Sabtu, 17 April 2021

Takjil



TAKJIL

AKHIRNYA

 

 

“Alisaaa”

“Alisaaa” Suara teman-teman Alisyia memanggil dari luar rumah. Bunda yang masih mengaji mengakhiri bacaannya dengan Sodaqollahu Adhiim, lalu memberi tanda dengan pita yang tergantung dalam Al Quran. Mencium Al Quran sebentar, menutup dan menyimpannya di meja yang ada di Kamar itu.

 

Masih menggunakan mukena, tergegas Bunda membuka pintu. Tampak di luar Rani dan Ana teman-teman Alisyia sudah rapih menggunakan busana muslim lengkap dengan tas masing-masing.

“Ayo masuk dulu, Alisyia nya masih tidur, biar nanti Bunda bangunkan dulu.” Bunda menyambut teman-teman Alisyia.

 

Setelah teman-teman Alisyia duduk, Bunda melipat mukenanya dan memakai kerudung instan. Kemudian masuk kamar Alisyia untuk membangunkannya.

“Alhamdulillahilladhi Ahyana Badama Amatana Wailaihinnustur” Bunda membisikkan doa bangun tidur ditelingaku sambil mengusap-usap rambutku. Perlahan Alisyia menggeliat dan membuka matanya.

“Ayo bangun sayang teman-temannya sudah menjemput tuh.” jelas Bunda.

“Jam berapa Bun?” tanyaku pelan agak serak masih merasa lemas.

“Baru jam satu masih ada waktu untuk mandi dan bersiap” Jawab Bunda.

“Alhamdulillahilladhi Ahyana Badama Amatana Wailaihinnustur” Aku berdoa lalu perlahan bangun dari tidur, mengambil handuk dan mandi bersiap mau mengaji di Musala.

 

Setelah rapi dengan busana muslim lengkap dengan jilbabnya, menggendong tasku lalu keluar kamar.

“Hai maaf ya menunggu lama, tadi ketiduran” sapaku pada teman-teman.

“Ya tidak apa-apa masih siang juga masih ada waktu,” jawab Rani dan Ana.

“Bun ! Adik sudah siap belum” Aku memanggil Bunda menanyakan adik.

“Sebentar Adiknya masih lemas katanya.” Jawab Bunda dari kamar Adik.

 

Aku menyusul ke kamar Adik melihat kondisinya. Adik baru selesai memakai baju lalu disisir dan memakai peci tampak cemberut. Adik merajuk tidak mau ngaji karena merasa lemas, haus, dan mau berbuka lagi.

 

“Adik sekarang ngaji dulu, nanti pulang ngaji ngabuburit lagi ngajak Kakek. Kalau ngabuburit nanti tidak terasa sudah waktunya berbuka.” kata ibu merayu Adik agar mau mengaji.

“Iya ayo nanti ke rumah Kakek lagi, kemarin katanya mau membuat layangan.” Aku mencoba merayu dengan mengingatkan janji Kakek yang mau membuat layangan.

“Oh iya mau belajar membuat layangan, kemarin Kakek sudah janji.” Adik antusias.

“Yu sekarang ngaji dulu, nanti dari Musala langsung ke rumah Kakek.” Tegasku.

“Nanti pulang ngabuburit jangan lupa beli takjil. Tadi pagi Bunda tidak sempat ke tukang sayur, keasikan menanam bunga. ” pesan Bunda.

“Bun takjil makanan apa?” Tanya Adik tak mengerti.

“Ayo sambil jalan nanti Kakak jelaskan, sudah siang juga kasian teman-teman menunggu.” jawabku sambil menuntun Adik keluar.

 

“Ini uang untuk infak dan ini uang untuk membeli takjil.”Bunda memberikan uangnya padaku.

Aku mencium punggung tangan Bunda diikuti oleh Adik dan teman-temanku.

“Assalamualaikum” Ucapku sama teman-teman yang diantar Bunda sampai pintu.

“Waalaikum salam, hati-hati jalannya.” pesan Bunda setelah menjawab salam.

‘Ya” Jawab kami serempak. Lalu berjalan kaki menuju Musala.

 

“Kak apa sih takjil itu?” Dalam perjalanan Adik kembali bertanya sambil menyentakkan tanganku. Kami beriringan berjalan kaki karena Musala tidak terlalu jauh dari rumah kami.

 

Sambil berjalan Aku menjelaskan arti takjil yang aku ketahui kepada Adik.

Takjil itu berasal dari Bahasa Arab, yaitu ajjala, yu’ajjilu, ta’jilan akar katanya a’jila artinya menyegerakan. Jadi takjil bermakna perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Ketika takjil dipergunakan oleh masyarakat Indonesia, maknanya sedikit bergeser jadi makanan untuk berbuka puasa. Maksudnya makanan tersebut akan dinikmati dalam upaya menyegerakan berbuka puasa. Sebab ada hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang artinya ‘Manusia masih berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.’ Kalau belum jelas nanti bisa bertanya pada ustadzah” Jelasku panjang lebar.

 

Tak terasa perjalanan Kami sudah sampai di Musala. Kami bergegas masuk Musala yang diawali dengan membaca doa masuk Masjid.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Takjil

 

Jumat, 16 April 2021

Ngabuburit



NGABUBURIT

KEGIATAN POSITIF MENJELANG BUKA PUASA

 

“Assalamualaikum, Kakek, Nenek.” Salamku serempak dengan Adik.

“Waalaikum salam” Jawab Kakek dan Nenek hampir bersamaan. Lalu Aku dan Adik mencium punggung tangan keduanya bergantian.

 

“Kek ngabuburit yu?” Kata Adik langsung mengajak Kakek dengan antusias.

“Eh pulang ngaji langsung ke sini? Pamit dulu sama Bunda nggak?” Tanya Kakek.

“Sudah tadi, malah Bunda yang nyuruh untuk ngabuburit ngajak Kakek.” terangku pada Kakek dan Nenek.

