Sabtu, 12 Februari 2022

Bab 7 Mencari Tahu (lanjutan)



Bab 7 Mencari Tahu (lanjutan)

“Oh emmh” Kerutan di wajah dokter Zaisal mengurai. Raut wajah cerah kembali tampak, tanda mengerti dengan permasalahan yang dihadapi dan diinginkan sahabatnya.

Perbincangan pun terhenti sementara, karena pelayan menghampiri menyajikan makanan pesanan mereka. Tak berapa lama Alisya datang dan bergabung makan bersama.  Sekali-kali terdengar tawa yang diselingi canda terdengar dari obrolan mereka.

                Setelah semuanya menyelesaikan makannya,  Ibu Valerina kembali bertanya.

“Kembali pada pembicaraan awal jadi bagaimana?” Tanyanya tidak sabar menunggu jawaban dokter Zaisal. Alisya menatap keduanya bergantian tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Valerina.

“Kita bicarakan di ruanganku, sekalian Alisya juga belum tahu yang tadi diceritakan.” Ajaknya lalu ketiganya keluar dari Kantin menuju ruangan dokter Zaisal setelah membayar makanan yang mereka makan.

Setibanya di ruang dokter Zaisal mereka duduk melingkar dengan terhalang meja yang berada di tengah.

“Duduklah buat dirimu nyaman.” pinta dokter Zaisal pada Valerina temannya. Sepasang suami istri dan sahabatnya itu duduk di sopa yang ada di ruang dokter Zaisal.

Dokter Zaisal menceritakan ulang apa yang tadi diceritakan oleh Valerina padanya mengenai apa yang dilihatnya tadi pagi pada istrinya.

“Eh iya aku ngerti” Alisya mengangguk tanda mengerti apa yang dibicarakan. “Dan aku pun tahu bagaimana sikap Varis terhadap dokter lain dan perawat.” Tambahnya.

“Jadi bagaimana? kau tahu kan siapa gadis itu dan dimana rumahnya?” Valerina bertanya lagi tak sabar ingin tahu mengenai gadis itu.

DokterZaisal menarik napas berat, lalumenghembuskannya perlahan. Kemuadian mendehen menetralkan tenggorokannya yang terasa kering, sebelum bercerita.

“Sebenarnya si Hera ini sekarang jadi anak angkatku. Dia sekarang diam di rumahku, karena semua keluarganya sudah meninggal, terakhir neneknya meninggal seminggu yang lalu. Asal kau tahu dia yang menolong putramu si Varis saat kecelakaan Helikopter itu. Dan neneknya menjadi korban yang tertimpa reruntuhan kecelakaan itu. Namun dia memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai dia yang menolong korban kecelakaan itu. Dia tidak ingin jadi pusat perhatian. Dia tak nyaman bila wartawan mengejarnya untuk mencari berita. Jadi aku pun berharap padamu tidak menceritakan lagi pada siapapun mengenai hal ini. Demi menjaga keamanan dan kenyamanan dia.” Pinta dokter Zaisal sambil menatap sahabatnya itu untuk menyakinkan.

“Ehmmm kasian sekali anak itu, aku akan tanggung jawab memberikan konvensasi atas kerugian akibat kecelakaan itu. Ya aku tidak akan menceritakannya lagi pada siapa pun, aku janji.” Ujar Valerina dengan berkaca-kaca menahan kesedihan dan merasa prihatin atas keadaan gadis itu.

“Anak itu tidak memikirkan hartanya yang hilang. Dia hanya terpukul dengan keadaannya yang sendiri, karena tidak ada lagi sanak saudara yang dia punya. Baik dipihak ayah maupun dipihak ibu, dia tidak tahu riwayat keluarganya. Makanya kami memintanya untuk tinggal di rumah kami dan mengangkatnya anak.” Jelas dokter Alisya menimpali.

“Mendengar ceritamu sepertinya gadis itu baik sekali. Rela menolong tanpa memikirkan keadaannya sendiri. Boleh aku bertemu dengannya? Aku ingin meminta maaf dan mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggal neneknya. Sampaikan permintaan maafku juga permohonanku. Mudah-mudahan dia mau bertemu denganku, aku ingin meminta maaf langsung padanya.” Tanya Valerina tak yakin.

“Padanya aku merasa seperti pada anak kandung saja. Apalagi kami tidak punya anak. Dulu waktu masih di Jakarta dia sering dibawa main oleh ayah dan ibunya. Dia selalu menyebutku Om dokter. Masih terdengar dia memanggilku doktel dengan mulut mungilnya yang belum bisa menyebut “R”. Dokter Zaisal terkekeh mengingat Hera diwaktu kecil.

“Sebenarnya aku masih ingin mengobrol disini. Banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tapi Varis di ruangan sendirian, khawatir dia memerlukan sesuatu dan tak dapat menjangkaunya. Lain waktu kita ngobrol lagi, jangan bosan kau ngobrol denganku.” Pinta Valerina pada pasangan suami istri itu.

