Senin, 23 September 2019

Membalas kebaikan




MEMBALAS KEBAIKAN



Masih cerita yang tercecer kali ini menceritakan seekor tikus dengan kucing ayo kita simak !


Seekor tikus sedang bermain dengan riang. Ia melompat kian kemari sambil bernyanyi dan tertawa. Ia memperhatikan ke dua belas anaknya yang baru lahir. Induk tikus merasa sangat bahagia.

Entah dari mana datangnya tiba-tiba ada seekor kucing belang tiga dan menegur tikus.
“Telah lama kucari engkau baru kali ini aku berhasil menemukanmu. Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan.” kata kucing belang tiga.

“Apakah yang akan dibicarakan penting sekali sampai engkau mencariku kemana-mana? Kurasa tak ada hubunganya antara engkau dan aku. Sebelum ini kita tak pernah berkenalan. Aku tidak yakin niat mu baik !” tanya tikus pada kucing penuh curiga.

“Jangan lekas buruk sangka, benar selama ini kita tidak saling kenal. Tapi nenek moyangku pernah ada perkara dengan nenek moyangmu sampai hari ini tidak selesai karena nenek moyang mu selalu menghindar tidak mau berhadapan langsung dengan nenek moyangku.” kucing menjelaskan apa maksudnya.

“Jadi untuk itukah kau mencariku? ” tanya tikus tak sabar.
“ Apakah nenek moyangku punya utang pada nenek moyangmu? kalau ada berapa jumlahnya? bekas keperluan apa? berapa bunganya? mana buktinya? Apakah benar nenek moyangmu kaya sehingga mampu memberi utang? tanya tikus bertub-tubi.

“Bukan soal utang, engkau telah menuduh keluargaku tukang melepas uang. Hati-hati kawan, jangan bicara seenak mulutmu, bicara asal bunyi. Aku bukan keturunan litah darat. Seperti beberapa orang lainnya. Keluarga ku baik-baik saja, yang hendak ku persoalkan adalah Sisa perkara yangharus kita selesaikan.

“Bicaralah aku bersedia berunding dengan engkau. Aku tak mau nenek moyangku selalu kau umpat. Biarlah nenek moyangku bebas dari segala tuntutan. Kewajibanku adalah berusaha agar mereka mendapatkan kedamaian di akherat. Ayo katakanlah apa persoalannya?” tanya tikus penasaran.

“Terima kasih, sekarang kita bisa bicara baik-baik ku harap engkau tidak marah.” Jawab kucing dengan tenang.

“Aku jamin selama tidak ada yang menyinggung perasaanku. Dan selama tuntutanmu itu masuk akal aku berjanji akan membereskannya. Kecuali engkau menuntut yang bukan-bukan. Aku harus bertahan, biar apa pun yang hendak terjadi.” kata tikus mengemukakan prinsipnya.

“Kuharap engkau jangan mengancam. Bicaralah dengan pikiranmu, jangan terlalu cepat menuruti perasaanmu aku belum selesai bicara tentang soal sebenarnya.” permintaan kucing pada tikus.
“Ayolah cepat katakan aku ingin segera mengetahui persoalannya.” pinta tikus.
“Ini soal kumis” kata tikus tak melanjutkan kata-katanya.
“Apa soal kumis? Aku tak mengerti apa maksudnya. Ada-ada saja kumis dipersoalkan, turun temurun lagi, sama sekali tidak lucu.”gerutu tikus tak mengerti.

“Lucu tidak lucu tetap menjadi soal, aku tidak ingin kau berkumis, menyamai keluargaku. Engaku tidaktahu diuntung, apakah pantas badan kecil, moncong jelek, memakai kumis. Mau meniru aku tubuh ku kekar, dengan langkah yang tegap. Kamu sungguh menjijikkan.” jelas kucing mengungkapkan ketidak setujuannya.

“Tak salah juga sangkaku, kau anggap hanya engkau saja yang boleh berkumis? kau perintahkan aku untuk menanggalkan kumis ku. Sejak kapan kau diberi kuasa untuk memerintahku, untuk tunduk kepadamu. Semua mahluk sama kedudukannya didepan Allah. Engkau lupa golonganmu adalah penjahat didepan pura-pura baik dibelakang mencuri makanan orang.” kata tikus membela diri.

“Inilah buktinya nenek moyangku terus- menerus menuntut golonganmu. Engkau keras kepala, angkuh, busuk, iri hati, dengki, ingin menang sendiri, tukang menularkan penyakit pada manusia” kata kucing menumpahkan kekesalannya.

Kucing melengkungkan badannya, mengambil ancang-ancang hendak menerkam lawan. Kucing menggeram sambil mengeluarkan kuku kakinya.
Tikus tetap tenang, matanya menantang, melirik ke kiri kekanan. Sambil mengejek seolah-olah berkata “Boleh coba Aku tak gentar”

Kedua makhluk itu saling berpandangan, kucing berteriak.
“Apa terima tamparanku, jangan menyesal, mintalah maaf pada sanak saudaramu sebelum dihancurkan.
“Kejarlah aku jangan anggap remeh. Tikus lari masuk semak dan rumput. Kucing mengejarnya. Tiap kali kucing mendekat tikus meloncat. Kadang sambil menyambar muka kucing, Kucing makin marah ia mengejar lawannya lebih galak lagi.” kata tikus lalu berlari.

Puluhan kilometer mereka lalui, tiba-tiba tikus merasa terkurung, suatu tempat gelap, dindingnya empuk seperti buludru. Awalnya kami tikus cemas, tetapi akhirnya ia merasa lega. Ia terlindung aman, terlepas dari musuh yang mengejarnya.

Melihat harimau dihadapannya, kucing lari dia membatalkan niatnya untuk mengejar tikus. Harimau mengangkat kaki depannya. Tikus melihat cahaya matahari, lalu hendak berlari kembali setelah melihat harimau. Harimau menegurnya.