 

“Memangnya mau ngabuburit kemana?” Tanya Kakek lagi penasaran.

“Kek, mengapa disebut ngabuburit sih, memang waktu jaman Kakek kecil suka ngabuburit juga?” Tanyaku ingin tahu bukannya menjawab pertanyaan Kakek.

“Heh duduk sini, nanti Kakek jelaskan.” Kakek menyuruh kami duduk. Kami pun duduk di sopa depan, lalu Kakek mematikan televisi yang tadi ditontonnya.

Ngabuburit itu berasal dari bahasa Sunda. Asal kata burit artina waktu dur bedug magrib atawa waktu sakedeng deui kana magrib. Ngabuburit dalam bahasa Sunda ngadagoan burit dina bulan puasa bari jalan-jalan ( menunggu Azan Magrib untuk berbuka pada bulan Ramadan). Ngabuburit sekarang sudah ada di KBBI revisi 5 burit artinya sore. Ngabuburit dalam bahasa Indonesia jadi mengabuburit artinya menjelang waktu buka puasa pada bulan Ramadan. Anak-anak biasanya dengan bermain, jalan-jalan, atau mencari takjil, atau mendatangi pasar kuliner. (KBBI V).” Kakek menjelaskan panjang lebar.

 

“Kek, kalau waktu Kakek kecil kalau ngabuburit suka kemana?” Tanya Adik ingin tahu.

“Wah waktu kakek kecil kalau ngabuburit biasanya bermain. Permainan yang paling sering dimainkan adalah main layang-layang di sepanjang jalan rel kereta api. Apalagi kalau sawah disekitar tempat itu sudah panen. Anak-anak lebih leluasa mengambil layangan putus kalau dalam bahasa Sunda disebut ngaronce. Itu yang paling seru berburu layangan putus.” Jelas Kakek dengan mata berbinar mengenang masa kecilnya.

 

“Apa senangnya berburu layangan putus.” Tanyaku pada Kakek.

“Nah itu ada pilosofinya. Kalau orang yang selalu menang dalam berburu layangan putus. Orang itu dikatakan sehat pisiknya karena harus beradu lari cepat dengan yang lain. Napasnya kuat, banyak akal sebab banyak layangan yang nyangkut di pohon sehingga harus berpikir bagaimana cara mendapatkan layangan dan layangannya tidak rusak, nah itu memerlukan kesabaran. Terus kita harus legowo artinya kita harus menerima dengan ikhlas bisa layangan yang kita kejar tapi pada akhirnya di dapatkan orang lain. Banyak yang berkelahi gara-gara berebut layangan putus. Memang sih harganya tidak seberapa. Tapi usaha dan gengsinya itu lain, kalau layangan yang kita terbangkan hasil buatan sendiri atau dapat berburu dibandingkan dapat beli.” Jelas Kakek dengan berbinar.

 

“Kek memang Kakek mahir main layangan.” Tanya Adik lagi ingin tahu.

“Wah jangan ditanya, mulai dari membuat layangan, menaikkan layangannya, berburu layangan putus sampai memilih mana layangan yang bagus dan layangan yang kurang bagus, itu mah Kakek ahlinya.” Kata Kakek sambil menepuk dada.

 

“Wah seru dong Kek, ajarin Adik yu bermain layangan ke jalan kereta.” Ajak Adik penasaran.

“Yah harus beli dulu dong layangannya, kalau membuat layangan sekarang tidak ada bahannya harus beli dulu.” Kata Kakek menjelaskan.

 

“Yu Kek beli yu.” Ajak Adik antusias sambil menarik-narik tangan Kakek mengajak pergi.

“Ayo kalian tunggu di depan, Kakek mau mengeluarkan dulu motornya, sekalian pamit ke Nenek.” Jawab Kakek sambil pergi ke dapur menemui Nenek.

“Ye” Aku dan Adik bersorak senang. Kemudian berlarian ke depan menunggu Kakek mempersiapkan motornya.

 

Tak lama Kakek datang mendorong motor dari pintu garasi. Lalu menstaternya dan memakai helm.

“Pamit dulu sama Nenek sekalian ambil helm kalian di garasi.” Perintah Kakek padaku dan Adik.

 “Nek, berangkat dulu ya mau ngabuburit dulu sama Kakek.” Pamitku dan Adik.

“Iya jangan ke-Magriban nanti Kakeknya ingetin kalau sudah jam 6.45 ajak pulang. Kakek kalau main layangan suka kebablasan. Nanti bukanya disini kita mau sekalian buka bersama. Ayah sama Bunda mu juga nanti nyusul ke sini.”

“Oke, kita pamit, Assalamualaikum, dadah.” Pamitku sambil melambaikan tangan.

“Walaikum salam” Jawab nenek sambil menutup pintu.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#Ngabuburit

 

Rabu, 14 April 2021

Es Campur


ES CAMPUR

BIASANYA JAM 3 SORE SUDAH JUALAN

 

 

Hari ini Kamis tanggal 15 April 2021 bertepatan dengan tanggal 3 Ramadan 1442 H. Setelah salat subuh dan setoran ayat, keluarga kami tidak biasa untuk tidur pagi-pagi. Ayah biasanya membersihkan halaman dan sekelilingnya di luar rumah, sedangkan Ibu membersihkan ruangan di dalam rumah. Kalau hari biasa, Ibu membuat sarapan dan aku membersihkan di dalam rumah. Karena sekarang saum, jadi ibu tidak membuat sarapan, tapi menyapu dan mengepel sambil merendam cucian di mesin cuci.

 

Kegiatan Adik Ahmad, dia sudah anteng di depan televisi dengan film “The Good Dinosaur” yang diunduh Ayah. Sedangkan Aku sedang asyik membuat cerita untuk teman-teman dimana pun berada.