“Oh baiklah nanti akan aku coba ceritakan dan menyampaikan permintaanmu untuk bertemu langsung,  mudah-mudahan dia mau. Mudah-mudahan dia siap untuk mengingat kembali kejadian saat kehilangan neneknya yang sangat dia cintai. Mengenai hasilnya tapi aku tidak mau janji, semuanya terserah pada keputusan dia.” Tegas dokter Zaisal.

“Ya aku tunggu kabarnya, mudah-mudahan ada kabar baik. Oh iya terlalu lama meninggalkan si Varis aku pamit dulu. Terima kasih atas informasi dan bantuannya. Aku tunggu kabar selanjutnya.” Valerina beranjak dari duduknya keluar dari ruangan dokter Zaisal kembali menuju ruang rawat Varis, yang diantar oleh pasangan suami istri itu sampai pintu depan.

 

 

Jumat, 11 Februari 2022

Bab 7 Mencari Tahu

 

Bab 7 Mencari Tahu

Aku

“Assalamualaikum, Dok mau minta waktu mau konsultasi mengenai Varis.”

Setelah lama belum ada tanda-tanda WA nya dibaca. Ibu Veleria menyimpan kembali teleponnya di atas meja. Lalu merebahkan badannya di sopa tak lama dia pun tertidur.

***

                Setelah salat duhur dan menyuapi Varis makan siang. Ibu Valerina pamit pada Varis mau menghadap pada dokter Zaisal.

“Ris, Bunda ke kantin dulu yah tadi sudah janjian sama dokter Zaisal ada sesuatu yang ingin Bunda tanyakan.” Pamit Bunda sambil berjalan keluar. Menutup pintu kembali dan terus berjalan menuju kantin.

Sesampainya di Kantin, penglihatannya menyisir mencari keberadaan dokter Zaisal. Tak lama dia menemukan lambaian tangan dokter Zaisal yang duduk dekat jendela.  

“Assalamualaikum, sudah lama Sal?” Salam dan tanyanya lalu duduk di kursi yang sudah digeser oleh dokter Zaisal.

“Waalaikum salam, baru sampai juga.” Jawab dokter Zaisal sambil duduk kembali. Lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan kantin.

“Val, mau pesen apa?” Tanya dokter Zaisal pada Ibu Valerina.

“Kayanya, sop daging, nasi putih, kerupuk sama jus alpukat deh.” Pesan Ibu Valerina.

“Nasi putih 2, soto ayam 1, lotek 1, gurame asam manis 1, jeruk hangat 1, es jeruk 1 tambah kerupuk.” Pinta dokter Zaisal pada pelayan.

Setelah mengulang membacakan pesanan pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Alisya tidak dinas?” Tanya Valerina pada dokter Zaisal sambil menatapnya.

“Dinas, sebentar lagi nyusul ke sini, tadi masih menulis laporan setelah operasi.” Jawabnya. Karena merasa kegerahan dokter Zaisal membuka stelli lalu menyampirkannya di sandaran kursi yang didudukinya.

“Eh Sal, aku mau tanya yang tadi pagi menyuapi Varis makan siapa?” Tanya Valerina tak sabar. Dirinya ingin segera tahu siapa anak gadis itu.

“Aku, eh sebentar eemmm si Hera ya si Hera,” sambil agak berpikir mengingat kejadian tadi pagi dokter Zaisal menjawab pertanyaan ibu Valerina.

“Oh iya dia tadi mau pamitan ke istriku, karena istriku sedang sibuk dan aku di telpon tidak diangkat karena aku lupa telponku ada diruanganku, sedangkan akunya ada di ruang rawat si Varis, jadi menyuruh Si Hera untuk menyusul ke ruangan rawat inap dan menyuruhku untuk segera ke ruang operasi karena keadaan darurat, terus ya aku suruh si Hera untuk menyuapi makan si Varis dan buru-buru ke ruang operasi.” lanjutnya menjelaskan.

“Oh iya saya baru keluar dari ruang operasi dan buka Hp ada WA dari kamu jadi langsung aja ajak kesini sambil makan. Memangnya ada apa? Apa si Varis tidak mau makan?” Tanya dokter Zaisal heran.

“Kamu tahu dimana rumahnya gadis itu?” TanyaValerina penuh harap.

“Ya aku tahu siapa dan dimana rumah gadis itu, memangnya ada apa? mengapa kamu ingin tahu tentang gadis itu?” Tanya dokter Zaisal random. Wajahnya agak berkerut heran dengan pertanyaan teman SMA nya ini.