“Jangan lari aku tak akan mengganggumu, engkau telah menolngku dulu waktu aku terjerat perangkap manusia. Aku telah lama mencarimu, ingin berterima kasih. Kebetulan kau lewat dikejar kucing jadi kututupi dengan telapak kakiku supaya kau aman. Bawalah anak-anakmu kedekat sini pindah kesini biaraku jaga semuanya.” ujar harimau menjelaskan.

“Aduh raja besar terima kasih engkau telah membebaskan aku dari maut.” kata tikus berterima kasih.

Sejak itulah tikus membuat perkampungan baru dekat sarang harimau.

Minggu, 22 September 2019

Jembatan Darurat


JEMBATAN DARURAT



            Hari Minggu saatnya ada di rumah, untung hari ini tidak ada jadwal keluar seperti pergi undangan atau keperluan lain yang mengharuskan keluar. Bisa seharian di rumah rasanya sesuatu banget. Selain mengerjakan pekerjaan harian di rumah, kadang aku merubah posisi perabotan rumah dan aksi bersih-bersih sehingga tampak seperti suasana baru.

            Ketika memindahkan buku-buku koleksi yang ada di lemari. Ada buku lama yang tak berjilid halamannya sudah bercecer tidak utuh lagi, sudah banyak halaman yang hilang. Aku simpan di meja belajar dan sekarang aku ketik ulang inti ceritanya.

            Ada seekor kancil yang kehausan. Ia pergi ke tebat di dalam hutan. Seperti yang selalu ia lakukan setiap hari. Kebetulan di tepi tebat ada seekor harimau yang mau minum juga. ketika keduanya berpandangan haus mereka menjadi hilang. Harimau menjadi lapar, sedangkan kancil menjadi takut.

            Mata harimau bersinar-sinar, ia ingin segera menerkam kancil. Melihat keadaan demikian kancil sadar bahwa ia dalam bahaya. Cepat-cepat ia berbalik dan lari. Perdu disuruk, bukit di daki, lembah dituruni dan jurang dilompati. Harimau mengejar dengan geramnya. Karena tubuh harimau besar terpaksa harimau harus mencari jalan lain. Akibatnya jarak mereka semakin jauh.

            Tibalah kancil ditepi sungai, sungainya lebar dan dalam. Terlihat di dalam sungai ada buayanya. Sambil berjalan kancil berpikir ‘apa yang harus aku lakukan’. Kancil berada dalam posisi ‘lepas dari mulut harimau sekarang jatuh ke mulut buaya’.

            Buaya yang ada dalam air menyembulkan kepalanya dan berkata, “Pucuk dicinta ulam tiba. Dari tadi aku menunggu barangkali ada katak lalu, sekedar penghilang laparku, sekarang kancil datang, sungguh adil Tuhan.”

Mendengar kata-kata buaya kancil bersikap tetap tenang, laluberkata,” Benar sekali apa yang kau katakan, aku datang ke sini untuk kamu. Karena aku tahu kamu perlu makan. Aku telah merasa cukup hidup di dunia ini.   Aku berdoa agar aku segera mati. Supaya matiku bermanfaat. Aku pun datang padamu. Tapi aku ragu engkau di sini tanpa teman.”

            “Terima kasih kau berniat baik. Apa kau ragu karena aku tak berteman? Aku akan merasa senang dengan gadingmu. Engkau akan ku anggap pahlawan karena berjasa menghilangkan ku dari lapar.” jawab buaya.

“Dengar dulu baik-baik, aku rela kau makan sekarang juga, tetapi bagaimana dengan sisa tubuhku? Itulah sebabnya aku bingung. tubuhku ini tampaknya kecil, tetapi boleh kau saksikan nanti kau makan bersama temanmu berpuluh-puluh ekor, aku belum yakin dagingku akan habis” jawab kancil membuat siasat.

“Jangan membual kawan, sekali ku ngangakan mulutku, lenyaplah engkau ke perutku” buaya memberikan alasan.

“Silahkan coba, tetapi tanggung jawab sendiri akibatnya. Begitu tubuhku terluka, begitupula tubuhku membesar. Makin dilukai makin bertambah besar. Kuanjurkan kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Panggillah teman-temanmu sebanyak-banyaknya, lima puluh,seratus atau lebih, aku tak peduli. Asal kau tahu, buatlah luka sebanyak-banyaknya agar dagingku banyak juga dan cukup untuk seberapa banyak teman-temanmu” kancil menyakinkan buaya.

Mendengar cerita kancil buaya semakin yakin. Teringat pula pada teman-temannya di dasar sungai yang jumlahnya cukup banyak. Buaya pun berkata pada calon mangsanya.
“Baiklah akan ku panggil teman-temanku sebanyak-banyaknya biar kami makan besar kali ini.”

            Buaya menyelam ke dasar sungai, tak lama bermunculan buaya-buaya di atas air. Berpuluh-puluh jumlahnya. Sementara kancil dengan tenang berdiri di tepian sungai.

“Tidak ada lagi temanmu? Biarlah kukira cukup segini juga. Sekarang aku ingin tahu berapa jumlah kalian. Berjejerlah selebarsungai ini agar aku mudah untuk menghitungnya.” perintah kancil.

            Buaya menuruti perintah kancil, mereka berbanjar dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Sedangkan sisanya berbanjar di belakangnya.
“Kami telah siap silahkan hitung” pinta buaya yang sudah berbanjar.

              Kancil melompat dari punggung buaya, dipukul-pukulnya kepala buaya dengan kakinya kuat-kuat. Kancil melompat dari punggung buaya yang satu ke punggung buaya lainya sambil berteriak.
“Satu, dua, ... dua puluh ... tiga puluh...... dan seterusnya.” hingga sampai ke seberang sungai lalu melompat ke tanah dan naik ke atas lalu berpaling dan berkata.
“Cukup banyak juga kalian, aku senang, sekarang aku sudah sampai darat, ayo siapa yang berani kejar aku sampai dapat” ujar kancil sambil berlari meninggalkan buaya yang bengong mendengar kata-kata kancil.
“Wah kita ditipu, dasar penipu, bagaimana kita bisa mengejar dia” kata seekor buaya. 