 

Karena hari ini masih libur belum ada kelas dalam jaringan pada masa pandemi Covid 19, jadi aku memanfaatkan waktu untuk bercerita pengalaman Ramadan pada kalian, semoga ada yang suka. Sedang asyik menulis cerita tiba-tiba telepon Ayah berbunyi. Aku beranjak dari duduk mendekati telepon yang ada di meja kerja Ayah. Terlihat nama kakek di telepon, ku terima telepon sambil berjalan ke luar mencari ayah.

“Assalamualaikum, Kek”Aku menjawab telepon.

“... “

“Ya Kek ! ada apa, Kakek dan nenek sehat kan?”tanyaku pada Kakek di telepon.

“...”

“Baik Kek, nanti sepulang ngaji Siang dari Musala, Kakak dan Adik Ahmad ke rumah Kakek dulu mengambil alpukatnya.”

“...”

“Waalaikum salam” Jawabku.

 

Aku menutup telepon dan menyimpannya kembali di meja kerja Ayah. Aku berjalan ke dapur sambil memanggil Bunda.

“Bun! Bunda!” panggilku

“Ya, Bunda di kamar mandi, ada apa Kak?” terdengar suara Bunda dari dalam kamar mandi.

 

Aku berjalan ke kamar mandi, berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka, memberitahukan kabar dari Kakek sambil melihat Bunda yang sedang membilas pakaian yang dicucinya.

 

“Kakek baru saja telepon katanya alpukat yang kemarin Ayah panen sudah matang, Kakak disuruh mengambilnya di rumah Kakek.” jelasku pada Bunda.

“Bun! kita buat Es Campur yu buat buka nanti?” spontan aku mendapat ide.

“Boleh, coba lihat di lemari pendingin ada apa saja bahannya, kalau belum lengkap tulis daftarnya nanti minta Ayah untuk membelinya sepulang kerja.” perintah Bunda masih sambil membilas pakaian.

 

“Siap, perintah Bunda segera dilaksanakan.” Jawabku sambil mengambil sikap berdiri sempurna dan mengangkat tangan seperti menghormat pembina upacara. Lalu berjalan meninggalkan Bunda yang tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

“Ada-ada saja anak ini” gumam Bunda walau pelan masih terdengar olehku.

 

Aku membuka Lemari pendingin, melihat sebentar lalu menutupnya kembali. Aku melangkah ke meja belajarku, mengambil nota kecil dan pulpen. Kembali ke dapur ke depan lemari pendingin dan membukanya. Lalu mencatat bahan yang belum ada untuk membuat Es Campur. Aku membawa susu kental manis dalam kemasan yang tinggal sedikit mendekati Bunda yang masih di kamar mandi.

“Bun, susunya cuma segini kira-kira cukup nggak buat nanti?” tanyaku pada Bunda sambil mengacungkan susu kemasan.

“Beli lagi saja, karena awal bulan Bunda tidak beli ketika di cek masih agak banyak.” Jelas Bunda. Aku kembali ke dapur menyimpan susu kemasan yang tadi dibawa, lalu menuliskannya didaftar belanjaan yang tadi ku tulis.

“Ada apa, pagi-pagi sudah buka-buka lemari pendingin?” Tanya Ayah yang baru masuk selesai membersihkan halaman dan sekitar rumah.

“Itu Kakek tadi telepon katanya buah alpukat yang kemarin Ayah panen sudah matang. Kakak mau membuat es campur untuk berbuka nanti. Tadi Bunda menyuruh Kakak untuk mengecek bahan-bahannya. Kalau yang belum ada supaya nitip ke Ayah untuk membeli sepulang kerja.” Ibu menjelaskan sambil mengelap tangannya yang basah dengan lap tangan.

“Oh, memang Kakak tahu bahan-bahan es campur apa saja?” tanya Ayah bernada mengetes.

“Ya tahulah Kakak kan suka bantuin Bunda kalau membuat es campur.” jawabku sedikit berbangga.

“Solehah dong Putri Ayah kalau suka bantuin Bunda. Tulis di WhatApp Bunda saja lalu kirim ke Ayah kalau dikertas suka lupa.” Perintah Ayah sambil mengusap rambutku lalu berjalan mengambil handuk langsung Kamar Mandi.

Aku mendata bahan es campur. Bahan yang sudah ada, alpukat masih di rumah Kakek, biji mutiara, kolang-kaling dan nangka sudah ada di lemari pendingin. Gula masih ada di toplesnya. Tinggal susu dan kelapa muda yang belum ada.  Aku mencari HP Bunda untuk menulis pesan di WhatApp dan dikirimkan ke HP Ayah. Lalu mengisi air di kotak lemari pendingin untuk membuat es batu. Sudah terbayang segar dan nikmatnya berbuka dengan es campur resep legendaris neneknya. Emmmm yami.

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni


 

Sirop

 


SIROP

MARJAN CINEMATICUNIVERSE

 

Ramadan tahun ini aku ingin mewujudkan beberapa rencana. Rencana yang ku susun tahun ini adalah khatam Al Quran selama bulan Ramadan, hapal Surat Al Muzammil sebanyak 20 ayat, menabung minimal Rp 100 ribu untuk sodaqah di Hari Raya Idul Fitri pada sepuluh orang anak yatim, dan terus bisa berbagi cerita pengalaman di bulan Ramadan ini, selama sebulan penuh untuk teman-teman yang senang membaca dimana pun berada.

 

“Hai sedang menulis apa cantik serius amat sampai kening mu berkerut begitu heh?” Aku tak mendengar ayah masuk, tiba-tiba sudah berada di belakang ku, mengusap rambutku dan menyelipkannya ke belakang telingaku.

“Nggak kok Yah, Cuma sedang bercerita aja.” Jawabku sambil secara spontan menutup buku diariku.

“Cerita apa sih kok langsung ditutup, memangnya Ayah tidak boleh tahu ya?” Tanya Ayah penasaran.