“Ehm tadi pagi, aku melihat kamu keluar dari ruangan rawat Varis, kamu terlihat tergesa-gesa. Tadinya aku mau masuk siapa tahu anakku belum makan. Tapi aku menghentikan langkahku saat melihat seorang gadis sedang menyuapi anakku. Aku kembali dan duduk dibangku di luar kamar  rawat. Sesekali aku melihat sambil berjaga-jaga kalau-kalau anakku berbuat kasar atau mengeluarkan kata-kata kasar. Aku heran dan sekaligus gembira terhadap sikap anakku pada gadis itu, tidak seperti pada perawat atau dokter lainnya. Kalau bisa aku mau meminta gadis itu untuk membantu merawat anakku.” Dengan berbinar Valerina menceritakan yang dilihatnya.  Dan dengan penuh harap menginginkan gadis itu dapat membantu menyelesaikan masalahnya.

“Oh emmh” Kerutan di wajah dokter Zaisal mengurai. Raut wajah cerah kembali tampak, tanda mengerti dengan permasalahan yang dihadapi dan diinginkan sahabatnya.

Perbincangan pun terhenti sementara, karena pelayan menghampiri menyajikan makanan pesanan mereka. Tak berapa lama Alisya datang dan bergabung makan bersama.  Sekali-kali terdengar tawa yang diselingi canda terdengar dari obrolan mereka.


Jumat, 04 Februari 2022

Agreement Heaht

 



Agreement Heart

 

Pernikahan seharusnya menjadi sebuah momen yang sakral dan bersejarah dalam hidup, dimana kedua anak manusia mengikat janji sehidup semati dihadapan Tuhan. Tulisan ini yang pertama menarik perhatianku yang berada pada prolog Agreement Heart yang ditulis oleh Gloria Angela. Walaupun Tuhan yang dimaksud dalam buku ini berbeda dengan Tuhan yang aku yakini.


Jalinan kasih ditempat kerja, yang dibumbui dengan perselingkuhan hingga berakhir dengan hati yang porak poranda. Inilah yang dialami tokoh Serena Platten. Dua kali mengalami kisah cinta yang dihianati membuat dirinya sering bertanya pada diri sendiri  “Apakah aku tak layak untuk dicintai?”


Keadaan hati yang porakporanda karena penghiatan cinta, membuat diri Serena Platten tak lagi percaya adanya cinta sejati. Dia selalu berusaha menyangkal akan rasa hatinya yang merona. Menyangkal getaran rasa dalam dada terhadap perlakuan manis pria yang menikahinya, bukan karena cinta.


Tapi lain halnya dengan cinta bocah cilik yang tak sengaja ditemuinya di Mall. Kelucuan dan ketampanan bocah cilik itu telah memikat hatinya tak terbantahkan. Hatinya menjadi bimbang tatkala bocah cilik yang tampan dan menggemaskan meminta dirinya menjadi mama sambungnya. Hatinya menjadi bimbang dikala harus memilih kekasih yang dicintainya dengan bocah cilik yang manis yang memintanya menjadi mama sambungnya.


Siapakah yang akan dipilihnya? Apakah Edward Logan yang sangat dicintainya? Tetapi mengapa hatinya tak kuasa menolak permintaan anak dari CEO tempatnya bekerja. Mengapa Serena memilih bocah cilik itu dan bagaimana dengan kekasihnya? Apakah ketulusannya akan meluluhkan hati CEO tampan nan dingin? Bagaimana Serena menjalani rumah tangga tanpa cinta. Sanggupkah dirinya menjalani pernikahan yang jauh dari yang pernah diimpikannya?


            Membaca buku ini menjadi hiburan dikala senggang, menjadi selingan dari rutinitas keseharian. Memberikan insfirasi bagaimana menyikapi hati agar tak terpuruk kala patah hati. Melebarkan wawasan bagaimana menjaga hati kala mendapat perlakuan manis para pria. Bahasa keseharian yang ringan, cara pendekatan pada anak balita yang pas dengan psikologi anak. Memberikan wawasan pergaulan rumah tangga yang harmonis. 



Rabu, 02 Februari 2022

Putusnya Pertunangan

 


Bab 5 Putusnya Pertunangan (Lanjutan)

Mendapat pertanyaan seperti itu keduanya terdiam bingung bagaimana menjelaskannya. Wajahnya tegang, keduanya saling tatap meminta bantuan penjelasan. Untuk beberapa saat keduanya hanya bisa membisu tanpa mampu mengeluarkan suara.

                “Hai mengapa kau tak menjawab pertanyaanku apakah Sherina baik-baik saja” Ibu Valerina mengulangi pertanyaannya pada kedua calon besannya itu.

“Se..se..sebenarnya em emmm…” Ibu Melani tergagap suaranya tak jelas keluar.

“Hai sebenarnya ada apa ini kalian jangan membuatku khawatir, Sherina tidak apa-apakan?” Tanya Ibu Valerina kembali sudah tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.

“Sebenarnya kami kesini tadi dengan Sherina, tapi Sherina tidak lama, dia kembali lagi ke Jakarta karena harus mengusur surat-surat. Dia mendapatkan surat panggilan untuk belajar mode di Paris yang selama ini ditunggu-tunggunya. Baru kemarin dia mendapatkan suratnya dan dia bermaksud mau mengambil kesempatan ini untuk belajar di Paris.” Jelas Pak Anggoro.

