci.

“Iya Bah.” Udin mengangguk sambil menerima baju basah yang diberikan Abah.

Abah Husni dengan memakai kain sarung dan baju koko yang tadi diikat dipingggangnya berjalan menuju Surau. Di sana sudah banyak anak-anak kecil yang sedang bermain di halaman Surau, sedang anak-anak yang agak besar masih berkumpul mengelilingi H. Toha yang baru saja selesai mengucapkan salam menutup pengajian hari itu. Dan tetangga yang mau salat berjamaah sambil menunggu waktu azan magrib.

H. Toha adalah pemberi tanah wakaf dan donatur terbesar pada saat pembuatan Surau dulu. Sekaligus juga Imam inti Surau tersebut. Kalau beliau tidak ada baru Abah Husni yang menggantikannya. Abah Husni sebagai muazin bila tidak sedang ditugaskan untuk keluar bergantian dengan Udin.

Sedangkan Udin pulang dulu ke rumah untuk menyimpan baju basah dan berganti pakaian yang tadi basah kuyup. Setelah berganti pakaian Udin baru menyusul ke Surau. Belum juga sampai Surau, suara Abah Husni sudah terdengar mengumandangkan azan magrib.

Diterangi oleh cempor (lampu berbahan bakar minyak) yang apinya selalu bergerak ketebak angin. Karena memang Surau itu hanya tertutup setengah badan. Setelah selesai salat Isya dan anak-anak yang mengaji sudah pulang. Abah Husni, H. Toha dan Udin masih berkumpul.

“Husni kumaha hasil rapat tadi? (bagaimana hasil pertemuan tadi)” H. Toha sudah tidak sabar ingin tahu informasi hasil pertemuan Husni dan Udin tadi di Parungkuda.

“Begini Kang Haji, Informasi yang saya terima akan ada konvoi tentara NICA yang akan membawa tawanan Jepang yang ada di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Tujuan mereka akan ke Bandung yaitu akan memberi bantuan pada militer yang ada di Bandung. Rencananya Tentara Keamanan Rakyat,  akan melakukan penghadangan terhadap sekutu. Mulai dari Cigombong Bogor sampai Ciranjang Cianjur. Pimpinan Tentara Keamanan Rakyat meminta agar organisasi masyarakat seperti Laskar Rakyat Sukabumi,  Pasukan Hizbullah, dan yang lainnya untuk ikut bergabung menghadang sekutu.” Abah Husni menghela napas sambil menegakkan badannya sesaat lalu memperhatikan keseliling takut ada yang mengintip pembicaraan mereka.

H. Toha manggut-manggut sambil menunggu kelanjutan informasinya.  

“Setelah diketahui siapa saja yang siap dan berapa jumlah personilnya baru nanti disusun siapa yang memimpin dan tugas di pos mana dan berapa jumlah persnilnya.” Abah Husni melanjutkan.

“Baiklah kalau begitu, Udin besok setelah subuh ikut saya berkeliling kita data seberapa besar kekuatan kita. Dan kamu Husni coba cek semua kebun dan leuit (tempat penyimpanan padi) seberapa banyak persediaan makanan yang kita punya. Kita harus tahu apa yang dapat kita bawa dan apa yang untuk di rumah.” H. Toha memberi intruksi.

“Baik Kang!” Abah Husni dan Udin keduanya menjawab serempak. Setelah bersalaman ketiganya membubarkan diri. H. Toha ke rumahnya pinggir Surau, sedang Abah dan Udin ke depan agak jauh dari Surau. Udin mengambil obor (penerangan terbuat dari banbu bersumbu kain bekas berbahan bakar minyak tanah) yang disimpan dipinggir Surau lalu menyalakannya sebelum meniup cempor yang tadi menerangi mereka di Surau itu.

Wah temen-teman ternyata masih bersambung, yang masih penasaran ikuti terus Peristiwa di Bojong Kokosan ...

oooooOOOooooo

Kamis, 17 Oktober 2019

PERISTIWA DI BOJONG KOKOSAN 4



4. Di Bawah Ancaman Laras Panjang
Kematian ibunya yang sangat disayangi tidaklah menyurutkan semangatnya untuk berjuang. Justru malah sebaliknya menyulut semangatnya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan.

Seperti halnya pagi itu Abah Husni dan Udin setelah salat subuh sudah berangkat mau ke Ongkrak daerah dekat Pamuruyan Cibadak. Ketika hari masih gelap mereka berjalan melalui jalan biasa karena masih jarang orang yang berlalu lalang. Dan yang paling penting penjagaan dari para penjaga Belanda yang berpatroli masih belum banyak.

Abah Husni dan Udin bila harus melalui jalan yang dijaga oleh petugas perkebunan. Mereka mengelabui penjaga itu dengan mencap tangannya dengan buah atau pohon yang bergetah coklat. Penjaga itu bisa dikelabui karena orang pribumi yang direkrut oleh Belanda bertugas menjaga perkebunan rata-rata buta huruf. Mereka tidak bisa membedakan mana yang asli mana yang palsu.