“Masih rahasia nanti kalau sudah tercapai baru deh Kakak cerita pada semuanya.” Kataku sambil menatap mata Ayah minta pengertian.

“Sebenarnya penasaran sih, tapi oke deh Ayah tunggu sampai Kakak mau cerita.” Kata Ayah sambil mengedikkan kedua bahunya sebagai tanda pasrah.

“Tapi sekarang ceritanya tunda dulu ya, bantu Bunda dulu menyiapkan untuk berbuka.” lanjut Ayah sambil kembali mengusap rambutku dan kembali keluar kamar.

Aku memberi tanda pada halaman buku harianku dengan pita yang ada pada buku, lalu menyimpannya kembali di rak meja belajar. Kemudian menyusul Ayah ke dapur membantu Bunda menyiapkan untuk berbuka.

 

“Kak Ais, antar ke depan yu, adik mau beli sirop untuk berbuka.” Ahmad mendekatiku minta diantar membeli sirop. Ya aku di keluarga suka dipanggil Kak Ais mengikuti panggilan Adik Ahmad, sangat jarang dipanggil lengkap dengan nama Alisyia Putri Iskandar. Sedangkan teman-teman sekolah suka memanggilku Alis. Berbeda dari semuanya kalau nenek dari pihak Ayah suka memanggilku dengan Putri dan Putra untuk Ahmad katanya lebih mudah.

“Ah kaya yang saum saja, memang masih saum?” kataku sedikit meledek sambil menata gelas di meja makan.

“Saum Kak tadi buka jam 12.00, terus saum lagi sampai sekarang belum berbuka lagi mau nunggu sampai magrib. Makanya mau sirop, tadi teman-teman juga pada beli kayanya seger.” Adik Ahmad memegang tanganku dengan tatapan memohon agar permintaannya dikabulkan.

“Dik dengerin yah!” Aku mendudukan Adik Ahmad di kursi makan, lalu aku pun duduk dan melanjutkan pembicaraan.

“Rosulullah mensunahkan untuk mensegerakan berbuka bila sudah waktunya, berbuka dengan yang manis-manis tapi bukan manis buatan, maka lebih utama dengan kurma dan jumlahnya ganjil. Nah kalau sirop manis buatan atau manis alami?” tanyaku pada Ahmad.

“Manis buatan.” Jawab Adikku secara sepontan.

“Nah itu Adik tahu, Sudah pinter itu.” Kataku memuji.

“Nah sekarang Adik dalam puasa ini mau dapat laparnya atau mau dapat berkahnya?” Tanyaku kembali.

“Yah mau dapat berkahnya dong.” jawab adikku lagi dengan manja.  

“Kalau mau dapat berkahnya berarti saumnya harus sesuai dengan petunjuk yang dicontohkan oleh Rosulullah. Jangan hanya menahan lapar saja, begitu berbuka seperti balas dendam memakan semua yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan kadar asupan dan jumlah yang dibutuhkan.” lanjutku menerangkan.

 

“Bagaimana, masih mau sirop?” Tanyaku sambil menatap Adikku.

“Tidak usah Kak, sop buah buatan Bunda juga cukup.” Kata Adikku sambil tersenyum.

“Ehem” Ayah mendekati meja makan sambil membawa sambel kacang yang tadi dibuatnya untuk teman karoket. Lalu mengacungkan jempol padaku sambil menatapku dan tersenyum.

“Supaya tidak penasaran, nanti deh pulang taraweh dari Masjid Kakak belikan sirop, lalu Adik bandingkan rasanya dengan sop buah buatan Bunda enak yang mana?” Kataku sambil melanjutkan kembali menata meja.

Aku menyiapkan air putih, menuangkan sop buah ke mangkuk kecil tak ketinggalan kurma dan karoket lengkap dengan sambal kacangnya paporitku.

 

Ibu membawa pisang goreng uli yang masih hangat dan menyimpannya di meja makan. Tak lama terdengar suara azan dari Masjid komplek.

“Alhamdulillah akhirnya sampai waktunya berbuka, ayo semuanya berdoa dulu” Ayah memimpin doa yang diaminkan oleh semuanya. Dan kami pun berbuka bersama.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#OneDayOnePost

 


Senin, 12 April 2021

Sahur (Biasanya Dibangunkan Bunda)


 

#RWCODOP2021 #DAY1

SAHUR

BIASANYA DIBANGUNKAN BUNDA

 

           

Sahur, sahur, sahur... sayup-sayup terdengar suara terbawa dalam mimpi lelapku. Tak lama menyusul sentuhan bibir lembut mencium kening. Alhamdulillahiladhi ahyana ba’dama amatana wailahi nustur terdengar lembut dibelakang telinga. Hembusan napasnya terasa hangat menyentuh kulit. Perlahan kubuka mata, memicing sedikit menyesuaikan penglihatan karena silau dari cahaya lampu.

 

Oh iya perkenalkan namaku Alisyia Putri Iskandar, aku Putri dari ayah bernama Iskandar Dinata dan Bunda Aisyah Fitriyah. Aku punya Adik laki-laki bernama Ahmad Putra Iskandar. Usia ku baru sepuluh tahun, dan aku baru kelas tiga Sekolah Dasar. Yo kita lanjutkan ceritanya.

 

“Ayo bangun sayang, sekarang kita mulai sahur pertama bulan Ramadhan ini.” Ibu mengangkat badanku untuk duduk. Sambil memelukku, Bunda mengelus-elus pungung tubuhku yang belum sepenuhnya sadar dari tidur.

 

“Ayo sikat gigi dan wudu dulu lalu belajar salat sunah dua rakaat ya.” perintahnya sambil membimbingku ke kamar mandi. Terdengar suara Ayah yang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran di tengah rumah.