“Berapa lama dia disana?” Tanya Ibu Valerina sambil menatap kedua calon besannya itu.

“Kontraknya dua tahun, dan selama dalam masa pendidikan tidak boleh menikah. Itu salah satu sarat yang ada dalam kontraknya.” Jelas Ibu Melani menambahkan.

“Terus bagaimana dengan pertunangannya?” Tanya Ibu Valerina lagi.

“Nah itu, Aku juga merasa tidak enak hati sementara keadaan Varis belum siuman, terus Sherinanya malah mau pergi, lama lagi, mungkin untuk sementara hubungannya putus dulu, entah kedepannya mau bagaimana terserah mereka.” Pak Anggoro Pamungkas menjelaskan.

“Maksudnya pertunangan mereka dibatalkan begitu?” Tanya Ibu Valerina tidak yakin.

“Ya mau bagaimana lagi, sebenarnya aku merasa sungkan membicarakan ini padamu. Keluargamu terlalu baik pada kami. Bantuan pada perusahaan pun tidak sedikit. Perlakuan mu pada Sherina juga seperti pada anak sendiri. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa? Sherina berkeras mau mengambil pendidikannya di Paris. Daripada pertunangan ini jadi beban bagi keduannya. Mungkin sebaiknya dibatalkan saja. Varis sedang sakit lebih baik pokus pada kesembuhannya, dan Sherina juga mau belajar biarkan dia pokus dengan cita-citanya dulu.” Pak Anggoro menjelaskan dengan Panjang lebar.

Ibu Valerina hanya menunduk, tak dapat menanggapi perkataan Pak Anggoro lagi. Dirinya terlalu shok mendengar penjelasan Pak Anggoro. Hatinya terlalu sakit tak menyangka akan seperti ini akhir dari pertunangan anaknya. Air matanya luruh mengalir tak terbendung. Bahunya bergetar menahan isak yang menyayat. Telapak tangannya menutup wajahnya mengusap air mata pilu.

Ibu Melani pindah mendekati Ibu Valerina merangkul tubuhnya dan keduanya menangis menumpahkan rasa dalam dada yang terasa sesak. Keduanya berpelukan dengan isak yang tertahan, Dua ibu paruh baya itu menangis pilu kehilangan asa yang telah dirajut, kehilangan cita yang ingin diraih. Dan keduanya merasa tak kuasa untuk merubah semuanya.  

Untuk beberapa saat tak ada kata yang terdengar. Pak Angoro pun seakan kehilangan kata-katanya. Dia hanya menunduk seakan menghitung garis lantai dihadapannya. Kedua ibu paruh baya dihadapannya masih saling berpelukan. Keduanya saling menenangkan dua hati yang tersakiti mencoba saling mengobati dan menyemangati dengan elusan kembut tangan keduanya di Pundak yang berlawanan.  

“Ehmm,

Suara lenguhan dari arah tempat tidur menyadarkan semuanya untuk melihat. Kedua ibu paruh baya itu merenggangkan pelukannya. Keduanya bergegas menghapus sisa-sisa air mata dan merapikan tampilannya yang kusut akibat menangis tadi. Semuanya merempak mendekati tempat tidur yang ditempati Varis sedang berbaring lemah.

berlanjut ........................

Selasa, 01 Februari 2022

Bab 5 Putusnya Pertunangan

 

See the source image



Bab 5 Putusnya Pertunangan

Sementara itu di Rumah Sakit,  Varis Atma Wijaya yang masih terbaring dengan selang infus yang menggantung. Ya CEO tampan pujaan para wanita ini masih terbaring lemah tak berdaya. Tapi perlahan kesadarannya mulai kembali, ia bermaksud membuka mata, tapi kembali menutup rapat matanya tatkala mendengar percakapan orang-orang yang duduk di sopa yang ada di ruangannya.

 “Pa, Ma, ayolah izinkan aku pergi, nggak mungkin kan aku mengabaikan panggilan belajar mode di Paris yang selama ini aku cita-citakan. Selama dua tahun aku menunggu panggilan untuk sekolah disana, masa sekarang sudah ditangan mau diabaikan begitu saja.”  Rengek Sherina Anggraeni Pamungkas.

Sherina Anggraeni Pamungkas adalah tunangan Varis Atma Wijaya. Mereka sudah bertunangan selama dua tahun. Sebenarnya saat mereka bertunangan baru satu tahun Varis mengajak Sherina untuk menikah, tapi Sherina belum mau menikah dengan alasan masih mau berkarir di dunia mode yang baru mengangkat namanya menjadi popular.

“Tapi bagaimana dengan tunangan mu yang masih sakit dan belum sadar, dia perlu perawatan dan perhatian dari orang-orang yang dicintainya.” Tanya Melani Pamungkas mamanya Sherina.