                 Ketika buaya sedang membicakan kancil. Datanglah seekor harimau bertanya.
“Adakah kalian melihat kancil? Aku ingin memakan dia.” ujar harimau dengan kesal.
“Itu dia mengapa kami berkumpul di sini, kami disuruh berbaris, ternyata kami dibuatnya jembatan dengan punggung kami, sekarang dia aman di seberang sana” jelas buaya pada harimau.
Harimaupun tak menjawab. Ia kembali masuk ke hutan rimba.

Sekian
ooooooooooooooooOOOoooooooooooooooooo

Sabtu, 21 September 2019

Kisah dari Balik Jendela Kelas




                                          Ulasan Buku Kisah Dari Balik Jendela Kelas

Teman-teman adakah diantara teman-teman yang sudah membaca buku kumpulan kisah “Dari Balik Jendela Kelas” karya Iip Syarif Hidayat dan kawan-kawan? Jika sudah teman-teman pasti setuju dengan pendapat yang akan dikemukakan. Bagi yang belum baca coba cari dan nikmati serta buktikan benarkah apa yang saya kemukakan.

Kumpulan Kisah Dibalik Jendela Kelas adalah kisah yang menceritakan pengalaman di sekolah. Ada Mozza anak kelas 3 SD yang merasa sedih karena tidak ada lagi kakaknya yang biasa menemaninya belajar. Kakaknya pindah rumah mengikuti suaminya. Ada Bimbim yang suka bermain bola kertas di kelas tanpa diketahui guru. Dan sangat senang belajar dengan ibu Tantri yang cantik.

Selanjutnya Wawang Santika menceritakan pengalamannya yang harus mengajar anak dari wanita yang telah merusak rumah tangga orang tuanya. Membacanya saja terasa sesak di dada.

Zia ulhaq  menceritakan kisahnya yang selalu menjadi sasaran keisengan Qamal. Qamal orangnya periang dan gokil. Keisengannya membuat Zee marah, jengkel dan malu. Hampir setiap hari dia menulis I Love Yau di papan tulis, atau menaiki kursi guru dan dengan lantang mengatakan Zee I Love Yau. Pada awalnya Zee merasa terganggu tapi kemudian dianggap biasa saja sampai suatu hari Qamal memberikan surat cintanya dan menunggu jawabannya.

Reni Nilawati yang dengan sabar menghadapi kenakan anak didiknya dengan harapan anak didiknya dapat membawanya ke surga. Acbar Deni melalui Taman Bacaan Masyarakat yang didirikannya mengantarkannya bertemu dengan gadis cantik yang tuna rungu kemudian mendorongnya untuk belajar bahasa isyarat agar dapat mendekati gadis cantik di Taman Bacaannya.

Lilis Wulansari dengan anak-anak asuhannya mendobrak tradisi juara hanya untuk sekolah favorit. Dengan semangat dan kegigihannya ibu Lilis dan anak-anak didiknya mengalahkan berbagai keterbatasan dan cemooh rekan-rekannya mengantarkan anak-anaknya untuk mendapatkan juara.

Topi Cinderella karya Puple Rose mengisahkan anak SMA yang sudah saling tertarik, tapi merasa tidak berdaya karena perjodohan kedua orang tuanya. Selanjutnya bertemu kembali di acara reunian. Yommi Maryam dalam Berseteru dengan Rindu mengisahkan seorang murid laki-laki tingkat SLTA yang mencintai gurunya. Endang Giri Yanti menceritakan perjalanannya mengantarkan anak didiknya mengapai cita-citanya menjadi dokter. Dinie Tanti menceritakan kisah anak SMP kelas 8 yang kehilangan gairah belajarnya karena kecanduan game. Haney Agoestiny diam-diam menyekolahkan anak berkebutuhan khusus yang disembunyikan ibunya dengan berbagai resiko yang dihadapinya. Sampai suatu hari dia mendapat surat undangan untuk menghadiri wisudanya.

Fatimah Zahra mengisahkan pergaulan anak SMA yang terbebani dengan target orang tuanya menyebabkan anak stres dan berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya dengan berbagai cara. Tapi akhirnya redam dengan ketulusan dan kekompakkan yang mengantarkan bahagia untuk semuanya.  
Zyl Furqani menceritakan kisah cinta dibangku sekolah yang berakhir dengan perpisahan karena harus melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Indonesa di dadaku Malaysia diperutku, itulah semboyan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia. Iip Syarip Hidayat menceritakan penomena yang terjadi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia. Menanamkan rasa nasionalisme pada negara Indonesia sedangkan mereka tak pernah berkunjung sekali pun ke Indonesia. Sedangkan dalam Kisah Seorang Sumarni Iip menceritakan anak yang sering mengambil barang orang lain dan menjadi peminta-minta karena kebiasaan.

Wahyuni Indriyani mengisahkan tentang remaja labil yang rentan dengan pergaulan masa kini, dan diperkuat dengan ketidakharmonisan keluarga. Dan yang terakhir adalah Mutia Rahmat mengisahkan tokoh Husni yang dengan segudang kenakalannya selalu diberi motivasi dan perlindungan oleh Pak Rahmat akhirnya kembali ke sekolah mencari Pak Rahmat setelah berhasil menjadi seorang Polisi.

Demikianlah kisah-kisah di sekolah dengan berbagai lika-likunya yang ditulis oleh penulis-penulis handal dengan berbagai pengalamannya. Dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami menginsfirasi bagaimana seorang guru menghadapi siswa-siswinya mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan. Kisah ini sebaiknya dibaca oleh anak-anak sekolah dengan dinamika yang dialaminya. Juga oleh guru supaya menjadi cermin bagaimana ketulusan seorang guru mendidik anak-anak didiknya dapat menghantarkan mereka ke gerbang kesuksesan.  