 

Selesai wudu aku kembali ke kamar dan mengenakan mukena lalu melaksanakan salat sunah dua rakaat. Selesai memanjatkan sedikit doa yang ku hapal, kembali membuka mukena dan menggantungkannya di kastop. Ketika aku membuka pintu kamar, terdengar ayah membaca sodakallahuladhim sebagai tanda mengakhiri bacaan Al Quran nya.

 

“Yah boleh nonton televisi yah, sambil menunggu Bunda selesai.” Tanyaku pada ayah yang mau menyimpan Al Quran. Bukannya menjawab pertanyaanku ayah malah balik bertanya.

“Eh putri Ayah yang cantik sudah bangun, sudah salat sayang?” tanyanya padaku.

“Sudah dong” jawabku sambil mendekati televisi yang belum dinyalakan.

“Yah boleh nonton televisi yah?” tanyaku kembali pada Ayah.

“Boleh tapi jangan terlalu keras suaranya nanti adik bangun karena berisik.” jawab Ayah.

 

Acara “Sahurnya Pesbuker” yang ditayangkan ANTV yang pertama muncul. Candaan Rafi Ahmad, Ruben Onshu, Eko Patrio dan teman-temannya mengundang tawa penonton. Aku pun ikut tertawa sambil duduk di kursi depan televisi.

Sedang asyik nonton televisi tba-tiba bunda memanggil.

“Kakak ke sini dulu bantuin Bunda.” Aku masih duduk menikmati tontonan yang kocak tak mendengar Bunda memanggil.

“Eh Bunda memanggil tuh, bantuin katanya.” Ayah mengingatkan ku.

“Eh iya Bun ada apa?” tanyaku sambil berlari ke dapur mendekati bunda.

“Tuh waktunya sebentar lagi buat susu mu dan siapkan air rendaman kurmanya, jangan lupa menyiapkan alat makannya, Bunda mau menyiapkan sayur dan lauk pauknya.” pinta Bunda sambil mengambil mangkuk sayur besar.

 

Aku segera menyiapkan susu dan rendaman air kurmanya. Lalu menyiapkan piring untuk kami berempat sahur. Walau adik baru lima tahun tapi ayah suka membangunkannya dan menggendongnya ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Baru setelah itu kami makan sahur bersama.

 

Setelah selesai sahur, aku membantu ibu membereskan meja makan. Makanan yang tidak habis dimasukkan kembali pada lemari, lalu ibu membawa piring kotornya ke tempat cucian, sedangkan aku melap meja yang kotor karena makanan yang jatuh atau tetesan air yang tercecer.

 

Ayah membawa adik laki-laki ku ke kamar mandi untuk mengambil air wudu dan bersiap salat subuh. Setelah selesai melap meja, aku pun mengambil air wudu dan memakai mukena. Duduk disamping adik yang sudah rapi dengan kain sarung dan topi hajinya. Sedangkan ayah duduk di sajadah depan. Tak lama ibu pun menyusul bersiap untuk salat subuh berjamaah.

 

Selesai salat subuh dan berdoa dilanjutkan dengan mengaji. Aku membaca surat Al Baqarah di bimbing oleh bunda, sedangkan adik baru membaca Iqra jilid tiga. Setelah itu dilanjutkan dengan setoran hapalan ayat Al Quran masing-masing. Biasanya aku setor ke bunda, adik ke ayah lalu bunda ke ayah dan ayah ke bunda.

Sekian untuk hari ini terima kasih, tunggu kelanjutannya ya. 

#RWC2021

#ODOP

#RWCODOP2021

#Day 1

#Sahur

Rabu, 07 April 2021

Bab 4 Rumah Mewah


 

Bab 4 Rumah Mewah

Hera menyelinap masuk kamar rawat pasien yang ditolongnya. Sebelum pulang ke rumah, Hera menyempatkan diri untuk menengok orang yang ditolongnya secara diam-diam. Hera tidak mau banyak orang yang mengetahui identitasnya. Ketika wanita paruh baya yang diperkirakan ibu pasien,  yang selama ini menunggu pasien keluar untuk sarapan. Dan pengawal yang biasa berjaga di depan pintu sepertinya kebelet pergi ke kamar mandi disamping kamar sebelah. Saat melihat keadaan aman Hera menyelinap masuk kamar rawat secepatnya.  

“Tuan! saya tidak mengenal Tuan tapi dengan tulus saya berdoa semoga Tuan cepat sadar, Tuan cepatlah bangun kasihan kedua orang tua Tuan yang sangat menyayangi Tuan selalu sedih dan khawatir menanti Tuan bangun. Kasihan karyawan Tuan yang cemas menanti nasib Tuan. Maafkan saya yang tidak sempat menyelamatkan pilot yang membawa Tuan. Cepatlah sadar semua orang yang menyayangi Tuan sangat menantikan Tuan.” sambil mengelus kaki pasien yang tertutup selimut. Setelah berbicara pada Tuan yang ditolongnya Hera beranjak keluar meninggalkan kamar rawat.

Karena terburu-buru dan ketakutan diketahui orang lain, Hera tidak menyadari kalau jari pasien yang diajak biacaranya berkedut. Dari sudut matanya menetes air bening menyusuri pelipisnya. Hera keluar dengan tergesa-gesa kembali ke kamar rawatnya.

Pada hari  ini Hera diperbolehkan untuk pulang, setelah tadi pagi dokter memeriksanya. Hera sudah siap untuk berangkat. Tak lama datang dokter Alisya menjemputnya diikuti seorang lelaki dibelakangnya.

“Bagaimana sudah siap?” tanya dokter Alisya sambil memeluk Hera dan mengusap kerudung panjangnya.

“Sudah Dok! maaf merepotkan” sambut Hera dalam pelukan dokter Alisya yang mengelus lembut puncak kepalanya.

“Tidak merepotkan, awas jangan ngomong gitu lagi tante nggak suka.” Dokter Alisya menyela sambil mengacungkan telunjuknya di depan bibirnya.