“Kan banyak dokter, banyak perawat minta mereka untuk merawatnya secara khusus dengan bayaran tinggi, mereka pasti mau. Lagian nggak mungkin kan aku menghabiskan waktu untuk terus merawatnya. Mana bisa aku merawat orang cacat berbulan-bulan.” Jawab Sherina pada orang tuanya.

“Hus jangan bilang begitu, yang sakit itu tunanganmu kamu harus menghargainya.” Tukas Pak Anggoro Pamungkas Papanya Sherina.

“Iya aku tahu itu tunanganku, tapi aku tidak mau mengorbankan impianku menjadi model dunia hanya gara-gara tunanganku yang sakit atau lebih baik batalkan saja pertunangannya?” Pinta Sherina pada kedua orang tuanya.

“Tapi bagaimana dengan perusahaan papa? selama ini keluarga Varis yang banyak membantu dan Varis sangat baik memperlakukan keluarga kita” Tanya Pak Anggoro.

“Ya terserah papa mau bagaimana, pokoknya aku mau pergi ke Paris mengejar cita-citaku.” Sambil mengedikakan kedua bahunya, lalu Sherina mengambil tas selempang yang ada di sopa dan berdiri.

“Aku pulang dulu mau melengkapi dokumen keberangkatan ke Paris yang harus diproses.” Katanya sambal melangkah mendekati pintu kamar rawat tanpa sedikit pun melirik ke Varis yang sedang terbaring.

Kedua orang tua paruh baya itu hanya bisa saling tatap tanpa bisa mencegah keberangkatan putrinya. Dalam pikirannya berkecamuk bagaimana cara memutuskan pertunangan anaknya. Dia terlalu segan dengan kebaikan dan keramah tamahan keluarga Varis. Hubungan kedua keluarga selama ini terjalin dengan baik. Demikian juga dengan kerja sama perusahannya. Terlalu banyak kebaikan yang dia terima dari keluarga Varis. Tapi mau bagaimana anaknya malah memilih pergi dan tak mau melanjutkan pertunangannya.

Hening beberapa saat setelah kepergian Sherina, pecah dengan suara salam dari Bu Valerina Atma Wijaya yang baru datang. Sambil menjawab salam kedua orang paruh baya itu melirik melihat kearah pintu yang terbuka.

“Varen kamu datang?” Ibu Melani mendekati pintu dan memeluk Valerina. Keduanya berpelukan dan melelehkan air mata, menuntaskan rindu dan kesedihan dengan cobaan yang menimpa. Ibu Melani mengusap-usap punggung Ibu Valerina memberi kekuatan dan semangat.

Setelah beberapa saat keduanya merenggangkan pelukan. Ibu Valerina menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambal mengangguk dihadapan Pak Anggoro Pamungkas sebagai ungkapan salamnya. Dan dibalas oleh Pak Anggoro dengan perlakuan yang sama. Lalu keduanya duduk berhadapan. Disusul Bu Melani yang membantu memindahkan bawaan Bu Valerina dan duduk disamping suaminya.

“Sudah lama disini?” Tanya Bu Valerina pada tamunya.

“Emmhh mungkin ada sekitar tiga puluh menit yang lalu” Jawab Bu Melani.

“Oh maaf menunggu lama, tadi belanja dulu karena kemarin kesini tanpa persiapan apa-apa. Langsung dari Beijing tidak mampir dulu ke rumah. Jadi yah banyak yang diperlukan dan harus dibeli. Eh ngomong-ngomong dimana Sherin?” Tanya Bu Valerina kepada kedua tamunya.

Mendapat pertanyaan seperti itu keduanya terdiam bingung bagaimana menjelaskannya. Wajahnya tegang, keduanya saling tatap meminta bantuan penjelasan. Untuk beberapa saat keduanya hanya bisa membisu tanpa mampu mengeluarkan suara.

Senin, 10 Mei 2021

Mudik


MUDIK

MUDIK ONLINE

 

 

Berita mudik sudah tersiar dimana-mana. Dari televisi, surat kabar, whastApp, line, twitter dan lain sebagainya, hampir di semua media sosial memberitakan topik mudik. Beragam berita yang tersiar, mulai dari pemudik yang dipulangkan, bagaimanan warga mensiasati mudik, dan berbagai anjuran pemerintah untuk menunda mudik.

 

Aku bertanya pada Ayah yang masih melihat berita di televisi.

“Yah, kita mudik ke Bandung nggak?” Tanyaku pada  Ayah yang masih nonton televisi.

 

“Ya mudiklah masa nggak, kasiahan Kakek dan Nenek disana.” Jawab Ayah enteng.

 

“Memang Ayah sudah divaksin?” Tanyaku ingin tahu.

 

“Sudah dua minggu ke belakang vaksin pertama dan yang kedua nanti sesudah lebaran.

 

“Kalau Bunda sudah divaksin juga?” Tanyaku lagi.

“Sudah, kemarin waktu daftar dikantor, Ayah usulkan supaya keluarga juga bisa daftar dan bersamaan divaksin.” Ayah menjelaskan dengan rinci.

 

Aku hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti.