Mudah-mudahan berkenan

Jumat, 20 September 2019

Pemilihan OSIS


PEMILIHAN OSIS

“Naimah bangun” suara ibunya terdengar samar sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Naimah membuka mata terasa masih berat, kepalanya terasa pusing perasaan dia baru saja memejamkan matanya.

“Naimah ayo bangun mau sekolah nggak?” tanya ibunya lagi sambil menggoyangkan tubuhnya. Katanya mau pemilihan OSIS.

Dug.... jantungnya berdegup keras Naimah tersentak ya hari ini pemilihan OSIS dia dicalonkan oleh teman-temannya untuk menjadi OSIS. Semalam dia tidak bisa tidur perasaannya tak karuan pikirannya menerawang apa yang harus dia lakukan jika terpilih menjadi OSIS. Kegiatannya pasti banyak dan harus pulang sore terus kalau menjadi OSIS. Naimah mengingat-ngingat pikirannya semalam.

“Jam berapa Bu?” Naimah mencoba bertanya dan bangun perlahan.
“Jam 6.00 WIB” ibunya menjawab.
“Apa? jam enam?” Naimah tersentak. sambil berlari mengambil handuk dan secepatnya dia mandi dan berganti pakaian.

“Bu Naimah berangkat” setelah mencium tangan ibunya dan berpamitan.
“Sarapan dulu!” ibunya menyuruh sarapan.
“Ngak keburu Bu, sudah kesiangan” jawabnya sambil berlari dan melihat kanan kiri mencari ojek yang bisa membawanya ke sekolah.

Tiba di sekolah ternyata baru selesai tadarusan dan berinfak. Anak-anak sudah ada yang mau ke kelas Naimah menyelinap mendekati gerbang lalu membuka pintunya ternyata tidak dikunci.

“Alhamdulillah.” Naimah bersyukur untuk sementara dia bisa masuk gerbang dan ikut antri dengan anak-anak lain yang mau infak harian.

Fotonya sudah dipajang sejak seminggu yang lalu. Hari ini pelaksanaan pemilihannya. Dia sudah mempromosikan dirinya untuk dipilih menjadi ketua OSIS masuk ke kelas-kelas.

Pak Agus Ramdhani sebagai pembina OSIS mengumumkan pada semua anak-anak untuk keluar dan kumpul di  halaman sekolah. Anak-anak OSIS lama sudah menyiapkan meja dan alat-alat pemilihan OSIS. Yang bertugas memberi kertas suara, yang menjaga bilik pemilihan dan ada juga yang menjaga kotak suara termasuk yang menjaga tinta sebagai tanda sudah memilih.

Semua calon ketua OSIS dipanggil supaya duduk dikursi yang telah disiapkan sesuai dengan nomor pemilihan. Badanku bergetar, perasaanku tak menentu, ada rasa mules diperutku, mau ke air tapi tidak mau pipis. Ada rasa lapar tapi tidak berselera makan badanku panas dingin. Tanganku berkeringat dan terasa dingin. Mataku mulai berkunang-kunang karena terasa panas padahal matahari masih hangat karena baru jam 9 pagi. Pemanggilan siswa-siswi yang mau memilih dari kelas 7.1 sampai kelas 9.3. Dilanjutkan dengan guru-guru yang hadir pada hari itu juga ikut memilih.

Badanku gemetaran, berkeringat dingin dan berkurang-kunang. Kupaksakan tetap duduk di bangku calon OSIS bersama rekan-rekan yang lain. Perasaanku sudah tidak karuan pusing, penat, panas, dingin beraduk menjadi tak menentu.

Selesai siswa-siswi dipanggil satu persatu maju untuk memilih OSIS, dilanjutkan dengan penghitungan suara. Naima sudah tidak tahan lagi penglihatannya menjadi gelap badannya terasa lemas dan melorot ke bawah, akhirnya Naima pingsan dan digotong ke ruang UKS, sedangkan penghitungan suara dilanjutkan kembali.

Bau kayu putih menyengat didekat hidungnya, Naima sedikit membuka matanya, didekatnya dia mendengar suara-suara yang tak jelas, kesadarannya mulai terkumpul dia baru ingat kalau tadi dia sedang duduk di kursi calon OSIS dan kepanasan. Badannya tidak enak dan matanya berkunang-kunang tak lama kemudian terlihat gelap sesudah itu takingat lagi.

Naima kembali sadar lalu diberi minum air hangat dan didudukkan supaya agak tenang. Sementara di luar selesai penghitungan suara dan Pak Agus mengumumkan bahwa yang menjadi ketua OSIS tahun pelajaran baru ini Naima dan Sulistia sebagai wakilnya. Anak-anak bersorak sorai ramai sekali tak lama kemudian teman-teman sekelasnya menyusulnya ke UKS dan mengucapkan selamat. 

Rabu, 18 September 2019

Persiapan Kehamilan



PERSIAPAN KEHAMILAN

Mempunyai anak adalah dambaan bagi pasangan yang sudah menikah. Anak adalah anugrah sekaligus amanat dari Allah. Bagi pasangan yang belum mempunyai anak mungkin masih belum lengkap kebahagiaannya jika belum punya anak. Anak pelengkap dari kebahagian dalam membina rumah tangga selain sebagai penerus keturunan. Bagi pasangan yang belum punya anak mari kenali persiapan-persiapan dalam menghadapi kehamilan.

Diambil dalam Dokter Sehat.Com– Kehamilan adalah suatu masa yang di mulai dengan pembuahan antara sperma dan sel telur dan berakhir dengan permulaan persalinan. Ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari, tidak jarang ibu mengalami hal ini. Perdarahan dari kemaluan. Oedem (bengkak) dimuka atau anggota gerak (tangan dan Kaki).