“Mang Dadang tolong bawain tasnya” perintah dokter Alisya melirik laki-laki yang tadi datang bersamanya.

“Iya Bu! permisi saya duluan.” kata Mang Dadang mendahului sambil menjinjing dua tas di kiri-kanan tangannya dan berlalu meninggalkan Hera dan dokter Alisya.

“Yuk” dokter Alisya menggandeng pundak Hera meninggalkan kamar rawat rumah sakit.

***

Range Rover Sport 3.0 HSE warna putih yang membawa Hera dan dokter Alisya sudah terparkir manis di halaman rumah mewah. Mang Dadang bergegas turun membukakan pintu mobil. Dokter Alisya turun diikuti oleh Hera.

Hera ternganga menatap mewahnya rumah yang akan ditempatinya. Rumah bercat putih bergaya Eropa dengan halaman yang luas dilengkapi dengan taman bunga warna-warni berbagai jenis. Rumah dua lantai dilengkapi dengan mobil yang berjejer berbagai jenis membuat Hera terpana.

“Hai ayo masuk mengapa berdiri di situ?” dokter Alisya memanggil Hera yang berdiri mematung masih di dekat mobil.

“Iiiya, iya” Hera tersentak tersadar dari lamunannya. Dan perlahan maju mendekati dokter Alisya yang sudah berada di depan pintu rumahnya. Dokter Alisya menggandeng pundak Hera membawanya masuk ke dalam rumah.

“Selamat datang di rumah, anggap rumah sendiri, jangan sungkan. Ini Bibi Aminah pengurus rumah, bila ada yang dibutuhkan panggil Bibi Aminah.” sambil menepuk pundak Hera. Lalu berbalik menatap Bibi.

“Bi, tolong antarkan Hera ke kamarnya, dan siapkan segala keperluannya.” dokter Alisya memberi perintah.

Hera mencium punggung tangan Bibi Aminah, badannya sedikit membungkuk.

“Ayo Non ikut dengan bibi.” ajak Bibi Aminah. Terus berjalan menuju tangga dan naik ke lantai dua. Tak jauh dibelakanngnya Hera mengikuti sambil menjinjing body bag yang berisi pakaian dan beberapa alat keperluannya.

“Di sini Non silahkan istirahat dulu, Bibi ke bawah lagi mau menyiapkan makan malam. Nanti saatnya makan malam Bibi panggil.” Bi Aminah pamit meningglkan Hera di kamarnya.

“Iya Bi, terima kasih, maaf merepotkan Bibi.”

“Iiiihhh tidak merepotkan, Bibi senang malah, jangan sungkan kalau ada keperluan Bibi ada di bawah ya. Panggil saja nanti Bibi yang akan datang” pesan Bi Aminah, lalu pergi meninggalkan kamar Hera melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam.


***

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni


Selasa, 06 April 2021

Objek Wisata Air Terjun Di Sukabumi





 

OBJEK WISATA AIR  TERJUN DI SUKABUMI

            Pukul delapan pagi aku sudah nongkrong di depan Mesjid Palagan Bojongkokosan menunggu teman yang akan menjemput. Kami sudah sepakat mau berangkat bersama, reflesing  keluar rumah keluar sejenak dari kesibukan yang selalu padat merayap.

Kami bertiga berangkat dari Palagan Bojongkokosan menuju rumah teman di daerah Gunung Endut Kalapa Nunggal. Kurang lebih satu jam perjalanan yang kami tempuh sampai ke rumah teman, singgah sebentar sambil menunggu teman kami yang lainnya.

Dari Kalapa Nunggal menuju objek wisata yang baru beberapa bulan di buka ini sekitar 20 menit perjalanan mobil. Objek yang kami tuju berada di tengah Perkebunan teh Jayanegara  Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat tentu saja di Indonesia ya he he he. 

Karena baru dibuka, objek wisata ini belum seviral curug Cikaso, atau Curug Sawer. Pengunjung pun masih warga lokal sekitar Sukabumi saja. Lumayan lah wisata murah meriah tapi menyehatkan. Tak perlu merogoh kantung terlalu dalam, tapi masih bisa menyenangkan. Tak perlu waktu terlalu lama untuk menempuh perjalanan, hingga bisa dilakukan disela-sela kesibukan.  

Pesonanya mulai terasa setelah kendaraan memasuki area kebun teh. Angin yang semilir menyegarkan memaksa kami untuk mematikan AC mobil dan membuka jendela. Segar..... itulah yang kami rasakan. Udara yang masih penuh dengan oksigen melegakan paru-paru yang terbiasa dengan suasana ruangan. Mata yang biasanya memicing karena terlalu lama menatap layar laptop atau android, terbelalak seakan ingin loncat memandang hijaunya alam sekitar. Tangan dengan jemari yang terbiasa memilih hurup di tab laptop dan telepon pintar, seakan terbebas terbentang ke atas menantang angin. Dan Suara yang biasa tersembunyi dibalik lamunan, berteriak keluar dengan keras, tanpa takut mengganggu orang lain.

“Horeeeeeee ..........” mungkin orang menilai tindakan kekanak-kanakan. Tapi bagiku itulah ekpresi alami kebebasan. Bebas dari udara pengap ruangan, bebas dari beban tuntutan, bebas dari susana yang membosankan.

Setelah membayar tiket sebesar Rp 5000 / orang dan parkir Rp 10.000 untuk mobil kecil sedangkan untuk sepeda motor Rp 5000. Kami menyusuri jalan setapak di tengah-tengah kebun teh. Jalan menurun ke lembah, menuruni anak tangga yang sudah ditata dan diberi pegangan, meminimalisir kecelakaan akibat terpelaset karena jalan tanah yang licin. Baru perjalanan sekitar sepuluh menit, sambil mengatur napas yang terengah bisa duduk santai dibangku yang sengaja disediakan, sambil memandang air terjun yang jadi tujuan.