“Tapi Aku dan Adik belum?” Tanyaku lagi.

 

“Ya, kalau anak sekolah nanti kalau Sekolah sudah berlaku tatap muka divaksinnya, petugas Puskesmasnya nanti berkunjung ke Sekolah.” Jelas Ayah lagi.

 

“Ayah kapan liburnya, Jadi kita kapan berangkat mudiknya.” Tanyaku lagi.

 

“Ayah terakhir masuk kantor hari Selasa, jadi mulai libur hari Rabu. Kita mudik pas Hari Raya Idul Fitrinya ” Jelas Ayah lagi.

 

“Terus apa yang harus Kita persiapkan?” Tanyaku lagi.

“Emm... Baju lebaran dan kue kering sudah dipaket satu minggu yang lalu. Tunjangan Hari Raya sudah ditransfer dua Minggu yang lalu. Opor, rendang dan ketupat Ayah sudah pesan pada Paman dan Bibi uangnya juga sudah ditransfer. Perasaan persiapan sudah selesai.” Ayah menjelaskan dengan rinci.

 

“Nah sekarang Kakak bacaannya sudah selesainya belum?” Tanya Ayah.

 

“Kalau berdasarkan target harian sih sudah tercapai, kalau target secara umum belum kan masih ada dua hari lagi.” Jawabku lagi.

“Kalau hapalannya bagaimana?” Tanya Ayah lagi.

“Alhamdulillah sudah selesai, tinggal melancarkan secara keseluruhan terutama yang ayat ke dua puluh.” jelasku.

 

“Ya sudah, Semangat terus manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, mudah-mudahan targetnya bisa tercapai sesuai rencana. Yu Kita sahur, Ayah mau membangunkan Adik dahulu.” Kata Ayah sambil beranjak pergi ke kamarAdik.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#BajuBaru 

 


Minggu, 09 Mei 2021

Baju Baru

 


#RWCODOP2021 #DAY27

BAJU BARU

BAJU BARU ALHAMDULILLAH

 

Baju baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama. Sepatu baru Alhamdulillah , tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama.

Lagu dari Dea Ananda mengalun merdu mengiringi kegiatanku di pagi hari Minggu terakhir di bulan Ramadan ini. Setelah salat duha tadi Kami mengawali kegiatan bersih-bersih hari ini. Ya Bunda selalu mmembiasakan Kami untuk ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan di rumah.

Seperti hari ini, Ayah dan Adik sudah memulai kegiatannya mengecat rumah bagian luar. Bunda sudah membuka gordeng rumah untuk dicuci. Sedangkan Aku kebagian menyapu dalam rumah dan membersihkan kaca sekeliling rumah.

Potong ayam Alhamdullah, tuk dimakan di hari raya, tak ada pun tak apa-apa, masih ada telur ayamnya. Bikin kue  Alhamdulillah, tuk dimakan di hari raya, tak ada pun tak apa-apa, masih ada singkong gorengnya. Lagu Dea Ananda masih mengalun mengiringi kegiatan Kami.

“Bun, sabun untuk membersihkan kacanya sudah beli lagi belum.” Tanyaku pada Bunda. Aku masih ingat sebab pada hari Jumat kemarin dipakai membersihkan kaca Masjid dan isi ulangnya sudah habis.

“Yah Bunda lupa, ke depan saja dulu beli dulu sebentar.” Perintah Bunda.

“Uangnya dimana?” Tanyaku menanyakan uang untuk membeli sabun pembersih kaca.

“Ambil di dompet ada di meja rias di kamar Bunda.” Kata Bunda lagi.

Aku meninggalkan Bunda yang masih berkutat dengan cuciannya, mengambil dompet Bunda dan memberikannya pada Bunda. Setelah mengambil uang di dompet, Bunda memberikannya padaku. Aku menyimpannya kembali di meja rias di kamar Bunda.

Yah Bunda dan Ayah mendidik Kami untuk tidak mengambil uang langsung di dompetnya, tetapi mengambilkan dompetnya dan yang punya dompet itu yang mengambilnya.

Ini Aku tahu ketika Ayah meminta tolong mengambilkan uang pada Bunda, tapi Bunda mengambilkan dompetnya dan Ayah mengelurkan uangnya sendiri dan kembali dompetnya diserahkan lagi pada Bunda.

 “Bun, mengapa kalau Bunda menyuruh mengambilkan uang didompet Ayah, tapi Bunda malah mengambil dompetnya dan menyerahkan pada Ayah. Mengapa tidak langsung saja mengambil uangnya saja?” Tanyaku suatu hari.

“Dompet itu barang pribadi, Bunda tidak tahu ada uang apa saja di dompet Ayah. Mungkin ada uang kantor, uang titipan orang lain, atau uang bersedekah pada anak yatim kan Bunda tidak tahu. Kalau Bunda mengambilnya langsung, uang yang mana yang diambil nanti Ayah kebingungan mencari-cari. Kan jadi repot.” Jelas Bunda panjang lebar.