Persiapan menyambut kehamilan:
1.      Kuatkan ikatan batin dengan pasangan.
Proses kehamilan membuat emosi calon ibu turun-naik dan lebih peka. Jadi memerlukan pengertian dari pasangannya  agar ikatan rumah tangga tetap berjalan dengan nyaman.

2.      Pertahankan kodisi mental yang sehat.
Perubahan emosi yang naik turun kadang-kadang memengaruhi sikap mental menjadi tak terkendali dan terjadi kesalahpahaman. Pertahankan sikap mental yang sehat dan tetap stabil.

3.      Diskusikan dan rencanakan kehidupan baru yang seimbang.
Membuat rencana kehidupan bersama akan menyenangkan yang akan mempengaruhi dan mempererat hubungan pasangan apalagi setelah kehadiran bayi.

4.      Mempersiapkan diri dengan peran baru sebagai bapak dan ibu tanpa mengurangi peran sebagai suami dan istri. Banyak pasangan yang merasa tersisihkan setelah mempunyai peran baru, terlalu sibuk dengan peran baru sehingga mengabaikan peran sebagai suami dan istri.  

Pada tiga semester pertama pertumbuhan janin di dalam rahim adalah sistem peredaran darah, jantung, saraf tulang belakang, organ dalam dan otak. Janin sangat rentan terhadap radiasi, obat dan alkohol. Oleh karena itu ibu hamil tidak diperkenankan sembarangan, merokok, dan kebiasaan buruk lainnya. Ibu hamil harus memilih nutrisi yang baik yang dapat menunjang pembentukan jaringan dan organ tubuh, serta pertumbuhan janin dalam rahim.

Pada tiga semester kedua pertumbuhan janin ukurannya membesar dan perbaikan struktur menjadi lebih detail. Tidak ada perkembangan mendasar pada tiga semester kedua ini kecuali pertumbuhannya semakin besar.

Pada tiga semester  ketiga pertumbuhan bayi sangat pesat untuk mendapatkan kekuatan menghadapi hidup dilingkungan luar.  Pada semester ini jaringan tubuh sudah terbentuk dan organ tubuh sudah lengkap tinggal memperbesar pertumbuhannya.

Pada masa kehamilan selain mempersiapkan nutrisi, mental juga mulai membiasakan mendekatkan diri pada Allah. Dengan banyak bertasbih, membaca Al Quran, berinfak dan sodaqoh, tidak hanya calon ibu tapi juga calon bapak. Dengan banyak mendekatkan diri pada Allah mental calon ibu menjadi lebih tenang dalam menghadapi segala perubahan hormon dan emosi. Calon ibu lebih bijak menghadapinya dan lebih siap menghadapi apapun yang terjadi karena semuanya Allah yang mengatur manusia hanya menjalani. Demikian juga dengan calon bapak lebih perhatian pada Istrinya dan calon bayinya. 



Tantangan Pekan 2




MENULIS 

Apa yang menarik bagi seorang penulis? ya kata-kata. Mengapa kata-kata menjadi menarik?  ya karena ada makna. Menjadi penulis adalah impianku sejak dulu. Mengapa menulis sangat menarik bagiku? Karena bagiku menulis dapat mengungkapkan perasaan, bisa menghibur seseorang, dapat menambah pengalaman, juga membuka wawasan dan serta menambah kenalan dan persaudaraan.

Menyusun kata-kata tidaklah semudah membacanya. dan bila sudah menjadi karya patutlah kita berbangga. Jenis  apapun tulisan yang kita buat pasti pada suatu saat akan menemukan pembacanya.

Belum banyak yang aku ketahui mengenai jenis-jenis tulisan, tapi aku senang membaca novel romance, aku betah berlama-lama membaca novel, kadang aku mencuri-curi waktu untuk membaca disela-sela pekerjaan yang padat merayap dengan jadwal yang ketat. Terkadang aku terobsesi menjadi manusia tersesat di sebuah Perpustakaan yang penuh dengan novel. Mungkin aku akan betah berlama-lama di dalam tanpa mencari jalan keluar.  Pasti aku akan melahap semua novel yang ada sampai terasa lapar.

Waktu ku kini banyak terbagi dari kewajiban, harapan, keinginan, kesenangan, dan tuntutan. Semuanya menyita perhatian, terkadang aku terapkan skala prioritas semuanya berebut menuntut sentuhan.

Jenis tulisan yang membuat ku senang adalah tulisan cerita fiksi walaupun berupa imajinasi terkadang menjadi cermin di dunia nyata. Banyak ilmu yang didapat tanpa merasa penat. Banyak gambaran kehidupan yang menjadi pendidikan. Banyak nasihat tanpa merasa dinasihati.

Aku berkeinginan menulis cerita anak. Watak anak dengan polos ke kanak-kanakan tapi menjadi anak kebanggaan orang tua, menjadi idola masyarakat sekitar, menjadi dambaan ibu-ibu muda yang baru punya anak, menjadi idola anak-anak sebayanya dan menjadi teladan bagi semua kalangan. Sudah adakah buku cerita anak seperti yang digambarkan? Mampukah aku mewujudkannya?
Entahlah ...

Selasa, 17 September 2019

Monumen Palagan Bojongkokosan




  

Monumen Palagan Bojongkokosan

Pernahkah  anda berkunjung ke Monumen Palagan Bojongkokosan? Ada apakah di Monumen Palagan Bojongkokosan?
Jika anda berkunjung ke Sukabumi atau mengadakan perjalanan antara Bogor- Sukabumi.  Tepatnya Jalan Siliwangi No. 75, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda  Kabupaten Sukabumi. Jangan lewatkan mampir di Monumen Palagan Bojongkokosan. Apalagi  jika perjalanan anda pada jam-jam macet saat udara panas. Daripada anda diam di kendaraan menunggu macet, lebih baik anda belokkan kendaraan anda di depan Masjid Palagan Bojongkokosan.  Bisa istirahat sejenak sekedar selonjoran di Masjid Palagan atau jalan-jalan santai di bawah teduhnya pepohonan  sambil  menikmati semilirnya angin membelai mesra wajah-wajah penat. 