Disambut dengan papan bertuliskan “Selamat Datang di Curug Tilu Wisata Air Terjun” memancing senyum untuk tersungging, menandakan keinginan akan segera terlaksana. Tak sabar untuk berlama-lama kami kembali melangkah miniti titian yang tertata hingga sampai lokasi objek wisata.

Saung beratapkan rumbia dengan tempat duduk melingkar yang terbuat dari akar-akar kayu yang ada, itulah pemandangan yang pertama menyambut kita. Tentu saja suara air curug yang gemuruh bak alunan musik menggema, menyapa gendang telinga, suara alami ciptaan Illahi Robi. Tak cukup sampai disitu, kaki terus melangkah memilih batu yang akan dipijak menuju aliran sungai yang jernih. Ditengah sungai aku duduk dibatu, sambil menatap air terjun yang melimpah, dan kaki menjuntai ke bawah merasakan dinginnya aliran air yang menjilati.

Dari  sini aku mengedarkan pandangan, menatap satu persatu apa yang ada. Terlihat yang paling atas ada tanah rata yang baru dibuka lengkap dengan anak tangganya. Tanah ini dibuka untuk mereka yang mau camping bermalam menikmati indahnya alam terbuka. Paling atas sebelah kiri ada bangunan tertutup semacam saung yang bisa disewakan bagi mereka yang terpesona pada objek wisata dan ingin bermalam tanpa persiapan. Lumayan dengan harga Rp 25.000 / malam /orang cukup untuk menuntaskan rasa penasaran.

Agak ke bawah lagi ada rumah pohon yang sengaja dibuat untuk memuaskan impian anak kecil yang ingin berpetualang. Bisa juga bagi ABG yang tak sempat dibuatkan rumah pohon oleh orang tuanya karena tak ada pohonnya. Atau bisa juga bagi orang tua yang kangen pada masa kecilnya, dan teringat pada anaknya yang jauh menempuh pendidikannya. Dengan memasukan uang Rp 2000 pada koropak yang ditempelkan dikayu dekat tangga, anda bisa meniti tangga berjalan keatas duduk-duduk santai di rumah pohon menikmati semilir angin dan menatap indah pemandangan dari ketinggian. Atau bahkan sambil memasang kamera ditangan mengambil gambar yang anda inginkan. 

Lebih ke bawah lagi yang mendekati aliran sungai berada dibibir sungai ada bangku-bangku terbuat dari kayu dan akar-akar kayu alami, bisa untuk duduk santai menikmati hari sambil makan makanan kesukaan, atau membuka perbekalan yang dibawa. Jangan khawatir bila anda tidak membawa perbekalan anda juga bisa makan dan minum sekedar mengganjal perut dan menikmati kehangatan kopi yang bisa dipesan di warung dadakan dengan harga terjangkau.

Anda pun bisa berswafoto mengabadikan momen berkesan. Ada beberapa spot foto yang intragrammable yang bisa anda posting di instagram. Lumayan bisa pamer seakan anda berada ditempat yang jauh dan indah tapi ramah lingkungan, ramah baget karena dekat rumah dapat ditempuh dalam jangka waktu beberapa jam saja.

Demikian wisata kali ini, semoga anda terkesan dan jadi penasaran. Tak percaya silahkan anda buktikan.

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#ObjekWisataSukabumi

#AkuSukabumiku

#CurugTilu


Sabtu, 03 April 2021

Bab 3 Tempat Terindah


 

Bab 3 Tempat Terindah

 

Hera sedang menatap televisi melihat berita kecelakaan helikopter didekat rumahnya. Air matanya tak henti terus mengalir dengan deras. Bibirnya terus menerus melapalkan doa-doa yang dapat diingatnya. Kecelakaan helikopter yang menyebabkan neneknya pergi untuk selama-lamanya. Ingatannya kembali pada mama dan papa serta kakeknya yang sudah tiada. Dan sekarang neneknya keluarga satu-satunya yang ia punya pun kini meninggalkannya.

 

Tok tok tok

Suara ketukan di pintu, tak lama pintu dibuka dari luar diiringi suara salam dari yang mengetuk pintu.

“Assalamualaikum” sesosok wanita paruh baya muncul dibalik pintu. Dengan gamis hitam polos dan kerudung putih menjuntai juga snelli melengkapi identitasnya sebagai dokter. Meletakkan body bag yang dibawanya di sopa, lalu mendekati Hera dan memeluknya.

“Waalaikum salam, Bu dokter...” Suara Hera tertahan ditenggorokan, tangisnya kembali pecah. Air mata kembali membuncah membasahi snelli dokter Alisya Zaisyal Saputra yang mendekapnya.

“Sabar, tenang dan tante percaya kamu bisa tabah melewati ini semua. Allah tidak akan memberikan cobaan pada seseorang melewati batas kemampuannya. Pasti ada maksud Allah yang terbaik untuk kamu kedepannya. Kita hanya menjalaninya, Allah yang menentukan skenario untuk mahluknya.”

Dokter Alisya menasehati sambil mengusap punggung Alisya. Isaknya perlahan mereda, air matanya berhenti mengalir. Dekapannya mulai mengendur. Dokter Alisya mendongakkan wajah Hera, menatapnya lekat, lalu menghapus sisa air mata dengan telapak tangannya. Menangkuk kedua pipi Hera lalu mencium keningnya lama.

“Tenang masih ada tante dan om, Kami tidak akan membiarkan hidupmu sendiri. Jadi jangan sungkan anggap tante dan om seperti mama dan papa mu oke.” dengan suara lembut dan senyum mengembang dokter Alisya menenangkan Hera.

Dokter Alisya adalah istri dokter Zaisyal. Mereka sahabat papa dan mama Hera. Sewaktu di Jakarta mereka saling mengunjungi. Setelah Hera pindah ke Sukabumi mengikuti kakek dan nenek dari ibunya, mereka mulai jarang berkomunikasi.