Hari raya idulfitri, bukan untuk berpesta-pesta, yang penting manfaatnya lahir batinnya. Buat apa berpesta-pesta, kalau kalah puasanya, malu kita pada allah yang Esa. Kupat sayur Alhamdulillah, tuk dimakan dihari raya, tak ada pun tak apa-apa, masih ada nasi kuningnya. Syair lagu baju baru masih mengalun di rumah Kami.

 

Aku keluar membawa uang hendak membeli sabun pencuci kaca. Aku kelimpungan mencari sandal, karena ternyata sendal yang di luar basah.

“Dik ! pinjam dulu sendalnya, yang di sana basah nggak enak dipakainya.” Pintaku pada Adik Ahmad.

“Mau kemana memangnya Kak?”Ayah bertanya padaku.

“Mau ke warung depan membeli sabun pencuci kaca.” Jawabku pada Ayah.

“Dibagasi motor Ayah masih ada, cukup untuk membersihkan kaca rumah pakai itu saja dulu. Kunci motornya di tempat biasa di kamar.” Perintah Ayah padaku.

Aku mengangguk dan berbalik lagi masuk ke dalam rumah.

“Bun nggak jadi uangnya disimpan lagi di atas meja rias ya.” Kataku pada Bunda. Aku melangkah menuju kamar Bunda menyimpan uang di atas meja lalu mengambil kunci motor di tempat biasa. Aku pun melanjutkan pekerjaanku dan ternyata lagu “Baju Baru” dari Dea Ananda sudah diganti dengan lagu “Lebaran Sebentar Lagi” dari Tasya.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#BajuBaru

 

 

#RamadanWritingChallenge2021

#ODOP

#RWCODOP2021

#RWCODOP2021Day27

#BajuBaru


Sabtu, 08 Mei 2021

Tunjangan Hari Raya

 


THR

TIDAK HARUS REBUTAN

 

Aku sekeluarga sedang berkumpul nonton televisi sambil menunggu waktu salat Isya. Ayah masuk ke kamarnya tapi tak lama keluar lagi. Ditangannya memegang amplop putih sepertinya berisi uang.


“Bun, ini ada titipan dari Kantor Ayah” Katanya sambil menyerahkan amplop yang dibawanya.

 

“Apa Yah, THR bukan?” Tanya Bunda menatap Ayah menunggu jawaban.

 

“Yah, buat keluarga katanya.” Jawab Ayah.

 

“Alhamdulillah, semoga berkah.” Ucap Kami serempak tak tertinggal juga Adik.

 

“Kenapa mau beli baju?” Kata Ayah mengalihkan pandangannya padaku dan mengusap puncak kepalaku.  

 

“Ngak ah Yah baju yang kemarin hadiah ulang tahun dari Nenek juga belum di pakai. Habis kompakan sih, Tante beliin baju, Nenek beliin baju, eehhh Mama juga beli baju lagi. Coba kalau uangnya yang dikasih kan bisa Kakak tabung.” Jawabku sedikit menggerutu.

 

“Tapi Aku senang sih dapat hadiah, bersyukur dapat rezeki walau rezekinya belum bisa bermanfaat. “ Sambungku lagi.

 

“Memangnya kenapa nggak dipakai?  kurang suka modelnya atau kekecilan, jadi nggak bisa dipakai.” Tanya Ayah lagi.

 

“Bukan begitu, modelnya bagus Aku suka malah, ukurannya pas lagi, terus mau dipakai kemana? Kan selama ini Kita nggak kemana-mana. Masa dipakai tidur atau dipakai sehari-hari di rumah? Kan sayang.” Kataku lagi.

 

“He he he iya yah selama Pandemi Covid 19 ini kita tak kemana-mana. Kalian cuma di rumah saja. Hanya Ayah saja yang selalu pergi. Tapi Ayah malah rindu mau diam saja di rumah. Bersih-bersih sekiran rumah.” Ayah terkekeh menyadari kekeliruannya.

 

“Kalau Adik mau beli baju baru?” Tanya Ayah kepada Adik.

 

“Adik mah terserah Bunda saja, mau beli atau nggak terserah Bunda.” Jawab Adik cuek.

 

Ayah melirik Bunda mencari jawaban pada Bunda.

“He he he Bunda tersenyum, anak laki-laki Ayah, memang laki-laki banget. Mau pake baju baru mau nggak kayaknya nggak mau tahu urusan.” Kata Bunda sambil tersenyum melihat kelakuan anak laki-lakinya yang bergeming nonton stand up komedi.

 

“Untung Bundanya telaten, selalu tahu apa kepentingan keluarga dan mana yang harus jadi perioritas.” Puji Ayah pada Bunda sambil mengusap kepala Bunda. Bunda pun tersipu mendengar pujian Ayah yang menatapnya lembut.