Suatu ketika sepulang dari musyawarah yang diadakan di Parungkuda. Abah Husni menempuh jalan rel kereta api karena hari sudah sore. Kain sarung yang selalu dibawanya kemanapun pergi untuk memudahkannya salat dililitkan dipinggangnya. Peci hitam yang dipakainya dengan keadaan menyilang dan ditekan lebih dalam. Sehingga penampilannya jauh berbeda pada saat keluar dari forum rapat tadi.

“Bah, Bah ada tentara.” Kata Udin yang pertama kali melihat ada tentara di depan mereka.
“Mana?” Tanya Abah sambil menengk kekanan dan kiri.
“Itu!” Tunjuk Udin mengangkat tangannya mengarah ke kanan depan. 
“Kamu turun ke selokan bersihkan sampah-sampah yang menghalangi air mengalir.” perintah Abah sambil meninggalkan Udin yang kebingungan. Mengapa kakaknya menyuruh membersihkan selokan bukannya lari atau bersembunyi. Walaupun merasa bingung Udin melaksanakan perintah kakaknya. Lalu ia turun ke selokan dan mengerjakan apa yang diperintahkan.

Sementara itu Abah Husni malah turun ke sawah. Buku catatan hasil rapatnya tadi yang dibungkus plastik dikeluarkan dari sakunya. Lalu dimasukan ke dalam lumpur sawah dan diinjak oleh kaki kanannya. Celana pangsinya yang masih bersih dikotori dengan lumpur sawah. Tangannya membersihkan lumput liar yang tumbuh disela-sela tanaman padi. Matanya sesekali mengintip pada tentara yang berjalan beriringan yang semakin mendekatinya.

“Hai kamu sedang apa?” Tanya pemimpin tentara sambil menodongkan laras panjangnya.

“Aa...ampun Tuan, Sa...saya petani sedang membersihkan padi dari gulma.” Jawab Abah Husni sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang gulma yang dibersihkannya.

“Benar kamu petani bukan pejuang?” Tanya kepala tentara masih menodongkan laras panjangnya.

“Benar Tuan...Saya hanya petani biasa, Saya tidak tahu apa-apa mengenai perjuangan. Saya hanya memikirkan makan anak-anak saja.” Abah Husni berusaha menyakinkan kepala tentara itu.

“Mengapa sudah sore begini kamu belum pulang?” Tanya kepala tentara itu masih mengintrogasi Abah Husni.

“Rumah saya dekat di bawah situ, biasanya sebelum magrib saya sudah sampai di rumah.” Jawab Abah sambil menunjuk pada jembatan yang akan dilaluinya.

“Geledah badannya!” Perintah kepala tentara pada anak buahnya. Seorang tentara maju ke depan mendekati Abah Husni.  Lalu membuka kain sarung yang tadi diikat dipinggangnya. Kain sarung itu di buka dan hanya ada baju bekas tadi rapat didalamnya.

“Mengapa kamu ke sawah tapi bawa baju bersih.” Tanya kepala tentara sambil kembali mengarahkan laras panjangnya ke tubuh Abah.

“Oh itu tadi pagi Saya ke sawah bawa pacul dan golok. Waktu sebelum duhur Saya pulang menyimpan semuanya karena ada tetangga Saya yang meninggal. Setelah melayat Saya langsung ke sini karena tadi pagi sawah ini kering tak berair.” Abah Husni mengarang cerita yang supaya dapat diterima kepala tentara.

“Sama siapa kamu di sini.” Tanyanya lagi masih menodongkan laras panjangnya.

“Awalnya Saya sendiri, tapi tadi adik Saya lewat Saya mintanya membantu supaya cepat selesai.” Jawab Abah Husni.

“Dimana sekarang adikmu?” Tanya kepala tentara lagi.

“Disana Tuan sedang membersihkan aliran selokan supaya airnya lancar.” Jawab Abah sambil menunjuk ke arah Udin.

Udin yang dari tadi berada di selokan mengintip dengan juru matanya. Jantungnya berdetak cepat seakan sudah berlari berkilo-kilo meter. Lututnya bergetar lemas menyangga beban tubuhnya. Udin khawatir takut terjadi apa-apa pada kakaknya.  Melihat laras panjang masih ditujukan pada badan kakaknya. Tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Sambil mengintip kakaknya tangannya tak berhenti mengumpulkan sampah dari selokan ditumpuk menyerupai gunung-gunung kecil dipinggir selokan.

“Din, Udin....” Abah memanggil Udin. Udin bukannya muncul dan mendekat. Udin ketakutan setengah mati badannya semakin bungkuk ke dalam sehingga tidak kelihatan dari jauh. Baju depannya basah kena air selokan sedangkan bagian punggungnya basah oleh keringat karena takut. Udin pura-pura tidak mendengar tangannya terus saja mengambil sampah yang ada di selokan.

“Angkat tangan!” Tiba-tiba kepala tentara itu sudah ada didekatnya sambil mengarahkan laras panjangnya.

Bagaimana kisah ini? ikuti terus kelanjutannya...

ooooooOOOooooo

”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...