Walau sudah beberapa kali diingatkan untuk menyapanya dengan sebutan om dan tante. Hera tidak ingin mengubah sapannya. Dokter adalah sapaan kebanggannya sejak kecil. Oleh karena nya Hera selalu menyapa suami istri ini dengan sebutan dokter dimana pun berada.

“Di luar banyak wartawan yang mencari sosok penyelamat penumpang helikopter, apakah kau siap diwawancarai?” dokter Alisya bertanya pada Hera.

“Apa dok? wartawan? jangan, jangan, jangan kasih tahu siapa pun, aku tak mau jadi sorotan, apalagi diwawancarai wartawan. Aku tak mau dikejar-kejar wartawan.” Hera panik mendengar banyak wartawan yang mau mewawancarainya.

“Hai apa kau tak mau jadi terkenal dengan super hero yang kau lakukan heh.” dokter Alisya menggoda Hera dengan senyum manisnya.

“Nggak, aku risi bila menjadi pusat perhatian. Aku tak mau orang-orang memperlakukanku luar biasa, padahal yang aku lakukan biasa saja. Hanya kebetulan saja aku yang pertama disana. Aku menolong bukan ingin terkenal. Dan aku pun tak dapat menolong lagi orang yang satunya. ” raut muka Hera kembali sendu mengingat kembali waktu kejadian dan dia merasa menyesal tak sempat menolong pilot helikopter itu.

“Sudah, sudah jangan bersedih lagi. Kalau kau tak mau bertemu para wartawan berarti kau harus menyamar. Kita ke sana setelah yang lainnya bubar. Biar Om Zaisyal nanti yang memberi keterangan. Nah, sekarang kau bersiaplah ganti bajumu, itu tante sudah bawakan mudah-mudahan cocok untukmu.” dokter Alisya menunjuk bady bag yang tadi dibawanya.

“Sekarang tante ke om dulu mengatur semuanya. Setelah selesai kau susul tante ke depan ya!” dokter Alisya keluar kamar rawat Hera. Sedangkan Hera mengambil body bag lalu pergi ke kamar mandi untuk ganti baju.

Setelah para pelayat meninggalkan tempat pemakaman, Hera ditemani dokter Alisya mendekati makam keluarga itu. Memang pemakaman itu pemakaman keluarga hanya ada empat makan disitu. Yaitu makam papa dan mama Hera dan sekarang neneknya yang berdampingan dengan makam kakeknya.

Hera bersimpuh di tanah yang merah dan masih basah itu, memegang nisan yang belum bernama,  menahan isak yang sesak didada, menahan air bening yang menggenang dikelopak mata agar tak tumpah mengenai tanah.

Lututnya bersimpuh menahan berat badannya yang luruh. Bahunya bergetar menahan derita yang menimpa. Bibirnya berbicara menumpahkan rasa yang ada. Disela-sela doa yang dipanjatkan.

“Mah, Pah, Kakek juga Nenek, kalian berkumpul di sini, meninggalkan Hera seorang diri. Allah menyayangi kalian sehingga kalian dapat berkumpul di Surga. Meninggalkan Hera yang tidak tahu apa yang harus Hera lakukan kedepannya. Hera harus berjuang sendiri tidak ada papa yang melindungi, tidak ada mama yang sangat menyayangi, tak ada kakek yang selalu mengayomi dan sekarang nenek pun menyusul kalian, tak ada lagi sosok yang selalu menasehati.” Hera mengusap air matanya agar tak jatuh ke tanah. Menahan isaknya yang terasa sesak menghantam dadanya. Mata sembabnya membengkak akibat terus menerus berurai air mata.

Kedua tangannya diangkat seraya memanjat doa untuk kedua orang tuanya juga kakek dan neneknya.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu, waakrim nuzulahu wawasi’madkholahu, waghsilhu bil maai watstsalji wal barod, wanaqqihi min khotooya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minadanas, wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wa ahlan khoiron min ahlihi, wa zaujan khoiron min zaujihi waqqihi fitnatal qobri, wa ‘adzabannar

Artinya: "Wahai Allah, ampunilah dia, kasianilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah segala dosa dan kesalahannya, hormatilah/mulyakanlah kedatangannya, luaskanlah tempat tinggalnya dan bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih bersih dari segala kotoran, gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari yang terdahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik dari pada ahli keluarga yang terdahulu dan peliharalah (hindarkanlah) ia dari siksa kubur dan azab neraka."


Setelah menutup doa dengan Aamiin dan surat Al Fatihah. Hera dibantu dokter Alisya kembali berdiri, perlahan meninggalkan tempat pemakaman. Digandeng dokter Alisya Hera berjalan mendekati bekas rumahnya yang tinggal puing-puing. Tempat tidur dan meja yang biasa dipakainya untuk belajar, musnah terbakar berikut dokumen dan laptop kesayangannya. Begitu juga gawai yang kemarin masih dipakainya, hilang entah kemana.

Hera memindai seiap inci reruntuhan rumahnya, merekam dalam ingatannya. Menyimpan rapi segenap cinta keluarganya. Menata ulang rasa dalam jiwanya. Mencoba tabah menerima semuanya. Menekankan keyakinan dalam dirinya, bahwa ia mampu melewati semuanya.

Hera mencoba berdiri tegar, menjalani semuanya dengan sabar. Tanpa menyalahkan orang lain. Tidak juga menuntut keadilan pada Tuhannya. Hera mencoba menjalani semuanya dengan ikhlas. Menerima semuanya dengan tawakal. Dan menanam keyakinan dalam hatinya inilah yang terbaik untuknya dan didepan ada kebahagiaan yang akan ditemuinya. 

Hera dengan perlahan tapi pasti, kembali meninggalkan tempat kenangan terindah sekaligus yang terpahit dalam hidupnya. Kembali ke rumah sakit tempat dirinya dirawat.

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#OneDayOnePost

 


”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...