 

Aku berjalan pindah ke kursi yang ditempati Ayah dan Bunda lalu duduk diantara keduanya. Memutus keromantisan keduanya dan menyandarkan kepalaku dibahu Ayah. Ayah bergeser dan mengenakkan duduknya, mengelus-elus kepalaku yang bersandar dibahunya.

 

“Bunda mending uang THR nya ditabung saja, buat sekolah Kakak dan Adik, siapa tahu nanti Kakak kuliah ke luar negeri, biayanya pasti mahal.” Usulku pada Bunda.

 

“Amiin.” Serempak Ayah dan Bunda mengaminkan keinginanku.

“Kuliah kan masih lama beberapa tahun kedepan lagi.” Jawab Ayah.

 

“THR kan singkatanya Tunjangan Hari Raya, berarti kita memanfaatkannya untuk Hari Raya.” Kata Bunda sambil tersenyum.

 

“Ya nggak juga sih, Kalau pada hari raya kita poya-poya, makan banyak tapi tak bermanfaat, akhirnya berujung di rumah sakit kan kita juga yang repot. Atau dengan alasan untuk hari raya kita memakai uang yang menjadi tanggung jawab kita membeli pakaian dan lain sebagainya. Selesai hari raya kita kebingungan menggantinya dari mana, kan kita juga yang pusing.” Kata Ayah menjelaskan. 

 

“Belikanlah pakaian anak-anakmu yang biasa saja, begitu pun dengan makannanya, yang penting memenuhi gizi sesuai kebutuhannya. Pakaian yang mewah tidak akan menaikkan derajat anakmu menjadi apa-apa. Dan pakaian yang sederhana pun tidak akan menjadikan anakmu terhina.” Tambahku.

 

“Biasakan anak-anakmu hidup sederhana, agar dia punya pengalaman bagaimana hidup susah. Sehingga dia bisa bersyukur terhadap setiap rezeki yang diterimanya. Dan ajarkan pada mereka untuk berbagi, sehingga jika kelak mereka punya rezeki berlebih, mereka pun terbiasa untuk memperhatikan orang yang belum beruntung.” Kataku menirukan gaya bicara nenek.

 

“Heh Kakak kok suka nguping pembicaraan orang tua ya?” Sambil mengarahkan mukaku kehadapannya.

 

“Heh Ayah lupa ya, bagaimana aku nggak nguping coba, wong Nenek bilangnya dihadapan semua orang.” Aku memonyongkan mulutku tidak suka dicap anak penguping pembicaraan orang tua.

 

“Iya yah, tapi kenapa Kakak hapal betul apa yang dikatakan Nenek?” Tanya Ayah lagi.

“Yah Ayah sih sudah tua pikirannya kemana-mana. Jadi Nenek ngomong gitu sekarang, besok lupa lagi. Pantesan saja hampir setiap ketemu Nenek ngomongnya itu lagi, itu lagi, coba bagaimana Kakak nggak hapal.” Jawabku sambil cemberut.

 

“Heh iya yah Ayah sudah tua kayanya, jadi sering lupa apa yang dikatakan Nenek. Untung ada cucu nenek yang bisa ngingetin Ayah pada nasehatnya. Maafkan Ayah yang telah menuduh Kakak suka menguping.” Jawab Ayah sambil menciumi kepalaku yang masih berada di dadanya.

 

“Terus apalagi yang dikatakan Nenek?” Tanya Ayah lagi seakan menguji ingatanku pada pembicaraan Nenek.

 

“Jika kamu punya rezeki tabunglah sebanyak-banyaknya. Jangan hanya dipakai untuk membeli barang-barang yang kurang bermanfaat. Kita tidak tahu ada cobaan apa didepan, tapi pendidikan anakmu tidak boleh berhenti.” Lanjutku

 

“Kamu akan merasa sakit hati, ketika anakmu mendapatkan prestasi yang bagus, terus pendidikannya harus berhenti hanya gara-gara kamu tidak punya tabungan untuk membiayainya. Itu sama saja dengan tidak menghargai jerih payah anakmu yang sudah susah payah belajar. Cucu Nenek harus berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, baik laki-laki maupun perempuan.” Kataku meniru gaya nenek kalau sedang menasehati.

 

“He he he pantesan putri Ayah pinter bicaranya, ternyata gaulnya sama nenek-nenek.” Kata Ayah sambil menahan tawa dan menjauh dari jangkauanku.

 

“Eh apa maksudnya, memang Aku kaya nenek-nenek cerewet gitu?” Kataku memelototkan mataku menahan marah pada Ayah.

 

“Tuh sadar”Kata Ayah sambil tertawa dan menjauh dariku.

 

“Ayaaaahhhh” Aku berlari mengejar Ayah dan mencubit tangannya.

 

“Ampun, ampun, ampun” Kata Ayah sambil terus tertawa.

 

Sedangkan Bunda hanya tersenyum menyaksikan interaksi putri dan Ayahnya yang sangat jarang bercanda.

 

#KMP4diarpus

#KMP2021

#abadidalamfiksi

#NyiHeni

#THR


”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...