Memasuki  area parkir yang lumayan luas mungkin memuat sekitar 20 atau 30 kendaraan kecil, besar dan roda dua berada langsung di depan Masjid. Sebelum memasuki Masjid, jika anda lapar dan haus bisa sekedar menganjal perut dengan aneka jajanan yang berjejer di pinggir tempat parkir. Ada berbagai macam jajanan mulai dari bakso, mie ayam, sosis bakar, cilok, sop ayam, sop daging, soto, berbagai jus, dan aneka macam cemilan lainnya.

Dari tempat Parkir, anda berjalan ke sebelah kiri memasuki area Monumen Palagan Bojongkokosan. Pemandangan yang menarik perhatian adalah pada patung besar ditengah tanah luas. Ada lima patung dalam satu tugu bulat besar. Tugunya dilapisi keramik putih sedangkan patungnya berwarna emas. Kelima patung tersebut menggambarkan lima perwakilan. Terdiri dari tentara, petani, pemuda, ulama dan wanita. Dan kurang lebih sepuluh meter dari tugu lima patung ke sebelah kanan ada pohon beringin besar yang rindang. Yang melindungi tempat ini dari  ganasnya terik matahari yang memantul dari keramik tugu yang berwarna putih.

Ketika pagi atau sore apalagi pada hari libur dan tidak hujan.  Banyak pengunjung warga sekitar yang sekedar berjalan kaki, lari-lari kecil, atau anak-anak bersepeda, bahkan ada juga klub senam yang rutin mengadakan kegiatannya di halaman ini. Selain udaranya sejuk  tanahnya ditanami rumput rendah yang dipangkas berkala sehingga terlihat bersih dan rapi berwarna hijau.

Melanjutkan perjalanan ke atas dengan meniti beberapa anak tangga. Suasana semakin teduh karena dipayungi pohon-pohon rindang dan tinggi. Tiba di gedung utama pandangan tertuju pada Maket Monumen Palagan Bojongkokosan. Dari maket terlihat jelas denah posisi setiap gedung dan jalan serta batas-batas lokasi Monumen Palagan Bojongkokosan. Masuk ruang berikutnya bila anda rombongan dan mendaftar sebelumnya maka anda akan disuguhi nonton bareng video perjuangan Palagan Bojongkokosan. Selesai nonton selanjutnya anda dapat melihat biorama adegan demi adegan yang menggambarkan perjuangan para pahlawan Bojongkokosan. Dan foto-foto lainnya serta nama-nama pahlawan yang gugur di Bojongkokosan.

Bosan melihat biorama anda bisa keluar dan melihat bermacam pepohonan tinggi dan rindang. Dan pada waktu-waktu tertentu sering dipakai berkemah oleh anak pramuka atau organisi lainnya. Melangkah ke arah depan ada meriam dan kendaraan peninggalan sekutu yang dipakai pada waktu serangan berlangsung. Anda bisa swafoto dengan latar meriam dan kendaraan sisa peperangan.

Dulu pada waktu awal pembukaan gedung Monumen ini, ada perpustakaan yang lumayan lengkap koleksi bukunya. Bukan hanya buku sejarah saja, tapi buku pengetahuan umum dan buku bacaan fiksi dan non fiksi pun ada. Banyak anak-anak sekolah dan warga setempat yang memanfaatkan pasilitas ini. Namun sayang sekarang perpustakaan itu sudah tidak ada. Entah apa kendalanya sampai perpustakaan itu tidak ada. Padahal kalau masih ada perpustakaan, anak-anak yang bermain di Monumen ini tidak hanya sekedar bermain dan berolahraga, tapi mereka bisa sambil santai berteduh dari kepenatan bisa sambil membaca menambah pengetahuan atau hiburan dengan membaca buku-buku cerita ringan.

Demikianlah perjalanan ke Monumen Palagan Bojongkokosan yang terletak di daerah Kecamatan Parungkuda Kabupaten Sukabumi, kira-kira 2 km arah utara dan sejauh 4 km ke selatan Cicurug. Mudah-mudahan jadi rekomendasi yang menarik yang menjadikan anda penasaran untuk mengunjunginya.

Minggu, 15 September 2019

Roda Kehidupan



Roda Kehidupan

Avanza silver berhias  rangkaian bunga asli didepannya. Membentang pita warna pink, biru muda dan merah menghias depan mobil. Paduan warna-warna indah mempercantik penampilan mobil yang dipersiapkan membaca calon pengantin pria.

Dua motor gede membuka jalan mengawal mobil calon raja sehari itu. Dibelakang berjajar sekitar 10 mobil pribadi beriringan ditambah puluhan kendaraan roda dua. Iring-iringan mulai berangkat pukul 07.30 WIB menyusuri jalan yang mulai padat dengan kendaraan. Tiga puluh menit berselang iring-iringan calon pengantin akhirnya tiba di tujuan.

Disambut sang lengser dan empat penari, calon pengantin dan orang tuanya dipayungi. Pengalungan bunga oleh calon mertua sebagai tanda penyambutan dan penerimaan calon pengantin. Selanjutnya calon pengantin mengikuti jejak lengser dan ditempatkan ditempat duduk yang telah disediakan.

Sambutan serah terima dari perwakilan calon pengantin laki-laki, lalu disambut dengan penerimaan dari perwakilan calon pengantin perempuan. Penyerahan secara simbolis barang bawaan yang diserahkan secara estapet. Mukena yang dibentuk menjadi boneka pengantin, selimut berbentuk gajah, bed cover berbentuk angsa, sepatu, tas, make up, keranjang buah-buahan, dalaman, handuk berbentuk ular lengkap dengan peralatan mandi lainnya. Serta beraneka macam kue sebagai bahan hantaran calon pengantin pria untuk calon pengantin wanita. Tradisi yang sudah mendarahdaging sebagai penghormatan dan penghargaan dari keluarga laki-laki untuk keluarga perempuan.

Pemeriksaan biodata oleh petugas KUA, dilanjutkan dengan khutbah nikah dan sampailah pada acara inti ijab qabul.
“Saya nikahkan putri saya bernama ... binti .....pada ananda....dengan mas kawin .....seberat.....dan seperangkat alat shalat dibayar tunai” kata-kata ijab dari orang tua mempelai wanita dalam sekali napas. Dan langsung dijawab oleh mempelai pria dengan lantang dan tegas.
“Saya terima nikahnya putri bapak bernama....binti....dengan mas kawin tersebut dibayat tunai”. Kata-kata qabul yang diucapkan dalam satu trikan napas.
Yang disambut spontan oleh kedua saksi dengan perkataan “sah”.

Riuh senang dan gembira serta bangga pada kedua insan yang telah menjalankan tugasnya dengan baik dan sempurna. Rona bahagia terpancar dari kedua mempelai yang telah sah menjadi suami istri. Haru dan bangga tersirat dari kedua orang tua laki-laki maupun yang perempuan. Bangga karena telah lulus menjalankan tugasnya sebagai orang tua, mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga sampai pada tahap pernikahan. Haru karena anak-anaknya satu persatu menjauh dari sisinya dan tak lagi selalu bergantung pada dirinya, dan mempunyai kewajiban yang lebih besar tanggung jawabnya.

Kehidupan memang berputar dari sendiri, berdua, bertiga, berempat, kembali jadi bertiga, berdua dan akhirnya kembali sendiri. Dan selamanya sendiri di alam yang hakiki.

JODOHKU DI DIARPUS




JODOHKU DI DIARPUS
Aku baru saja duduk sambil membaca buku di ruangan pertemuan gedung Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sukabumi tempat diadakannya kelas menulis. Ruangan yang sejuk ber AC dan kedap suara itu ruangan satu-satunya tempat diadakannya berbagai pelatihan. Tak lama ada yang mengetuk pintu dan sesosok wajah putih dengan pakaian rapi tapi santai muncul dibalik pintu.
“Assalamualaikum.” Siempunya wajah mengucap salam sambil menyodorkan kedua tangan mengajak bersalaman.
“Waalaikum salam.” Aku menjawab salam sambil menerima ajakan bersalaman, tapi tanganku tak bersentuhan, sambil tersenyum dan mengangguk.
“Ikut pelatihan juga?” tanyanya mengawali percakapan.
“Iya” jawabku singkat mengalihkan pandangan dari buku bacaan menatap wajahnya.
“Dug ach” dadaku berdegub kencang ketika tatapanku bertemu pandang. Secepatnya kualihkan pandangan kembali ke buku bacaan. Tapi konsentrasiku sudah tidak pokus lagi ke bacaan. Untuk mengurangi getaran-getaran tak karuan dihati ku buka-buka buku bacaanku.
“Tok...tok..tok...Assalamualaikum” muncul lagi seorang laki-laki yang datang dengan kaos dan celana jins masuk dan bersalaman, aku menerimanya tanpa menyentuh tangannya. Tapi hatiku tak seperti yang tadi dengan yang ini biasa saja tak ada rasa apa-apa aneh.

Satu demi satu bermunculan yang akan ikut pelatihan menulis yang sebelumnya sudah daftar melalui media whatsApp. Dan akhirnya sekitar pukul 10.00. WIB pelatihan pun dimulai. Dengan riang dan renyah Bu Nani membuka pelatihan dan mengemukakan tujuan pelatihan.  “Dinas Kearsipan dan Perpustakaan mengadakan berbagai palatihan bertujuan mendekatkan program perpustakaan pada masyarakat umum tidak hanya anak sekolah dan mahasisiwa saja. Tidak hanya sekedar membaca dan meminjam buku, tapi manfaatnya agar lebih besar lagi bagi masyarakat umum. Dan juga agar manfaat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan lebih dirasakan oleh masyarakat secara luas. Setelah pelatihan diharapkan menghasilkan satu produk yang dapat diberikan ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan sebagai pertanggungjawaban terhadap program yang digulirkan untuk masyarakat.” Demikian sekelumit pembicaraan Bu Nani yang dapat ku simak.

Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan dengan menyebutkan nama dan asal tempat tinggal. Walaupun dalam grup WA sudah melakukan perkenalan dengan cara unik yakni dengan menyebutkan nama dan asal tempat tinggal dalam bentuk cerita menggunakan kata kunci sendal jepit, patromak dan kucing.
“Oh Abdul Halim.” Gumamku dalam hati sambil sesekali mencuri pandang. Ketika giliran laki-laki yang membuat hatiku berdebar berbicara.
“Baiklah teman-teman dan juga adik-adik, karena disini masih ada yang masih sekolah di SMP jadi materinya diambil dari yang paling mudah bla...bla...bla....” Bu Mutia menjelaskan dengan panjang lebar sehingga peserta mengerti apa yang harus dilakukan sampai tiba waktunya istirahat salat.

Setelah istirahat salat materi dilanjutkan lagi hingga selesai dan pulang.
“Pulangnya ke mana” tiba-tiba Abdul sudah ada dibelakangku dan bertanya.
“Ke Salabintana” jawabku singkat sambil terus berjalan dan Abdul Halim mengejar sehingga kami berjalan berdampingan menuju angkutan perkotaan. Tak lama angkotnya datang aku langsung naik.
“Duluan ya” pamitku pada Abdul dan langsung naik angkot.
“Nanti aku japri ya.” Abdul Halim setengah berbisik tapi masih aku dengar. Aku tak menjawab terus saja naik angkot dan duduk hingga sampai di Pesantren.

Setelah berbuka dengan air putih dan kurma, para santriwati salat magrib lalu kembali makan hingga waktu salat Isya tiba. Kumandang azan menggema dari menara masjid menggetarkan jiwa-jiwa yang khusu untuk menyerahkan diri pada yang hakiki. Para santriwati kembali bersiap mengambil air wudu, selesai azan dan membaca doa setelah azan ada sebagian santriwati melaksanakan salat qobla Isya sambil menunggu imam memulai salat berjamaah.
Jam di kamarku menunjukakan pukul 22.00 WIB ketika perlahan mau merebahkan tubuh yang mulai letih setelah seharian beraktivitas. Notifikasi di  gawai berbunyi “Jangan-jangan dari dia” harap-harap cemasku. Aku tak terlalu berharap banyak aku tak ingin menunjukkan ketertarikanku padanya aku tak ingin kecewa nantinya. Tapi dihati yang paling dalam ada harapan dan keinginan dia menjadi jodohku. Ku buka gawaiku dan ternyata ada WhatsApp dari dia. Isinya

Boleh kenalan lebih jauh?
(Tidak boleh sebelum ada izin dari orang tua) jawabku pura-pura ketus.
Ada yang marah nggak kalau aku wapri kamu?
(Ada, orang tuaku dan ustadhah di tempat aku mondok pasti marah} masih dengan ketus
Boleh nggak kalau aku jadi pacarmu
(Tidak boleh pacaran kecuali kalau sudah jadi suami istri) jawabku masih ketus
Kalau begitu mau nggak kamu menjadi istriku?
(Jangan bertanya padaku kalau serius mintalah pada orang tuaku di Pesantren Annidzom Salabintana maaf Assalamualaikum) jawabku menutup WhatsApp malam itu.

Aku tak bisa tidur malam itu takut benar-benar dia datang meminta pada orang tuaku dan orang tua tidak setuju. Juga takut hatiku sudah berharap tapi dia hanya main-main saja. Setelah beberapa lama kantukku tak kembali malah kegelisahan yang mendera dalam dada. Bulak-balik guling yang ku dekap malah terasa panas, ku paksakan menutup mata sambil membaca doa dan ayat-ayat Al quran yang kuhapal dalam hati, masih juga tidak membawa mata ini terlelap dalam mimpi.

Ku lirik jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 pagi dari pada terus-menerus dalam kegelisan. Akhirnya ku geser guling yang kudekap dari tadi, kusingkapkan selimut yang tadi membungkus tubuh ini, kulangkahkan kakiku mengambil wudu, ku tundukkan semua ego dalam diri ini disujud salat tahajud, ku tumpahkan semua kegelisahan dan kehawatiran hatiku dalam jeritan doa, ku titipkan harapan dan keinginan yang terdapat dalam lubuk hati yang paling dalam pada malaikat-malaikat yang berjaga diwaktu malam. Dan tak terasa ku tersungkur dalam lelap di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena.

Sore itu awan putih dilangit bersih, sinar mentari masih mendominasi cakrawala, warna keemasan diufuk barat menambah indah lukisan Sang Maha Pencipta. Seperti Biasa jadwal hari Jumat sore aku membimbing para santriwati untuk membaca selawat. Ketika sedang membaca selawat ada santriwati masuk dan memberi kabar ada tamu yang ingin bertemu. Aku tak bertanya siapa, karena sudah sering tamu yang datang biasanya orang tua atau saudara santriwati yang menanyakan kabar atau menitipkan keperluan santriwati asuhanku.

Dug... jantungku berhenti sejenak, darahku seakan berhenti mengalir sesaat, ketika kulihat Kang Abdul ada diantara tamu yang duduk di ruang tamu. Aku tak bisa menghindar atau untuk sekedar berbenah diri, karena semua pandangan sudah mengarah dan menanti kedatanganku. Ku salami semua tamu yang hadir, lalu duduk dikursi kosong yang sengaja disediakan untukku.
“Nak Abdul betul Marisa yang ini yang kamu maksud, yang kamu pinta untuk menjadi istrimu?” tanya ustaz melanjutkan pembicaraan setelah tadi terpotong dengan kehadiranku.

“I..iya ustaz” jawab Abdul sambil menganggukkan kepala.
“Nah Neng Marisa, Abdul dan orang tuanya sudah berbicara banyak pada Abi, intinya kedua orang tua Abdul memintamu untuk dijadikan istri, bagaimana kamu siap?” tanya Abi padaku.
Aku tak dapat menjawab mulutku seakan terkunci, tenggorokanku seakan kering tak dapat mengeluarkan suara. Kepalaku tertunduk malu, tak kuasa aku mengangkat kepala sedikitpun, seakan dibebani puluhan karung beras di pundakku. Samar ku dengar Abi menyimpulkan diamnya wanita yang dilamar menandakkan jawaban iya.

Pembicaraan-pembicaraan selanjutnya aku sudah tak dapat menyimak. Namun kesimpulan besar yang akan merubah hidupku dan mudah-mudahan ini terjadi hanya sekali dalam hidupku. Sehari setelah Idul Fitri Kang Abdul dan keluarganya akan datang kembali untuk secara resmi melamarku dan seminggu setelahnya akan diadakan akad nikah.
Setelah selesai berbuka dan salat magrib dilanjukan salat Isya dan tarawih Abdul Halim dan keluarganya berpamitan. Diantar oleh Abi dan Umi sampai pintu gerbang Pesantren. Aku kembali membimbing santriwati memberikan materi tajwid.

”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?”

  ”MASKER DARI KAIN PERCA, EMANG BISA?” (Part 2 tamat) Seminggu telah berlalu. Peserta didik kelas delapan kini kembali bertemu. Mereka memb...